
Pagi ini Ica benar - benar menghindari suaminya, setelah sholat subuh ia sudah menyibukkan dirinya di dapur dan membersihkan seisi rumahnya.
Bukan karena ia marah, namun ada perasaan canggung dan malu yang membayangi nya.
Malam yang panjang semalam membuat fikiran - fikiran polosnya berkelana kemana - mana, ia bahkan merasa sangat malu menampakkan wajahnya di depan Harun.
****
Di dalam kamar..
Harun masih saja bermalas - malasan di atas tempat tidur.
Harun meraba - raba sisi kiri tempat tidurnya, merasa tidak menemukan apapun ia lalu berusaha membuka matanya paksa.
“Kemana dia ??" matanya lalu menerawang seisi kamar namun tak juga mendapati kehadiran istrinya, ia lalu beralih melihat jam di dinding.
"Astaga, berapa lama dia akan menghabiskan waktu untuk membuat sarapan." Harun merasa kaget dua jam ia sudah tertidur namun Ica belum juga kembali dari dapur.
Harun terus saja menatap ruang hampa di sampingnya, senyumnya tak pernah memudar membayangkan apa yang di lakukannya semalam.
"Mmm, kamu begitu manis khaliesahku, aku benar - benar semakin tergila - gila padamu," gumam Harun yang tak hentinya tersenyum memeluk guling.
Menunggu Ica yang tak juga kembali, dengan berat Harun beranjak dari lamunannya, ia memutuskan menghampiri istrinya yang begitu betah meninggalkannya.
__ADS_1
"Sayang..., kok kamu malah ngepel gitu ??" teriak Harun yang masih berdiri di ujung tangga, ia lalu mengedarkan pandangannya k seisi ruangan. “Kamu beresin rumah sendirian ??“ dengan langkah cepat Harun meraih alat pel di tangan istrinya.
Astaga sayang, kamu itu kurang istirahat semalam, badanmu juga pasti sangat lelah, kenapa kamu malah membersihkan rumah sendirian, kenapa kamu tidak membangunkan aku ??
Ica hanya menunduk mendengar perkataan suaminya, "ahh, kenapa dia harus kesini sih, aku benar - benar sedang tidak ingin di tatap olehnya," gumam Ica.
Astaga, apa dia marah lagi karena aku membombardirnya dengan banyak pertanyaan ?? Harun
Merasa telah salah bicara, Harun menangkup pipi Ica, mengangkat wajah itu agar bisa di tatapnya, "maaf sayang, mas Harun tidak marah kok, mas hanya mencemaskan dirimu."
Ica mencoba memalingkan wajahnya yang sudah merona akibat tatapan suaminya, "iya aku tahu, siapa juga yang menganggapmu sedang marah."
Melihat wajah Ica yang memerah, membuat Harun tersenyum jahil, ia lalu mengecup singkat bibir istrinya, "kenapa kamu tidak ingin melihat mataku, hem ??" goda Harun.
"Aku hanya sedang meluapkan rasa cintaku," kalimat yang di bumbuinya dengan senyum nakal, ia terus saja mencoba menerobos untuk menciumi bibir tipis istrinya.
"Mas hentikan, jangan membuatku semakin malu, sarapan sana !!“ Ica mendorong paksa tubuh suaminya.
Mendapat aksi penolakan membuat Harun memeluk tubuh Ica dengan erat, ia seakan enggan untuk berpisah dengan istrinya walau hanya untuk sesaat.
"Sudahlah jangan mengusirku terus, atau tenagamu akan habis."
Sudah tahu tenagaku bisa habis, kenapa kamu malah semakin menyiksaku, heh ??
__ADS_1
Astaga sayang, aku hanya memelukmu, bukan menyiksamu. Lagi pula kenapa kamu harus malu melihatku ??
Tidak, aku tidak malu, siapa bilang aku malu, heh ?? Dasar, kamu selalu saja mengambil kesimpulan sesuka hati.
Heii, heiii itu kalimatku untukmu, jangan menirunya. Wajahmu memerah sayang, kamu juga menghindari menatap mataku, apa itu bukan malu namanya ??
Ica langsung memelototkan matanya, "nih, nih aku lihat kamu kok, sekarang apa lagi, heh ??" katanya dengan nada kesal. Suaminya itu benar - benar selalu bisa membuat hatinya dongkol.
“Hahaha, wajahmu sangat lucu, sudah ku bilang jangan memasang wajah lucu seperti itu, atau aku akan semakin tergila - gila padamu." Harun mencubit gemas pipi berlubang itu, lalu mendaratkan banyak ciuman di bibir Ica.
"Mas......." rengek Ica memanyunkan bibirnya.
"Iya, maaf !!" Harun melepaskan pegangannya, mengangkat kedua tangannya ke udara. "Aku akan berhenti menggodamu, jadi berhentilah merajuk seperti itu."
Hehh, dasar cowok aneh, Tuhan... Kenapa aku harus menikahi lelaki yang berkepridian ganda sepertinya, menyebalkan !!
..
..
..
..
__ADS_1
..