
*Bisa mencintaimu adalah anugerah terindah yang pernah ku rasakan
Mungkin ada banyak suka dan duka
Kerikil kecil yang kerap kali memberi sandungan...
Namun aku percaya,
Rasa Cinta yang tulus ini akan selalu menuntun ku untuk bangkit melawan segala hambatan yang membuat cinta kita menjadi retak...
Karena selamanya hati ini hanya untukmu.
Meski Tuhan membuatku bisa mencintai berulang kali,,
Maka ribuan kali pun rasa cinta itu hadir
Namamu lah yang akan selalu menjadi tempatku mencurahkan rasa cinta itu.
Karna cinta adalah aku dan kamu*.
****
Tak ada lagi rasa bahagia yang mampu mendefinisiķan perasaan Ica dan Harun.
Dalam rumah tangga pertengkaran memang akan selalu ada, namun kesalah pahaman yang terjadi di antara mereka berdua adalah sebuah kekonyolan yang seharusnya tak pernah terjadi.
Biarlah... Biarkan kisah kemarin menjadi sebuah pelajaran hidup yang berarti dalam hubungan mereka.
Mulai saat ini yang harus mereka jaga adalah komunikasi, agar tak ada lagi kesalah pahaman yang terjadi.
Namun ada satu hal yang begitu mengganggu fikiran Ica saat ini.
Rasanya Ica mengingat sesuatu tentang salah satu foto yang terpajang semalam. Gambar itu sungguh tidak bisa membuatnya tidur dengan nyenyak.
Harun menggoyangkan pelan kepalanya, merasa silau akan biasan cahaya matahari yang menyelinap di sela gorden yang tersingkap.
Ica tersenyum menatapnya, dengan pelan tangannya bergerak menutupi cahaya dari jangkauan mata suaminya. Posisinya tak berpindah, senyum pun tak surut terukir dari bibirnya, maniknya tak berpaling menatap sosok teduh di hadapannya. Hemmm... sungguh, perasaan nyaman itu tak pernah hilang. Harun memang selalu membuat hati Ica menjadi damai.
Ica tersentak saat tangan Harun tiba-tiba menggenggam tangannya. Menatap suaminya yang masih memejamkan mata.
"Mas Harun." ucapnya dengan begitu manja.
Harun mengambang senyum walau matanya masih saja terpejam, menarik tubuh Ica dan mendekapnya dengan begitu hangat.
"Mas, apaan sih," menggeliat berusaha meloloskan diri.
"Diamlah, mas Harun masih ngantuk."
"Yah kalau ngantuk mah tidur aja, enggak usah meluk - meluk gini. Aku sessak mas..." masih mencoba melepaskan dekapan suaminya.
Namun usaha Ica rasanya sia - sia saja, karena suaminya itu sama sekali tidak memberinya cela untuk lolos.
"Mas Harun..." lirih Ica.
"Hemm?"
"Apa aku boleh bertanya?"
"Hemm."
"Kamu dapat foto - foto yang semalam dari mana."
Harun terdiam.
"Apa foto gadis yang di dompet kamu itu juga aku ?"
Harun belum merespon, dia tetap saja membisu. Sementara Ica terus saja bertanya tentang hal - hal yang begitu mengganggunya.
"Apa dulu kita pernah ketemu, rasanya bunda tidak memiliki foto - foto itu. Lalu dari mana mas Harun bisa mendapatkan semua foto masa lalu aku."
"Mas..."
"Heii jawab." Ica mendorong tubuh suaminya agar bisa menjangkau pandangannya.
Harun mengulas senyum, menatapnya dengan sendu. Lalu kembali menenggelamkan kepala Ica dalam dekapannya.
__ADS_1
"Dulu, hubunganku dengan mama dan papa sempat renggang." Akhirnya Harun mulai bercarita.
"Kenapa?" Tanya Ica tak sabar, ia kembali mendongak menatap mata suaminya. Namun sekali lagi Harun kembali mendekapnya.
"Kamu ingat Gladys?"
Ica menganggukkan kepalanya, bagaimana bisa ia tidak mengingatnya. Gladys lah penyebab kesalah pahaman mereka selama ini. Meskipun hingga saat ini Ica tidak memberitahu Harun mengenai kecemburuannya terhadap Gladys.
"Dulu dia itu kekasihku."
Duarrrr... tubuh Ica makin lemas mendengar pengakuan itu, berarti kecemburuannya kini memanglah beralasan.
"Jadi hubunganmu dengan mama dan papa, renggang hanya karena Gladys." Bertanya dengan suara terendahnya, "Tuhan... kenapa dadaku begitu sessak mengetahui ini." Batin Ica.
"Hemm." Harun malah mengakui. Membuat hati Ica jadi makin hancur saja.
Heii Harun tataplah mata istrimu saat ini, tak bisa kah kau membaca luka yang tersirat dari tatapan sendunya itu.
Hening...
Harun kembali mengenang masa itu, sementara Ica, entah mengembara kemana fikirannya saat ini.
"Aku sangat marah saat mama memberitahuku tentang perjodohan kita." Lanjut Harun, Ica hanya diam mendengarkan.
"Aku enggak bisa terima di zaman modern seperti ini, orang tuaku justru menjodohkanku. Dan lagi mama mengatakan itu padahal ia tahu aku menjalin hubungan dengan Gladys."
"Cukup lama aku mendiami orang tuaku, berulang kali mereka menjelaskan awal perjodohan itu. Tapi tetap saja aku tidak bisa terima, hingga suatu hari papa dan mama membawaku ke rumahmu."
"Benarkah, kamu pernah ke rumah sebelum pertemuan pertama kita waktu itu ?" Tanya Ica tak percaya, ia bahkan tak mengingat pernah bertemu Harun sebelumnya.
Harun tersenyum, "hemm, itu pertemuan kita yang kesekian kalinya."
"Serius???" Menatap mata Harun dengan begitu terkejutnya.
Harun menganggukkan kepala.
"Kamu tahu perasaan aku pertama kali lihat kamu kayak gimana ?"
Ica menatap, menunggu jawaban Harun.
Ica menganga tak percaya. Benarkah Harun dulu sempat membencinya.
"Aku protes sejadi - jadinya sama mama dan papa sepulang dari rumah kamu. Aku enggak terima dong di jodohin sama anak ingusan, yang masih berseragam putih biru."
Ica mengerucutkan bibirnya kesal, bisa - bisanya suaminya itu mengatainya anak ingusan.
"Kamu enak dong tahu tentang perjodohan ini sudah lama." Ada rasa iri yang tiba - tiba menelusup hati Ica. Seandainya dia juga mengetahui ini sejak lama, mungkin ia tidak akan seterputuk waktu itu.
"Hemm." Harun menganggukkan kepala. "Aku jadi bisa lebih belajar mengenal kamu." Singkatnya mengakhiri pembicaraan.
"Mmm, mas Harun lapar." Melepaskan pelukannya, lalu segera beranjak dari tidurnya.
"Mas Harun, kan ceritanya belum selesai." Teriak Ica memberi protes. Namun Harun tak mengindahkan, ia tetap saja membawa langkahnya menuju kamar mandi.
Ica begitu kesal, namun wajah cemberutnya tiba - tiba saja berubah sendu. "Apa mereka putus karena perjodohan itu ??"
"Hehh... apa yang ku harapkan, ia bahkan membenciku sejak lama. Apa mas Harun terpaksa menikahiku?" Lagi - lagi pikiran bodoh melayang - layang mengisi kepala Ica.
****
"Sayang sini!" Panggil Harun ketika baru saja Ica keluar dari kamar mandi.
Ica berjalan menuju balkon, matanya melirik sarapan yang sudah tertata di atas meja. "Kita sarapan di sini?"
"Hem, suasananya lagi bagus." Jawabnya lalu segera menarik tubuh istrinya agar ikut duduk di sebelahnya.
"Kamu kenapa?" Merasa heran, melihat istrinya menikmati makanan dengan begitu malas.
"Kamu lagi enggak mau sarapan bubur ?"
Ica mengulas senyum lalu menggelengkan kepala.
"Terus..." menangkup wajah Ica dengan kedua tangannya, "mukanya masam kayak gini kenapa?" Tanyanya dengan manja sambil menggoyangkan pelan kepala istrinya. "Kamu harus makan sayang, kasih dese bayinya kalau kamu enggak makan." Lanjutnya.
Tiba - tiba saja tersenyum tidak jelas menatap suaminya.
__ADS_1
"Idihh, kamu kenapa yang ?"
"Enggak!"
"Mas... jadi apa yang membuat kamu akhirnya menerima perjodohan ini?" Mengalihkan pembicaraan. Ica benar - benar penasaran tentang kisah Harun tadi.
Harun tersenyum, lalu berjalan menuju nakas. "Dia." Menunjukkan selebaran foto yang baru saja di keluarkannya dari dompet yang di ambilnya di atas nakas.
Kening Ica berkerut menatap heran pada suaminya, sebelum akhirnya tangannya bergerak mengambil foto tersebut.
"Foto semalam." Batinnya.
"Jadi selama ini foto yang di dompet kamu, beneran foto aku ?" Tanyanya tak percaya.
Harun lalu tersenyum menganggukkan kepala.
"Aku jatuh cinta sama dia." Tersenyum menatap lurus ke depan. Mungkin Harun sedang mengenang awal mula rasa cinta itu tumbuh di hatinya.
Ica menatap tak percaya "CINTA ? bukannya tadi kamu bilang BENCI yah sama aku."
"Hemm, awalnya aku memang benci. Tapi entahlah, ada sesuatu yang menarik aku untuk selalu mengawasimu. Dan entah kenapa perasaan itu tiba - tiba tumbuh ketika aku lagi perhatiin kamu di bawah pohon itu." Tersenyum menunjuk foto yang masih di pegang istrinya.
Ica kembali m3natap foto itu. Cukup lama! Rasanya begitu sulit di percaya, hal istimewa apa yang terjadi saat itu, kenapa rasa benci Harun bisa berubah menjadi Cinta.
"Padahal waktu itu aku sangat takut, kamu engak akan pernah suka sama aku karena kita cuma di jodohin." Berkata dengan suara rendah, mengenang awal pernikahan.
"Bodoh!" Tersenyum mengusap kepala sang istri. " Mana bisa aku tidak suka sama wanita sebaik kamu. Meskipun waktu itu aku beneran baru kenal kamu pas kita di nikahin, aku percaya rasa cinta di hati aku akan tetap tumbuh."
"Kenapa?" bertanya dengan polosnya.
"Yah karena Harun di lahirkan hanya untuk mencintai Khaliesah." Mengusap wajah Ica dengan lembut.
Ahhh, rasanya Ica ingin terbang saja mendengar kalimat itu.
"Gombal banget kamu."
Hening
" Oh iyah... berarti selama ini mas Harun nguntit aku dong."
"Hehe maaf, awalnya mas Harun cuma penasaran ehh lama - lama malah jadi ketagihan."
"Huhhhhh."
kembali hening
"Eh tunggu dulu soal Danu... berarti kamu..." Membulatkan mata menunjuk ke arah Harun.
Harun mengangguk pelan.
"Pantas saja cemburunya sampai kayak gitu." Tersenyum penuh sindiran. "Boleh nanya gak, cowok yang datang sama Dita siapa? Huhh." Memperagakan cara bicara Harun ketika pertama kali melihat Danu.
Harun tersenyum malu. Setelah sekian lama, kebohongannya yang pura - pura tak tahu menahu tentang Danu terungkap.
"Yah maaf, yang terpenting sekarang Khaliesah benar - benar hanya untuk Harun." Memeluk sang istri dengan posesif.
Ica tersenyum bahagia membalas pelukan itu.
*Terkadang kamu tidak akan pernah tahu,
seperti apa cinta akan hadir dalam hidupmu.
Apakah dia ada karena rasamu yang begitu besar padanya.
Atau cinta itu sudah ada di dekatmu,
walau kau tak pernah menyadarinya.
Jangan pernah sia - siakan rasa yang tulus untukmu,
karena kamu tidak akan pernah tahu.
Bisakah ketulusan itu hadir untuk kedua kalinya setelah kamu kehilangannya.
Seperti cinta Harun dan Khaliesah yang tumbuh dengan sendirinya.
__ADS_1
Seindah itulah cinta yang akan datang menghampirimu*.