Harun Untuk Khaliesah

Harun Untuk Khaliesah
kembali hangat


__ADS_3

Keberadaan sang jabang bayi dalam rahim Ica membawa keberkahan tersendiri untuk gadis berlesung pipit itu.


Meskipun merasa konyol karena dirinya tidak bisa merajuk, akibat sang calon anak yang terus saja ingin bermanja ria dengan papanya. Justru tidak lantas membuat Ica jadi kesal. Karena sikapnya ini justru membuat suasana tegang antara dirinya dan mas Harun perlahan kembali hangat.


" Kok enggak siap - siap? " Harun menatap aneh, setelah masak, sang istri bukannya berganti pakaian untuk ke kampus, malah duduk menatapnya menyantap sarapan.


" Lagi malas," tersenyum memamerkan deretan giginya.


" Tumben, biasanya juga mas larang. Tapi kamu tetap ngotot mau ngampus. " Sindir Harun lalu kembali memasukkan sesendok nasi ke mulutnya.


Ica menarik tangan perlahan dari meja, membenarkan posisi duduknya. " Bisa enggak sih kamu enggak nyindir kayak gini. Aku tuh cuma mau sedikit ketenangan mas, enggak usah selalu memperkeruh suasana. " ucap Ica dengan malas, lalu melipat kedua tangannya di atas perut. Bersandar di kursi mencibir suaminya yang sungguh menyebalkan itu.


" Yang sopan kalau bicara sama suami, " kembali menyindir. Lelaki ini sepertinya buta, tidak melihat kedongkolan hati istrinya yang sudah melipat tangan dan bibir.


"Hhuffthhh.. " Ica membuang nafas kasar, melirik Harun sesaat lalu berjalan meninggalkan meja makan itu.


" Pergi? dia marah lagi? emang aku salah ngomong lagi gitu? " tanya Harun tak mengerti pada dirinya sendiri.


Haii lelaki sadarlah, sikap dinginmu itu kembali merajalela menguasi hatimu.


Harun meletakkan sendok dengan kasar ke atas piring. Bangkit dari duduknya lalu menyusul sang istri.


***


Di kamar Ica membersihkan tempat tidur dengan mulut yang terus saja menggerutu kesal. " Dia itu sebenarnya maunya apa sih? aku maafin semua kesalahan dia gitu aja loh, terus sekarang sikap dia justru seperti ini sama aku? Hufffthh. jangan terlalu berharap Khaliesah. Lelaki dingin sepertinya yah akan selalu bersikap seperti itu. " oceh Ica dengan kesal


Ica bisa mendengar suara pintu kamar yang perlahan terbuka, tak sedikitpun ia ingin menoleh. Kekesalannya terhadap Harun benar - benar merusak suasana hatinya pagi ini.


Harun perlahan mendekat, memeluk tubuh istrinya dengan hangat dari belakang. " Ngambek? " bisiknya sedikit tertawa, lalu menciumi leher Ica.


Ica tidak bergeming, meski terasa susah bergerak akibat pelukan itu namun tidak menghentikan tangannya untuk terus beraktivitas. Berusaha mengabaikan kejahilan suaminya yang kini justru menggodanya. " ketawa saja terus! " batin Ica.

__ADS_1


" Maaf, aku enggak marah kok tadi. Cuma ngasih tahu sikap kamu itu salah. " tambahnya, kini bukan hanya leher, ia kembali menciumi bahu istrinya dengan lembut.


Perasaan Ica perlahan melunak mendengar kalimat itu, " yah... dimana salahnya jika seorang suami menegur kesalahan istrinya. " gumamnya. "Ahh... tapi cara dia negur kan salah, dia kan ngejek aku juga tadi. " pikirnya masih mencoba menyelamatkan diri.


" Udah sana, nanti kamu malah telat lagi. " akhirnya mulut itu menyuarakan sesuatu. Namun sayangnya kalimat yang terucap itu, justru kalimat kekesalan untuk mengusir halus sang suami yang masih membujuknya.


Harun menarik nafas panjang, ia lalu membalikkan tubuh istrinya pelan. Menangkup wajah polos yang tertutup kemarahan itu. " Maaf, cup." satu kecupan mengiringi kata penyesalan itu.


Namun Khaliesahnya masih saja memasang wajah tertekuk, tak sekalipun mata indah itu ingin memandangnya. " Maafkan mas Harun, cup... " kecupan kedua dengan kalimat yang lebih meyakinkan.


Ica menggembungkan pipi, melirik kesal pada suaminya. Dan kelakuannya itu justru membuat Harun gemas. " Udahan ngambeknya, " bujuknya, namun kedua tangannya mencubit gemas pipi berlubang itu.


" Sakit! " menepis tangan nakal sang suami. " Niat enggak sih minta maafnya, kok malah nyiksa? " lanjutnya dengan suara yang manja.


Harun semakin gemas mendengar itu. " Maaf sayang, cup. " satu kecupan kembali mendarat di bibir tipis itu.


" Aku kan udah bilang, kalau mau negur itu yang baik. Biar akunya juga enggak salah paham. " kembali kalimat itu terucap dengan begitu manja.


" Selalu saja bersikap seperti ini. " Masih menggerutu. Harun lalu menarik tubuh itu, menenggelamkan tubuh mungil Ica kedalam dekapan hangatnya.


Ica menikmati kehangatan yang tiba - tiba saja menyelimuti hatinya. Kepalanya semakin menempel merasakan degub jantung suaminya yang terus saja berdetak tak tahu irama.


Setelah cukup lama saling tenggelam dalam pelukan penuh kasih itu. Perlahan Harun melepaskan tubuh istrinya. " Mas ke kantor yah, kamu enggak apa - apakan sendirian di rumah. " Ucapnya lalu mengecup kening Ica.


Ica menganggukkan kepala pelan, terasa ragu. Hatinya menginginkan Harun terus ada di sampingnya hari ini. Entah karena keinginan sang jabang bayi atau justru karena rasa rindunya. Rindu akan kebersamaan yang sempat merenggang beberapa waktu lalu.


Melihat tatapan istrinya yang kembali sendu membuat Harun begitu berat untuk meninggalkannya. " Mas janji bakalan pulang cepat, hem?" menyibak lembut anak rambut Ica ke belakang telinga.


Ica kembali mengangguk pelan, tersenyum tipis. Yah sangat tipis, rasanya sungguh berat untuk sekedar membiarkan suaminya pergi bekerja.


Setelah ritual pamitan itu selesai Harun kembali mengusap wajah Ica lembut dengan ibu jarinya. Rasanya ia juga begitu enggan meninggalkan kehangatan ini. " Kalau ada apa - apa kamu langsung telpon mas Harun yah. " ucapnya sebegai kalimat penutup. Tapi ternyata pembicaraan itu masih berlanjut.

__ADS_1


" Ponselku kan kamu banting kemarin. Rusak! " ucap Ica menatap denagan polos ke arah suaminya.


Kalimat itu terdengar seperti sindiran ditelinga Harun. Pikirannya kembali berputar mengingat peristiwa kemarin. " Maaf. " ucap Harun tersenyem kecut menggaruk tengkuknya.


" Aku enggak marah kok," kembali tersenyum polos. " berangkat gih insha Allah aku akan baik - baik saja kok di rumah. " katanya lalu mendorong tubuh Harun berjalan keluar kamar.


Saat di depan mobil, Harun berhenti sejenak, sedikit berfikir lalu mengeluarkan ponsel dari sakunya. " Nih, pakai ponsel mas Harun, " menyodorkan benda pipih itu ke arah Ica.


Ica menatap ponsel iti ragu, lalu beralih menatap suaminya. " Kalau butuh sesuatu kamu tinggal telepon ke nomor kantor atau nomornya Dito. " ucap Harun mencoba menghilangkan keraguan dalam tatapan istrinya. " Kalau mas kangen, mas juga bisa telepon kamu pakai nomer kantor. " imbuhnya tersenyum penuh arti. Membuat wajah sang istri ikut merona malu.


..


..


..


..


Haii...


Jangan di tanya yah kenapa sampai saat ini Ica belum memberitahu Harun kabar bahagia itu.


Karena sesungguhnya diriku juga lupa 😂😂 udah sampai part akhir nulisnya, ehh aku baru ingat. Jadi bingung mau nyelipin pembahasan itu di mana. Lain kali aja yah..


Semoga kalian menikmati..


jangan lupa LIKE, KOMEN and VOTE yah... (berasa jadi youtuber, wkwk)


Selamat menunaikan ibadah puasa,


Salam sayang dari Harun dan Khaliesah 😘😘😘

__ADS_1


__ADS_2