
Kekesalan akan kejadian semalam masih menyelimuti hati dan fikiran kedua manusia yang saat ini sedang duduk di meja makan, mereka berdua menyantap sarapannya dalam keheningan.
Yahh, meskipun Ica masih kesal dengan kelakuan Harun, ia tidak pernah melalaikan tanggung jawabnya untuk melayani kebutuhan suaminya, "cemburu bukan berarti dia harus mogok masak, " begitu fikirnya. Meskipun tidak di pungkiri jika hatinya masih dongkol, apa lagi melihat sikap Harun yang tidak terlihat bersalah dengan kelakuannya yak sok tampan dan kecentilan dengan wanita di pesta semalam.
"Ya Tuhan... kenapa dia sungguh menyebalkan!! enggak tahu apa istrinya sedang kesal, emang dasar yah manusia es, enggak ada peka - pekanya sama istri, " gumam Ica melirik kesal pada lelaki di hadapannya.
"Kenapa diam?? " akhirnya Harun membuka suara.
"Kamu juga diam, makanya aku diam, " jawab Ica dengan malas.
Harun mendengus kesal mendapat jawaban seperti itu dari istrinya, ia memutuskan melanjutkan makannya tanpa ingin bicara lagi.
****
Sebulan berlalu, kecemburuan itu akhirnya terkubur dengan sendirinya, merasa tidak melakukan kesalahan mereka berdua pun tidak pernah menjelaskan apapun.
Lagi pula Ica bukanlah type orang yang selalu membesar - besarkan masalah, "mungkin wanita itu hanya teman biasa baginya jadi tidak penting untuk Harun membahasnya, " begitu fikir Ica.
Dan Harun, mengabaikan kecemburuannya setelah beberapa minggu lalu Tama keluar negeri, ia tidak ingin membahas apapun lagi soal lelaki itu, Harun tidak ingin memperburuk hubungannya dengan istri kecilnya itu.
"Kamu kenapa sayang?? kok pucat begini, " Harun menghampiri istrinya yang baru saja keluar dari kamar mandi, ia lalu menyentuh kening Ica berusa merasai suhu tubuh istrinya.
Dengan sigap Harun memapah Ica untuk berbaring di atas ranjang, "Tunggu sebentar yah sayang, mas akan menghubungi Dokter, " baru saja Harun ingin beranjak, Ica sudah menahan tangannya
"Aku tidak apa - apa mas, " dengan pelan Ica mendudukkan tubuhnya, memejamkan mata mencoba menyeimbangkan kepalanya yang serasa berputar.
__ADS_1
"Berapa kali mas harus memberitahumu, jangan pernah menahan rasa sakitmu. Ica... kamu tidak boleh menyepelekan rasa sakit yang kamu rasakan. "
"Aku serius mas, aku baik - baik saja. Sekarang ayo kita sarapan, " Ica turun dari ranjang, mendorong paksa tubuh suaminya agar segera keluar dari kamar, "Aku sungguh sangat lapar, " imbuhnya.
Dengan pasrah Harun menuruti kemauan Ica dan segera menuju ke meja makan.
"Hari ini kamu enggak usah ke kampus dulu, " Harun berkata dengan tegas.
Seketika Ica meletakkan sendok yang di pegangnya dengan kasar, "mas... kok gitu sih, hari ini aku ada kuis, masa bolos!! " Ica merajuk dengan manjanya.
"Sayang... kamu sedang tidak sehat, lebih baik kita ke rumah sakit dari pada kamu ke kampus. "
"Mas Harun..... " wajah Ica mulai memelas.
Setelah perdebatan yang cukup panjang, dengan berat hati Harun mengizinkan istrinya untuk kuliah, imannya sungguh goyah jika Ica sudah memohon dengan wajah manisnya itu.
****
"Ada apaan sih Cha' kok rame banget, " Dita menghentikan langkahnya, melirik ke arah ruang Dekan yang sudah di penuhi para gadis.
Ica mengangkat kedua bahunya, "entahlah!! " katanya, kemudia berlalu menuju ruangannya.
Kedua mata Dita tak lekat memandangi ruangan itu, merasa penasaran dengan sesuatu yang membuat orang - orang berkumpul seperti itu,
Dengan berat hati ia mengejar Ica yang sudah meninggalkannya.
__ADS_1
"Kok pergi, penasaran tauk!! " kesal Dita.
Yah lagian kamu, ngurusin sesuatu yang enggak penting. Sudah tau dua jam lagi ada kuis, masih mau kepo dengan urusan orang.
Dita mendengus kesal, masih pagi dirinya sudah mendapatkan ceramah dari wanita yang sungguh tidak pernah ingin bergaul itu.
"Cha... " Dita menepuk - nepuk lengan sahabatnya, matanya masih menatap keluar jendela melihat pemuda yang kini berjalan menuju ruangannya, tanpa sadar cairan bening mulai menetes berjejak di pipinya.
"Kamu kenapa Ta? " Ica sungguh terkejut melihat Dita yang tiba - tiba menangis, ia lalu mengikuti arah pandang sahabatnya itu. "Danu!! " lirihnya, seketika ia menggenggam tangan Dita, mencoba menenangkan sahabatnya yang masih keget dengan kehadiran orang yang begitu dirindukannya.
"Assalamu alikum cewek manja... " Danu kini sudah berdiri di hadapan Dita dan Ica. Dengan cepat Dita mengusap pipinya yang basah.
Dita mendongakkan kepalanya, terdiam!! matanya menatap sendu ke arah pemuda di depannya, berusaha meyakinkan dirinya sendiri, jika yang kini berdiri tegak di depannya adalah benar orang yang begitu di rindukannya. "Wa'alaikum salam, " lirihnya.
Danu mengalihkan tatapannya pada Ica, tersenyum hangat menyapa gadis yang pernah mengisi hatinya itu, "Haii, kamu apa kabar?? " tanya Danu setelah mendudukkan tubuhnya menghadap kedua wanita itu.
"Alhamdulillah baik kok, " jawabnya dengan tersenyum, lalu segera memalingkan matanya ke arah Dita.
"Tatapan hangat itu!! Ica... apa aku harus mengikhlaskanmu pergi dulu agar kamu bisa sehangat ini padaku," gumam Danu..
..
..
..
__ADS_1
..