
Kok mas Harun belum turun ?? Heh, pasti dia sibuk kerja lagi deh. Kebiasaan !!
Ica mengambil sepiring nasi goreng lalu ia tata dengan secantik mungkin, "umm, perfect !! semoga saja dia menyukainya." Dengan bahagia ia membawa sarapan itu ke kamarnya.
"Hehhh, sudah ku duga, " gumam Ica saat baru membuka pintu.
"Mas sarapan dulu, " Ica menghampiri Harun yang sedang sibuk dengan berkas di tangannya.
Harun tidak merespon panggilan istrinya, dia tetap sibuk dengan berkas - berkas itu.
"Mas..." Ica menarik lengan Harun dengan manja. Namun sepertinya hal itu tetap tidak membuat Harun bergeming.
Ica terdiam, terlihat dia sedang memikirkan sesuatu.
Astaga, semalam kan dia juga seperti ini. Ica... berfikir...berfikir... kesalahan apa yang kamu lakukan kemarin.
Namun sekeras apapun Ica mencoba mengingat, ia sama sekali tidak tahu kesalahan apa yang telah di lakukannya hingga membuat Harun mengabaikannya seperti ini.
"Mas, kamu marah ?? Kenapa kamu terus saja mengabaikanku ??"
Harun tetap saja tidak menjawab, ia hanya melirik Ica sekilas dengan tatapan membunuhnya lalu kembali sibuk dengan berkasnya.
"Heh, tatapan itu lagi ?? Beginikah arti cinta baginya ?? Mana ada pria yang menatap orang yang di cintainya Dengan tatapan membunuh seperti itu."
Ica melirik sejenak ke arah Harun, sudut bibirnya sedikit terangkat, nampak seringai jahil dalam tatapan itu.
Ica berjalan menjauh dari Harun, sebelum sampai ke tempat tidur, tiba - tiba saja ia berjongkok.
"Awww,, "pekik Ica memegang perutnya.
Harun yang mendengar rintihan istrinya segera berlari menghampirinya.
"Kamu kenapa sayang ?? Apanya yang sakit ??" Tanya Harun begitu paniknya, dan segera mengangkat tubuh Ica ke atas ranjang.
Harun mengecek suhu tubuh Ica, merabah perut yang terus saja diremasnya, Harun benar - benar takut melihat istrinya yang menutup mata seolah menahan rasa sakit.
Ica membuka sedikit matanya, berusaha melihat wajah suaminya. Melihat kepanikan Harun benar - benar membuatnya merasa bersalah.
__ADS_1
"Ya Tuhan apa yang ku lakukan, maafkan aku mas Harun, aku tidak bermaksud membuatmu khawatir seperti ini, " gumam Ica menggigit kecil bibirnya.
"Sayang, sakit sekali yah, mas panggilkan dokter yah ?? " ucap Harun sambil terus mengusap perut Ica.
"Ehh ?? Tidak mas, tidak usah !!" Jawab Ica panik.
Jangan sampai dia memanggil dokter, atau kebohongan ku akan terbongkar.
Tapi kamu begitu kesakitan ??
Tidak mas, perutku hanya sedikit kram, aku memang biasa mengalaminya saat sedang datang bulan. Sebaiknya sekarang mas ke kantor, ini sudah siang.
ku mohon pergilah, atau aku akan semakin merasa bersalah dengan drama ini.
"Aku tidak akan ke kantor, istirahatlah, mas akan menemanimu di sini, " lirih Harun mengusap kepala Ica.
Hehh, Ica apa yang sudah kau lakukan. Tamatlah riwayatmu.
"Aku tidak apa - apa mas, sebaiknya kamu ke kantor sekarang, " pinta Ica sedikit memaksa.
Namun Harun yang tak bergeming membuat Ica akhirnya menyerah, ia pun memaksa matanya agar segera tertidur, sesuai perintah Harun.
Calling..
"Bun, apa perut Ica memang sering kram saat datang bulan ?" Tanya Harun lewat pesawat telepon itu.
"Iya nak, perutnya memang sering kram, kenapa memangnya ??" Lidya
"Hmm, dia sedang datang bulan bun, ohh iya bun obat apa yang biasa Ica minum untuk menghilangkan rasa sakitnya ?"
"Haha, Ica tidak suka minum obat nak, bunda biasanya hanya mengompres perutnya dengan air hangat."
"Mmm, ya sudah bun Harun tutup teleponnya yah, Harun ingin mengompres perut Ica dulu."
Harun menutup panggilan itu saat Lidya sudah membalas salamnya.
Harun segera ke dapur mengambil teko, mengisinya dengar air lalu segera memasaknya
__ADS_1
Den, sedang apa ?? Ada yang bisa bibi bantu ??
"Ehh, bibi masih di sini ?? Tidak ada kok bik, aku hanya merebus air," Kata Harun menunjuk ke teko.
"Den, bibi sudah selesai beberes, bibi juga sudah masak untuk makan siang nanti, apa bibi sudah boleh kembali ke rumah Nyoya. " tanya bik Nah ragu.
Iya kalian boleh pulang, mama dan bunda juga pasti menunggu kalian. Terimakasih yah bik atas bantuannya.
Bik Ipah dan bik Nah lalu bergegas pulang setelah bercakap dengan Harun.
******
Ica terbangun saat merasakan sesuatu yang hangat dan basah berada di perutnya, ia lalu meraih benda itu. "Handuk ??" gumamnya.
Ehh sayang kamu sudah bangun ?? Bagaimana perutmu, apa masih sakit ??
"Sudah enakan kok mas, terimakasih, " kata Ica mengangkat handuk.
Ya Allah, sungguh jahatnya diriku mengerjainya seperti ini.
"Mas,, Apa kamu marah padaku ??" Ica mengalihkan pembicaraan, berusaha mengabaikan perbuatannya.
Tidak !!
"Iya aku sangat marah padamu gadis kecil, berani - beraninya kamu memeluk seorang pria di depan mataku." Teriak Harun dalam hati.
"Heh, kenapa mood nya selalu saja berubah - ubah." Ica
Lalu kenapa dari semalam kamu mendiamiku ??
Aku tidak mendiami mu, istirahatlah, aku masih banyak pekerjaan.
Harun bangkit dari duduknya, berjalan menjauh dari Ica.
Brukkk,,
..
__ADS_1
.
.