Harun Untuk Khaliesah

Harun Untuk Khaliesah
tergoda


__ADS_3

Dua minggu sudah berlalu.


Akhirnya hari ini tiba hal yang begitu sangat di nantikan Harun, Ia memboyong istri tercintanya tinggal di rumah yang sudah di siapkannya.


Herman dan Lidya mengantarkan kedua anaknya dengan perasaan bahagia.


"Yakin kalian tidak ingin kami mengantar??" Herman kembali memastikan sebelum anaknya masuk ke dalam mobil.


Tidak yah, kami tidak ingin merepotkan. Lagi pula, besok kalian semua kan akan datang untuk acara syukuran.


"Baiklah nak, jaga diri kalian baik - baik. Ayah dan bunda harap kalian akan selalu saling bahu - membahu menjalani kehidupan baru kalian ini. Jika ada masalah, maka selesaikanlah dengan kepala dingin." Lanjut Herman memberikan wejangan.


Mereka lalu kembali bergantian berpelukan, sesaat sebelum Harun benar - benar melajukan mobilnya meninggalkan rumah mertuanya.


---


Di rumah baru..


Harun berdiri mematung menatap tak percaya setiap sudut rumahnya. "Ya Allah, terimakasih atas segala kemudahanmu, terimakasih karena engkau memberi jalan untukku lebih dekat dengan istriku.


Aku sungguh tak percaya akan tinggal di sini... bersamanya," gumam Harun menatap sendu ke arah istrinya.


Ica mendongak menatap wajah sendu Harun. "Kamu kenapa mas??"

__ADS_1


Harun tak menjawab, ia justru meraih bahu Ica merangkulnya intens lalu menciumi pucuk kepalanya. "Terima kasih sayang, keputusanmu untuk ikut aku tinggal di sini, benar - benar sangat membuatku bahagia."


Aku istrimu mas, kakiku akan selalu mengikuti kemana pun langkah kaki mu pergi. Kamu adalah rumah bagiku, jadi jangan pernah mengkhawatirkan apapun, karena mas Harun akan selalu menjadi tempatku untuk kembali.


Harun menarik tubuh Ica, menenggelamkan tubuh itu ke dalam pelukannya, lalu melayangkan ciuman bertubi - tubi di kepala istrinya. "Terimakasih... terimakasih sayang."


---


Hari yang begitu sibuk, Harun dan Ica bergotong royong membersihkan rumah barunya, mempersiapkan segalanya untuk menyambut keluarga dan kerabatnya esok hari.


Setelah lantai bawah selesai, Harun dan Ica beristirahat sejenak sambil menyantap makan siang yang sudah di pesan Harun melalui aplikasi online.


"Mas, aku ke kamar dulu yah," pamit Ica setelah selesai menghabiskan makanannya.


"Aku akan istirahat setelah semuanya selesai mas, pakaian yang kita bawah belum aku bereskan." Jelas Ica.


"Baiklah!!" Harun berdiri dan menggandeng Ica menuju kamar.


"Mas, enggak usah ikut, istirahatlah. Biar aku yang menyelesaikan ini."


Akan lebih cepat jika kita kerjakan bersama.


Ica memilih diam dan mengikuti langkah suaminya, percuma saja jika ingin berdebat, Harun akan selalu mematahkan semua perkataannya.

__ADS_1


"Hahh, lelahnya!!" Harun dan Ica menghempaskan tubuh ke atas ranjang, merasa sangat bersyukur karena kesibukan hari ini akhirnya selesai.


Seharusnya Ica masih harus ke swalayan membeli segala keperluan untuk di masaknya di syukuran besok. Namun Harun menolak, ia lebih memilih memakai jasa cattering agar istrinya tidak merasa lelah. Ica mengiyakan dengan begitu semangatnya, karena sejujurnya ia juga merasa lelah.


"Mas, aku mandi duluan yah??" Ica segera berlalu ke kamar mandi. Begitu lama ia berendam di dalam bathtup, mengistirahatkan sejenak tubuhnya dalam air hangat itu.


Dua puluh menit kemudian Ica keluar dari kamar mandi, tubuhnya terbalut piyama mandinya dengan handuk kecil yang membungkus rambutnya.


Harun menelan salivanya kasar melihat istrinya itu, "Masha Allah!!" gumamnya tak berpaling.


"Mas, sebaiknya kamu juga mandi, pasti tubuhmu sudah sangat lengket." Kata Ica tanpa melihat Harun, ia masih sibuk mencari baju yang akan di kenakannya.


Merasa Harun tidak meresponnya, ia pun berbalik dan mendapati Harun yang sedang termangu menatapnya. Ica lalu menatap tubuhnya. "Astagfirullah!! Mas.... apa yang sedang kamu nikmati??" teriak Ica melempar baju yang di pegangnya.


Harun pun gelagapan di buatnya, ia buru - buru beranjak dari kasurnya dan segera ke kamar mandi.


"Astaga... Ya Tuhan sampai kapan aku harus menunggu?? Iman ku sungguh goyah saat melihatnya. Dia benar - benar membuatku... aku argghhh..." Harun melirik ke arah bawahnya, lalu mengusap wajahnya kasar, dia benar - benar merasa frustasi menahan hasratnya.


..


..


..

__ADS_1


..


__ADS_2