
Setelah 10 menit Harun keluar dari kamar mandi dengan wajah masamnya, ia berjalan dengan malas menuju lemari, mengambil kaos dan celana pendek lalu kembali ke kamar mandi.
Ica yang memperhatikan suaminya itu merasa sangat bersalah, ia sadar Harun adalah pria normal, ia juga memiliki hasrat dan nafsu yang sama seperti pria pada umumnya.
Namun ia masih tidak mampu menjanjikan hubungan yang lebih jauh pada suaminya, dan sungguh keberuntungan baginya karena hingga saat ini Harun belum merenggut mahkotanya.
Hingga malam tiba, Harun masih terlihat membisu, tidak biasanya dia hanya berdiam seperti itu. Tidak ada obrolan apalagi candaan.
Bahkan setelah sholat isya ia langsung naik ke ranjang, dan tidur dengan posisi memunggungi Ica.
"Mas Harun, apa kamu marah padaku ??" Tanya Ica lembut di balik punggung suaminya. Namun yang di tanya sama sekali tidak merespon.
"Mas, bicaralah !! Jangan membuatku menjadi canggung seperti ini. Jangan membuatku merasa sendiri di rumah baru ini. " Lanjut Ica dengan suara yang mulai bergetar.
Harun menyadari kediamannya. "Shitt, Harun... apa yang kau lakukan." Harun merutuki dirinya.
Ia segera berbalik menatap sendu wajah gadis di hadapannya, mata Ica sudah memerah mencoba menahan tangisnya.
"Maafkan aku !! Fikiranku hanya sedikit kalut, aku tidak bermaksud bersikap seperti ini padamu." Jelas Harun lembut mengusap pipi istrinya.
"Jangan menangis .." Lanjut nya, saat melihat cairan bening yang sedari tadi tertahan mulai mengalir berjejak di pipi istri kecilnya.
"Aku sangat tidak suka jika di diami seperti ini." Protes Ica dengan suara manjanya.
"Maafkan aku, Tidurlah !!" Harun memeluk tubuh Ica, mengusap lembut kepalanya, berharap Ica akan melupakan perilakunya barusan.
Mas.. ??
"Mmm !!" Jawab Harun dengan deheman, tangannya masih sibuk membelai rambut Ica.
"Maafkan aku, ku mohon bersabarlah !!" Pinta Ica dengan suara sendunya, Harun lalu menghentikan aktifitasnya dan sedikit mendorong tubuh Ica, menatap lamat manik mata itu.
"Maksud kamu ??" Harun bertanya dengan heran.
__ADS_1
Hubungan kita, bisakah mas Harun sedikit bersabar ??
Harun tersenyum mendengar kalimat itu, " sayang... Tenanglah !! Aku tidak akan melakukannya, aku akan menunggu hingga tahap itu terjadi karena rasa cinta. Jadi tenanglah, karena aku tidak akan pernah memaksamu melakukannya. “ Jelas Harun lembut menangkup wajah Ica.
"Tapi aku sudah mencintaimu." Ica berucap dengan pelan, merasa ragu atas apa yang di ungkapkannya.
Harun terkesiap mendengar kalimat itu, spontan ia mendudukkan tubuhnya. Menatap Ica denagn tatapan penuh tanya. Ica lalu ikut - ikutan duduk saat melihat Harun yang tiba - tiba saja terduduk.
"Ya Allah, aku enggak salah dengarkan ??" Gumamnya.
"Kamu ngomong apa tadi ??" Tanya Harun ragu.
*Saat aku berkata, hati ini hanya cintaimu.
Apa kau akan percaya ??
Saat aku berkata, cinta ini telah lama tumbuh di hatiku.
Apakau juga akan percaya ??
Dan ku tahu hati ini tak pantas cintaimu..
Tapi aku tidak ingin, artiku di hatimu hanya sebagai seorang teman.
Karena ku tahu rasa sayangku padamu, tidak hanya sebatas itu, dan ku harap kau percaya itu*. Ica berkata dengan lirih.
"Aku sudah mulai mencintaimu mas, maaf jika aku sudah menodai pertemanan kita dengan perasaan ini." Sesal Ica tertunduk pilu.
Harun begitu terharu atas apa yang di katakan istrinya, rasanya ia sulit untuk percaya, jika ternyata istrinya itu pun telah mencintainya.
"Kenapa kamu minta maaf ??" Harun meraih dagu Ica, mencoba membuat gadis itu untuk menatapnya.
"Aku takut kamu akan membenciku, perasaanku... Dan pertemanan kita..
__ADS_1
Aku sungguh tidak berharap balasan darimu, aku hanya tidak bisa lagi menahan perasaan ini."
Harun malah tersenyum puas mendengar penuturan Ica. Betapa bahagianya ia karena cinta nya ternyata bersambut. Ia bahkan sempat ragu Ica akan mencintainya.
Harun memeluk tubuh Ica erat, meluapkan rasa syukurnya dengan berulang - ulang mengecup kepala istrinya itu dan berterima kasih padanya. Ica merasa Heran dengan sikap Harun, Fikirnya Harun justru akan marah dan membencinya.
Tapi Harun justru bersikap seolah ia tak ingin kehilangan dirinya.
Ica melepaskan diri dari pelukan suaminya, menatap mata Harun intens, "kenapa tak nampak kekecewaan di matanya ?? aku justru melihat kebahagiaan di mata itu."
"Kenapa kamu malah menangis ??" Ica mengusap air mata Harun yang tiba - tiba saja menetes.
Harun menggelengkan kepalanya, tersenyum mengusap pipi Ica. "Mas Harun sangat mencintaimu."
"Apa ??" Betapa terkejut nya ia mendengar kalimat itu.
"Bodoh, jadi kecemasanku selama ini ?? astaga Ica, sungguh kau telah menyia - nyiakan waktumu dengan kesedihan yang tak beralasan." Perang batin Ica.
Jangan bercanda mas, jangan menghiburku dengan bualan seperti itu.
Aku serius !!
"Hah ?? Se- sejak kapan ??" Tanya Ica ragu.
"Sejak kita mulai di jodohkan." Jawab Harun dengan tersenyum penuh arti.
Ica berfikir dengan keras, "sejak mulai di jodohkan ?? apa waktu mereka berkunjung kerumah yah ??" gumam Ica.
"Maksud mas Harun ??" Akhirnya ia bertanya untuk memperjelas nya.
..
..
__ADS_1
..
..