
Di bandara..
Terlihat Lidya, Herman, Sinta dan Wirawan sudah berdiri menanti kedatangan Harun dan Ica...
Bunda...... Teriak Ica berlari menghempaskan tubuhnya memeluk Lidya. Mmm, aku kangen banget sama bunda. Cairan bening sudah nampak menetes di pelupuk mata keduanya.
Iya sayang bunda juga sangat merindukan kamu.
Hem hemm, Herman berdiri dengan kedua tangan terlipat di perutnya menatap sinis ke arah Ica dan Lidya. "Sia - sia dong ayah ikut, enggak ada yang kangen" sindirnya dengan sudut bibir yang sedikit terangkat.
Ya lain hanya terkekeh melihat Herman yang menggoda putrinya.
Apaan sih yah, Ica juga kangen banget kok sama ayah. Ica berganti memeluk Herman
Herman hanya tersenyum penuh kemenangan.
Mereka semua pun saling melepaskan rindu satu sama lain.
--------
Di mobil..
Piip piip
Seorang satpam berlari membuka pagar saat mendengar suara clakson.
Herman lalu membawa mobilnya memasuki pekarangan rumah di susul mobil Wirawan yang juga ikut masuk.
Ehh, mama sama papa juga Ikut ?? Ica baru saja melihat mobil mertuanya memasuki pagar.
Lidya hanya tersenyum mengangguk lalu turun dari mobilnya.
__ADS_1
Terlihat bik Ipah yang sudah berdiri di samping mobil menyambut kedatangan majikannya.
Non Ica apa kabar ?? Bibi sangat merindukan non ?? Sambut bik Ipah saat Ica baru saja turun.
Mmm, bibi... Ica juga kangen. Mereka pun saling berpelukan.
Bi Ipah dan Ica memang sangatlah dekat, sewaktu bayi bik Ipah lah yang membantu Lidya mengurus Ica. Bik Ipah sudah seperti ibu bagi Ica karena beliau lah yang selalu menjaga dan mencurahkan kasih sayangnya pada Ica saat Lidya harus ikut Herman keluar kota untuk mengurus bisnisnya.
-------
Setelah makan malam selesai, mereka semua duduk berbincang di ruang tamu.
Ica pamit ke kamar sebentar, mau mandi. Katanya pada Herman, Lidya dan mertuanya.
Iya sayang kamu sekalian istirahat saja, kamu pasti lelah. Kata Sinta saat Ica sudah berdiri.
Ica hanya membalas dengan anggukan
Harun gelapan saat papanya memergoki dirinya hanya sibuk melirik ke arah lantai atas.
Heh ?? Tidak kok pah harun tidak capek. Hanya kalimat itu yang keluar dari mulut Harun.
Herman, Wirawan, Sinta, dan Lidya pun serentak tertawa melihat wajah Harun yang sudah merona malu.
Lihat ekspresi nak Harun sepertinya tidak lama lagi kita akan menimang cucu mbak. Lidya melirik Harun dengan tatapan jahil.
Harun mangap, melongo diam membeku mendengar perkataan mertuanya.
Sinta dan Wirawan tersenyum penuh antusias mendengar penutururan Lidya.
Sedangkan Herman seketika wajahnya pucat pias mendengar ucapan istrinya.
__ADS_1
----------
Derrrrrt derrttt
Ica meraih ponselnya. Keningnya mengernyit membaca kalimat pertama dalam pesan singkat itu.
"Jangan terlalu memikirkanku😊😊, maaf aku harus lembur lagi. Jangan menungguku." Harun
Wajah Ica memerah dia ketahuan sedang memikirkan Harun. kepalanya celingak celinguk mencari sosok Harun yang mungkin saja memang melihatnya sedang melamun.
"Apa sih 😒 ngarep banget yah mau di pikirin ??" Ica
"Emang iya kan ??" Harun
"Sudah jangan senyam senyum sendiri nanti kalau di liat orang dikiranya gila lagi." Harun
Ica beranjak dari duduknya berjalan ke arah pintu enggak ada ?? gumamnya. Cih, dia kok tau aku ngapain. lalu melihat ponselnya yang kembali bergetar.
"Enggak usah di cari, aku lagi di kantor. jangan lupa makan yah, maaf aku sangat sibuk." Harun
..
..
..
..
..
..
__ADS_1