
"Kan episodenya banyak mas." Jawab Ica lalu menghentikan tontonannya. Dan meletakkan laptop di atas meja belajar nya.
Mas, besok aku akan ke rumah mama.
"Mau ngapain ??" Tanya Harun, kini tangannya sudah membelai lembut kepala ustrinya.
"Ehh iyah kok kamu masih pakai jilbab sih di dalam kamar ?? Bukannya waktu di hotel aku sudah melihatmu dengan baju kaos dan hotpant mu yah ??" Harun baru menyadari sejak pulang dari hotel Ica tak pernah lagi memperlihatkan rambutnya.
"Haa ?? Ngg.. Gak kok mas." Ica mulai gugup.
"Jika di dalam kamar tidak usah memakainya." Harun melepas peniti di bawah dagu Ica, lalu melepas jilbab di kepalanya dengan lembut.
"kalau melawan habislah diriku, hikzzz..." Batin Ica.
"Mama mau kita nginap di sana, selama papa ke Lombok." Ica mencoba mengalihkan kesibukan Harun.
"Ohh iyah, Mas lupa !!" Harun menepuk jidatnya.
Kenapa mas ?? Lupa apaan ??
Papa minta aku untuk menemaninya besok.
Mendadak wajah Ica muram.
"please jangan ikut please...." Pinta Ica dalam hati.
Tapi bohong !! hahaha.
__ADS_1
"Mas Harun... Ngesselin tau nggak !!" Ica memalingkan wajah dengan pipi yang ia gembungkan.
"Kenapa ?? Takut aku tinggalin yah ??" Harun kembali meledek istrinya yang sudah seperti kepiting rebus.
"Udah tau lagi kessel masih aja di ledekin, hufftth.." Ica menatap sinis pada harun dengan bibir yang dimonyongkan.
"Maaf, maaf.. Gemesin deh kalau lagi ngambek gini." Harun mencubit kedua pipi Ica gemas.
"Sakit mas, apaan sih." Ica berusaha menepis tangan Harun.
Ya sudah sekarang kamu tidur, besok pagi mas akan mengantarmu ke rumah mama.
"Enggak usah mas, aku bisa naik transportasi online kok." kata Ica santai.
Harun menatap tajam. "Jangan pernah keluar rumah sendirian, apalagi kalau mau pakai jasa online kayak gitu."
Suara Harun yang berubah dingin membuat Ica jadi menelen salivanya dengan susah payah..
"Tolong yah tuan, kalau mau negur atau melarang. Mukanya tuh biasa ajah. Aku bukan istri pembangkang kok, yang kalau di kasih tahu baik-baik bakalan ngelawan." protos Ica menatap sinis Harun. Kali ini ia benar-benar kesal karena Harun selalu saja menatapnya dingin seperti itu.
"Wah wah wah.. Sudah berani yah si anak kecil manja ini ngebantah." Harun malah gemas melihat ekspresi Ica yang sok sinis, ia lalu mencubit kecil bibir tipis istrinya.
Ikhh apaan sih, aku tuh serius tauk. Aku enggak suka kalau mas Harun bersikap dingin seperti itu padaku.
"Iyah iyah maafkan mas Harun. Sekarang tidurlah !!" Perintah Harun.
---------
__ADS_1
Di meja makan..
"Pagi ayah,.. bunda..." sapa Ica dan Harun yang baru saja datang.
Loh masih pagi-pagi kok kamu sudah rapih sayang, mau kemana ??
"Ica mau kerumah mama bun, mungkin akan menginap di sana." Jawab Ica saat sudah mendudukkan tubuhnya di kursi.
O .. Lidya membulatkan mulutnya dengan kepala yang mengangguk.
Mereka menyelesaikan makan dengan tenang tanpa obrolan apapun.
Herman lalu pamit terlebih dahulu setelah menyelesaikan makannya.
"Bunda titip ini yah buat mama Sinta." Kaya Lidya menyodorkan sekotak kue pada Ica.
"Bunda kok jadi repot kayak gitu." Timpal Harun.
Tidak kok sayang, Tadinya bunda buat cake ini untuk kamu dan Harun. Tapi kamunya malah mau pergi. Jadi sekalian Buat mama Sinta saja. Kalian kan bisa ikut sekalian makan di sana. hehe.
Harun menganggukkan kepala tersenyum. Mereka berdua lalu pamit dan segera pergi.
..
..
..
__ADS_1
..
..