Harun Untuk Khaliesah

Harun Untuk Khaliesah
keputusan ica


__ADS_3

"Sayang makan malam dulu yuk, ayah sudah nunggin di bawah, sayang..." Panggil bunda Lidya mengetuk pintu kamar Ica.


Ica pun keluar dari kamar, Lidya hanya tersenyum dan membelai lembut rambut putri kecilnya itu.


Suasana dimeja makan pun hening.


"Nak, ayah mohon lupakan semuanya anggap saja ayah tidak pernah mengatakan itu, ayah sangat rindu melihat Ica yang dulu." Herman membelai lembut kepala putrinya berharap tidak ada lagi kesedihan yang terpancar di wajah putri kecilnya itu.


"Ayah...., bunda...." Ucap Ica lirih kepalanya tertunduk, tangannya mengepal erat di bawah meja.


Herman dan Lidya pun menatap Ica, mencoba membaca apa yang di pikirkan putri mereka.


"Ica SETUJU."


Begitu sulit kalimat itu terlontar dari mulutnya.


Ica sudah berfikir cukup matang sudah seminggu lebih dia berkutat pada hati dan perasaanya.


Ica yakin keputusan ini adalah jawaban dari Allah atas kegundahannya.


Ica tidak ingin menyakiti siapapun dengan penolakannya.


Herman dan Lidya membulatkan matanya saling menatap kemudian balik menatap Ica, mereka berdua begitu terkejut dengan apa yang di sampaiakan putrinya itu.


"Nak !!" Herman dan Lidya menggenggam erat tangan Ica.


Jangan memaksakan sesuatu yang tidak bisa kamu terima, ayah dan bunda tidak ingin kamu terluka.


"Ini keputusan Ica yah,, Ica sudah memantapkan hati Ica dan inilah jawabannya." Bibir Ica terasa bergetar mengatakan semua itu namun Ica yakin apapun keputusunnya insha Allah itu atas ijin Allah.

__ADS_1


Herman sungguh tidak tega dengan putrinya namun juga tidak bisa ia pungkiri ada perasaan bahagia di hatinya.


Terima kasih sayang, Herman dan Lidya memeluk Ica sembari mengecup keningnya.


Ica hanya tersenyum tipis, ada kegundahan yang menyelinap di hatinya.


Ayah yakin nak putra dari om Wirawan akan menjadi imam yang baik untukmu, ayah sudah sering bertemu dengannya dan dia terlihat lembut dan bijaksana.


"Dia ganteng loh nak." Lidya tersenyum menyenggol lengan Ica, berusaha menghibur putrinya.


Namun Ica tetap membisu, ia hanya menatap wajah ayah dan bunda sekilas, nampak kebahagiaan terpancar di mata itu.


***Tak peduli jika berat bibir ini mengukir senyum


tak peduli jika hati ini harus hancur tercabik keputusasaan


yang ku tahu menatap bahagia di wajahmu


adalah hal yang mampu mengalahkan segala keresahanku


engkau adalah bahagia ku


engkau adalah tujuan hidupku


surgaku hanyalah bahagia mu**


ayah.... bunda....


hidupku hanyalah untuk kebahagiaan kalian*..

__ADS_1


------------------


Di sekolah..


Suasana kelas begitu riuh, para siswa mencoba untuk saling menenangkan,


begitu gelisah mereka semua menantikan guru datang menyampaikan kabar kelulusan.


"Ica aku deg degan banget, pegang nih cha tangan ku sudah keringat dingin begini." Dita menggenggam tangan Ica.


Iyah aku juga khawatir, jantungku rasanya ingin lompat keluar ini.


Seorang guru pun masuk dan membagikan sebuah amplop. guru tersebut menginstruksikan agar tak membuka amplop tersebut sebelum beliau menghitung sampai 3.


satu....


dua....


tiga...


buka. sang guru pun menghitung dengan semangat dan antusias melihat expresi sang murid.


Dan seketika ... ruangan itu pun penuh sorakan bahagia para murid yang saling berpelukan setelah melihat kata LULUS yang tertulis di secarik kertas itu.


tak sempat mereka membaca apa saja isi kalimat itu, mereka hanya terfokus pada kata yang sengaja di cetak tebal.


Ica dan Dita tak hentinya saling berpelukan hingga gumpalan air yang tertahan di mata mereka pun merembes membanjiri pipi.


----------------

__ADS_1


__ADS_2