
Dita POV...
Karena merasa putus asa tidak bisa mengabari Ica, akhirnya Dita memutuskan menghubungi Harun. Namun sayang, ponsel suami sahabatnya itu selalu saja di luar jangkauan.
Akhirnya atas saran dari Danu, Dita memutuskan mendatangi rumah sahabatnya,
"Kok enggak turun sih Nu'?" protes Dita saat Danu tak juga beranjak dari motornya.
"Kamu saja yang masuk, aku tidak ingin mencari keributan." Masih jelas terngiang di kepala Danu bagaimana emosinya Harun saat melihat dirinya. Danu tidak ingin menambah beban pada wanita lugu yang pernah di cintainya.
Akhirnya Dita mengiyakan, namun setelah berkali - kali memencet bell, mengetuk pintu dan meneriaki nama sahabatnya Dita tidak mendapatkan respon apapun.
"Kayaknya lagi enggak ada orang Nu'." ujar Dita menghampiri Danu kembali, sesekali kepalanya masih menoleh ke arah pintu rumah Ica.
"Terus?"
Dita menaikkan bahunya, "entahlah," katanya pasrah, masih terserlip keinginan yang besar di hatinya untuk bisa menyelesaikan masalah ini dengan sahabatnya.
"Mau aku antar ke kantor suaminya saja?" usul Danu saat melihat Dita yang sudah tertunduk lemas.
"Kamu enggak keberatan?" menegakkan kembali kepalanya, menatap penuh binar pada lelaki di hadapannya.
"Yahh kalau kamu mau dan kamu tau alamatnya."
Dita mengangguk dengan begitu cepat, ia segera naik ke atas motor. Danu melajukan motornya sesuai arahan Dita.
"Mbak apa saya bisa bertemu dengan pak Harun Assegaf?" tanya Dita pada wanita yang berdiri di balik meja reseptionis.
Sang wanita meliriknya sesaat, "Apa anda sudah membuat janji?" tanyanya kemudian.
"Belum sih, tapi apa mbak bisa menghubungi pak Harun dan memberitahu kedatangan saya." berkata dengan penuh harap.
Setelah membujuk cukup lama, wanita itu akhirnya menelpon Dito (Asisten Harun). Dan sang wanita meminta Dita untuk menunggu sebentar, karena Dito kebetulan sedang menuju lobby.
"Siapa yang ingin bertemu dengan pak Harun? " tanya Dito saat baru saja sampai di meja Reseptionis.
__ADS_1
"Itu pak." menunjuk sopan pada Dita yang sedang duduk menunggu.
Dito menyipitkan matanya, berusaha memastikan apa yang di lihatnya tidak salah.
"Dita... ngapain loe di sini?" tegur Dito berjalan mendekat saat membenarkan dirinya tidak salah orang.
"Abang? loe sendiri ngapain di sini. " menunjuk Dito tak percaya.
"Yehh sih kunyuk, ini kan tempat kerja abang."
"Emang iya yah, kok gua enggak tau." memasang wajah kaget sok lugu.
Dito lalu melirik ke arah Danu yang ikut - ikutan berdiri di belakang Dita.
"Teman gua bang, kenalin." Dito dan Danu pun saling mengulurkan tangan memperkenalkan Diri.
Yah tak pernah ada yang tahu jika Dita dan Dito adalah saudara, bahkan Ica. Karena sejak lulus sekolah Dito lebih memilih tinggal di Apartemen, ia hanya berkunjung ke rumah orang tuanya di saat hari libur. Dita sering mengatakan jika ia memiliki kakak laki - laki, namun tak sekalipun Ica pernah bertemu dengan saudara sahabatnya itu.
"Ohh iya, loe ada urusan apa mau ketemu Harun. Loe kenal dia emang?"
"Ica?" mulut Danu menganga tak percaya, "Jadi istrinya Harun si Ica sahabat loe itu. " Masih belum bisa mempercayai kenyataan. Ternyata Dunia memang tak selebar daun kelor.
Akhirnya Dita menjelaskan masalahnya pada Dito kakaknya, Itulah yang selalu di lakukan gadis cantik itu, hubungannya dengan Dito memang tidaklah terlalu harmonis. Tapi mereka itu sangat dekat, Dito selalu bisa menjadi teman yang baik untuk adiknya.
"Harun lagi ada pertemuan di salah satu restoran di Mall. Katanya loe boleh nyusul kesana kalau mau. Loe mau gua temenin?" kata Dito setelah mengakhiri panggilannya.
"Enggak usah bang, ada teman gua kok."
Danu dan Dita meninggalkan perkantoran itu dan segara menuju ke tempat yang sudah di sampaikan Dito.
Di restoran itu, Dita melihat Harun sedang berbincang dengan seorang wanita, ia lalu segera menghampirinya. Sementara Danu memilih duduk di tempat yang jauh, agar dirinya tidak usah saling bertatap muka dengan Harun si pemarah itu.
***
"Aaaaa... " teriak Ica dengan kencang saat melihat sebuah mobil yang tiba - tiba berhenti mendadak. Tiba - tiba saja dia sudah ambruk di aspal dan tak sadarkan diri.
__ADS_1
Orang - orang di sekitar yang sedang lalu lalang dengan cepat mengerumuni Ica untuk melihat kondisinya.
Seseorang dari mobil itu lalu segera turun melihat kondisi wanita yang hampir saja di tabraknya.
"Astagfirullah dek, dek bangun dek kamu kenapa." Panik Tama saat melihat wanita yang hampir di tabraknya adalah adiknya.
Suara riuh orang yang berkerumun semakin menambah panik raut Tama. "Pak tolong saya buka pintunya. " pinta Tama lalu mengangkat tubuh gadis kecilnya ke dalam mobil.
Para kerumunan itu perlahan membubarkan diri saat Tama melaju dengan kecepatan tinggi.
"Dek bangun, kamu kenapa dek." masih mencoba mebangunkan Ica, sesekali satu tangan Tama menepuk - nepuk pipi gadis kecilnya. Namun sayangnya ia tak mendapat respon apapun.
Sesampainya di Rumah Sakit perawat menuntun Tama agar segera membawa Ica ke UGD. Tama lalu mencari ponsel Ica agar ia bisa segera menghubungi suami adiknya. Namun sialnya ponsel yang di gunakan Ica justru ponsel suaminya. Akhirnya Tama menghubungi kantor Harun, setelah itu ia kembali menghubungi orang tua Ica.
**
Setelah mendapat kabar tentang Ica, Dito kembali menghubungi ponsel kantor yang di bawa Harun dan segera menyampaikan kabar yang baru saja di terimannya.
Dita dan Gladys yang saat itu sedang duduk bersama Harun sangat terkejut ketika melihat lelaki itu tiba - tiba saja berdiri dengan kasar, wajahnya terlihat memucat.
"Ada apa mas?" tanya Dita penasaran.
"Iya kamu kenapa, siapa yang menghubungimu." timpal Gladys yang juga penasaran.
"Ica." Lirihnya dengan suara yang bergetar. Harun tak mendengar apa pun lagi dengan cepat ia berlari meninggalkan tempat itu.
Dita yang ikut - ikutan panik karena mendengar nama sahabatnya di sebut, ikut berlari menyusul Harun.
"Dita kamu mau kemana? " teriak Danu yang melihat Dita tiba - tiba saja berlari.
"Ica,.." ucapnya sambil tetap mengikuti Harun.
Dita segera naik ke atas motor Danu, Meminta Danu untuk mempercepat laju motornya, Dita sangat panik melihat Harun yang mengemudi begitu cepat. Kepalanya tiba - tiba di hantui dengan hal - hal buruk yang mungkin saja terjadi pada sahabatnya.
Sementara Gladys, wanita itu masih duduk di tempat yang sama.
__ADS_1