
"Ada apa ??" Tanya Lidya penasaran setelah meletakkan majalah yang sedang ia baca.
Nanti sore saja bun, biar sekalian sama ayah juga.
Mmm ya sudah kamu istirahat lagi gih, kalau ayah sudah bangun bunda akan memanggil kamu.
"Makasih bunda." Harun mengecup singkat pipi Lidya kemudian berjalan menaiki anak tangga.
Lidya tersenyum bahagia merasakan kehangatan dari menantunya.
****
Sore hari..
Herman, Lidya dan Harun sudah duduk di ruang tamu.
"Ayah, bunda... ada yang ingin Harun sampaikan," katanya memulai pembicaraan.
"Ada apa nak ??" tanya Herman serius.
Harun terdiam, bingung ingin memulai dari mana.
"Katakanlah jangan sungkan." Lanjut Herman saat melihat Harun sedang berfikir keras.
Yah.., bun... sebenarnya beberapa hari kemarin Harun pulang larut karena menyiapkan sesuatu untuk Ica.
__ADS_1
Herman dan Lidya seketika saling menatap lalu kembali menyimak, menunggu Harun meneruskan ucapannya.
Aku membeli sebuah rumah untuk kami tinggali berdua, tidak besar sih tapi insya Allah nyaman.
Lidya terdiam nampak murung.
"Maaf, tapi ku harap ayah dan bunda tidak akan merasa tersinggung dengan keputusanku yang mendadak ini." Lanjut nya.
"Apa ini tidak terlalu cepat nak ?? kalian kan baru saja menikah. Akan sulit bagi Ica untuk tinggal sendiri." Herman mencemaskan putri kecilnya. yahhhh sudah tergambar jelas di wajahnya, ia takut anak semata wayangnya akan kesulitan mengurus rumah.
Tapi dengan tinggal berdua mungkin saja bisa buat kami jauh lebih dekat ayah. Harun hanya ingin menumbuhkan rasa cinta di hati Ica, agar pernikahan ini tidak lagi terjalin karena keterpaksaan yah. Dengan tinggal berdua kami bisa belajar saling memahami, saling peduli dan merasa saling membutuhkan.
Herman terdiam berusaha menimbang apa yang di katakan menantunya.
Jika Harun dan Ica nantinya saling mencintai, itu akan membuat perasaan bersalah Herman sedikit berkurang.
"Harun hanya ingin belajar hidup mandiri, mencoba membangun rumah tangga kami sendiri." Lanjut Harun berusaha meyakinkan mertuanya.
Baiklah, ayah setuju dengan apapun keputusanmu. Tapi bicarakan dulu baik - baik dengan Jca, ayah harap kamu tidak akan membuatnya terluka dengan memaksakan kehendakmu.
Sudut bibir Harun terangkat dengan sempurna, bahagia dengan keputusan Herman. "Terima kasih banyak ayah !!" Harun memeluk erat tubuh mertuanya.
Herman menepuk pelan pundak Harun. "Ayah akan selalu mendoakan kebahagiaan kalian, belajarlah menjadi imam yang bisa menuntun makmumnya ke jalan yang baik."
Harun mengangguk pasti. "Terima kasih yahh, karena ayah mau menerima keputusan Harun."
__ADS_1
Herman tersenyum simpul sembari menganggukkan kepala.
Harun lalu beralih menatap Lidya. Tatapannya terasa kosong seperti sedang menahan pilu. Harun menatap sendu wajah itu lalu meraih tubuh Lidya menenggelamkan dalam pelukannya.
"Bunda.. izinkan Harun menjaga Ica." Pinta Harun lirih, Lidya menganggukkan kepalanya dalam dekapan Harun, tubuhnya mulai bergetar cairan bening sudah lolos dari pelupuk matanya.
Aku janji akan menjaganya dengan baik, aku akan mencurahkan seluruh cinta dan hidupku untuknya.
Lidya semakin terisak mendengar penuturan Harun.
"Bunda percaya padamu nak." Lidya melepaskan tubuhnya dari pelukan Harun, menangkup wajah Harun lembut.
" Terima kasih, Terima kasih sudah mencintai anak bunda." katanya lirih dengan air mata yang masih mengalir.
Harun tersenyum bahagia menjawab dengan anggukan.
..
..
..
..
..
__ADS_1