Harun Untuk Khaliesah

Harun Untuk Khaliesah
tanpa rasa cinta


__ADS_3

Cukup lama Harun dan Ica menghabiskan waktu di rumah itu, dan untuk pertama kalinya perbincangan mereka di bumbui banyak canda dan tawa.


"Aku fikir kamu tidak bisa tertawa lepas seperti ini saat bersama ku," fikir Harun dalam hati saat melihat Ica yang begitu berbeda di depannya.


"Mas ini sudah siang, kamu enggak kerja ??" Ica menghentikan tawanya lalu melihat jam yang menempel di tangannya.


"Sudah jam 10 : 15 kenapa waktu rasanya berlalu begitu cepat." Batin Ica.


"Aku sudah mengabari Dito, kalau aku tidak akan masuk hari ini." Bohong Harun yang sungguh tidak ingin meninggalkan kehangatan ini.


"Siapa yang ingin melewatkan waktu yang berharga seperti ini," batin Harun.


Oo Ica menganggukkan kepala. "Syukurlah !!" Gumamnya.


"Apa ??" Tanya Harun memastikan perkataan Ica yang samar-samar masih ia dengar.


"Ahh tidak, Maksudku syukurlah mas Harun sudah mengabari Dito, jika tidak dia pasti akan pusing menunggumu di kantor." Ica mencoba mencari alasan.


Haha, iyah juga yah, sekarang Dito pasti sangat pusing karena tidak menemukanku di kantor.


"Ohh yah mas, kita kan mau ke rumah Mama ??" Ica tiba - tiba berdiri saat mengingat tujuannya keluar rumah pagi ini.


Tenanglah !! Aku sudah mengirim pesan pada mama, aku bilang akan mengajakmu ke sini.


"Ohh... Ehh jadi maksud mas Mama dan Papa sudah tahu kita akan tinggal di sini ??" Tanya Ica kaget.


Harun mengangguk membenarkan. "Ayah dan Bunda juga sudah tahu," imbuhnya.


"Apa ?? Ikhh curang banget sih kamu mas, kok cuma aku saja yang baru tahu ini sekarang ??" Kesal Ica memanyunkan bibirnya menatap Harun.


Bersyukurlah, setidaknya kamu orang pertama yang melihat rumah ini.


Ica tetap saja tidak menerima jawaban Harun, ia malah memalingkan wajahnya dari Harun.


"Sejujurnya aku takut kamu akan menolak untuk tinggal berdua denganku, aku tidak ingin melihatmu bersedih lagi hanya karena aku memberitahumu kita akan pindah dari rumah ayah." Jelas Harun menyakinkan istrinya yang sedang kesal.

__ADS_1


Ica menatap lekat manik mata suaminya, tidak nampak kebohongan di dalamnya ia lalu menggenggam tangan Harun dalam pangkuannya.


Mas Harun... perasaan ku mungkin gampang terluka, tapi aku tidak sejahat itu untuk menolak hidup berdua dengan suamiku. Lagi pula aku sudah bilang kan padamu aku bukan typecal cewek yang kalau di beritahu baik-baik bakalan melawan. Jadi jika kamu memberiku penjelasan dengan baik, yah aku pasti akan mengerti dan menerimanya.


"Umm, ternyata gadis kecilku ini begitu dewasa," ucap Harun tersenyum gemas membelai lembut kepala Ica.


"Siapa yang kamu maksud gadis kecil ??" Protes Ica kesal memicingkan mata.


"Mas Harun selalu saja merusak suasana, huh ??" Imbuhnya mendengus kesal.


Hahaha kenapa aku selalu suka melihat mu merajuk seperti itu.


---


Sudah 15 menit Harun keluar untuk membeli makanan, namun ia belum juga kembali.


Karena terlalu lama menunggu suaminya itu membeli makanan, Akhirnya Ica tertidur di sofa.


Harun yang baru saja datang dan tidak melihat Ica di sofa Lalu sedikit mengeraskan suaranya memanggil Ica.


Harun lalu mengangkat tubuh Ica pelan dan membawanya ke kamar.


"Aku harap keceriaanmu hari ini tidak akan pernah hilang." Gumam Harun membelai kepala istrinya lalu mengecupnya pelan.


Harun keluar dari kamar lalu mengambil ponsel dari saku celananya.


"Lo dimana sih ?? Gila kali loe yah, jam segini belum juga nongol. Loe kan tau satu jam lagi loe ada meeting." Gerutu Dito di seberang telepon saat baru saja menjawab panggilan dari Harun.


"Berisik loe, budek tau nggak nih kuping." kesal Harun. Yahh dia terpaksa berbohong pada Ica karena masih ingin berduaan dengannya.


"Yah lagian lo kemana ??" Tanya Dito kembali.


"Gua ngajak Istri gua ngelihat rumah baru. Loe kan bisa gantiin gua meeting. Enggak usah lebay kayak gitu."


"Tuh kan gua lagi yang kena, ahh terserah loe lah." Pasrah Dito.

__ADS_1


" Loe kirimin lewat email saja berkas yang harus gua kerjain, sekarang." Kata Harun lalu mengakhiri panggilan.


Harun ke ruang tamu mengambil ranselnya, lalu kembali ke kamar. Ia sengaja membuat ruang kerja kecil di sudut kamarnya, bukan karena tidak ada ruang kosong lagi, namun ia tidak ingin merasa jauh dari istrinya.


Larut dengan tumpukan pekerjaan di dalam satu ruangan, ia bahkan tak ingin membayangkan itu.


"Akan lebih menyenangkan di saat aku harus Menyelesaikan pekerjaan di malam hari dan aku tetap bisa melihat khaliesahku." Begitu fikirnya.


----


Ica mengerjap-ngerjapkan matanya berusaha untuk mengumpulkan kesadarannya.


"Astaga Ica... sempat-sempatnya sih kamu ketiduran." Kata Ica menepuk jidat saat menyadari ia sudah berada di kamar.


"Mas Harun ??" Suara Ica lirih saat mendapati Harun yang tengah fokus mengetik di meja kerjanya.


"Ya Allah betapa indahnya jika pernikahan ini bisa di jalani dengan rasa cinta." Gumam Ica menatap sendu pada


Harun. Hatinya sedikit kecewa memikirkan pernikahannya yang tidak di landasi rasa cinta.


"Ehh sayang,.. sudah bangun ??" Harun langsung menghampiri istrinya yang sudah duduk bersandar di punggung ranjang.


"Hem, maaf mas aku ketiduran." Sesal Ica di balas anggukan oleh Harun.


"Makan dulu, sudah sore." Ajak Harun lembut menggenggam tangan Ica.


Setelah menyelesaikan makannya, mereka langsung pulang ke rumah mama Sinta.


..


..


..


..

__ADS_1


__ADS_2