Harun Untuk Khaliesah

Harun Untuk Khaliesah
hamil??


__ADS_3

Dita hanya diam mematung, entah apa yang ada di benaknya namun pikirannya saat ini benar - benar kacau. Dita lalu berlari ke arah pintu masuk namun sahabatnya sudah tidak terlihat di manapun. Dengan berat hati Dita beranjak meninggalkan tempat itu.


Ica berjalan tanpa arah di dalam bangunan besar yang di pijakinya saat ini, air mata sudah jatuh berjejak di wajahnya dan dengan cepat tangannya menghapus kristal bening itu.


Langkah kaki Ica tiba - tiba terhenti, matanya menyipit menatap ke salah satu restoran yang berada di seberang eskalator, ia lalu berjalan mendekat untuk memastikan apa yang di lihatnya. Perlahan langkahnya bergerak mundur, air mata mulai mengalir dengan deras dari pelupuknya dengan cepat Ica berlari meninggalkan pusat perbelanjaan itu.


Dengan brutal ia menghentikan taxi yang melintas, berlari memasuki mobil yang berhenti dengan mendadak itu, "jalan pak, " katanya dengan suara yang berat.


Sang supir hanya mengangguk dan mulai memutar kemudinya, "mau kemana mbak? " tanya sang supir yang sudah terlihat berkeriput itu.


"Terserah pak, yang penting jauh dari tempat ini," lirih Ica, wajahnya kini sudah berselimut pilu. Ia memejamkan matanya yang sudah basah akan deraian kristal bening.


Pak supir mengintip dari balik spion, nampak seorang gadis muda yang sedang menangis tersedu - sedu di kursi penumpangnya. Ada kesedihan yang ikut menggetarkan hatinya melihat gadis yang nampak begitu kacau itu.


"Maaf mbak, kita harus kemana, " sang supir kembali bertanya setelah beberapa menit ia hanya melaju tanpa arah.


Tak ada sahutan dari kursi belakang, sang supir kembali melihat dari kaca spion di depannya dan betapa terkejutnya ia saat melihat gadis yang di bawanya sudah jatuh terkulai di atas kursi.


Dengan cepat sang supir menepikan mobilnya, berbalik menepuk - nepuk gadis yang tak berdaya itu, "mbak, mbak bangun mbak, " supir itu mengguncang lengan Ica berkali - kali namun tetap tak ada pergerakan. Dengan panik sang supir memacu mobilnya menuju Rumah sakit terdekat.

__ADS_1


**


Ica mengerjap - ngerjapkan matanya, tangannya langsung terangkat menyentuh kepalanya yang terasa berat, "ahhh, kepalaku, " Ica meringis kesakitan, ia lalu berusaha membuka matanya dengan pelan menerawang seisi ruangan yang di dominasi warna putih itu, tatapannya langsung terhenti pada dua wanita berseragam putih yang berdiri di samping tempat tidurnya.


"Ini Rumah sakit, kenapa saya ada di sini, " tanya Ica heran pada kedua wanita itu.


"Bapak ini yang membawa anda ke sini, " tunjuk sang Suster sopan pada bapak paruh baya di depannya.


Ica menoleh mengukiti arah tunjuk sang Suster, ia mencoba mengingat wajah lelaki paruh baya yang berdiri dengan tersenyum di depannya, "bukannya bapak.... " kalimat Ica menggantung menunjuk lelaki tua itu.


"Iya mbak saya supir taxi yang tadi, mbak tiba - tiba pingsan jadi bapak bawa kesini. "


"Terimakasih yah pak sudah berkenan mengantarkan saya ke Rumah sakit, " ucap Ica dengan tulus, ia benar - benar bersyukur karena bertemu orang yang berhati baik seperti bapak itu, apa yang akan terjadi padanya jika saja ia menaiki mobil yang salah.


"Tidak usah mbak, bapak ikhlas, " tolak bapak itu, ketika Ica menempelkan uang di telapak tangannya.


"Saya juga ikhlas pak, anggap saja ini sebagai ongkos taxi saya tadi." Dengan paksaan Ica akhirnya bapak itu menerima uang yang di berikan untuknya, ia lalu pamit untuk kembali bekerja.


"Dok, sebenarnya saya sakit apa yah, kok sampai harus di infus seperti ini, " tanya Ica saat melihat selang infus yang menggantung di sampingnya.

__ADS_1


Sang Dokter tersenyum, "anda hanya sedang kelelahan, anda mengalami Anemia makanya tadi sampai jatuh pingsan. "


"Anemia? oh iya Dokter apa karena Anemia ini juga makanya belakangan ini kepala saya sering sakit? " tanya Ica saat mengingat kondisinya beberapa hari terakhir.


"Dokter Leta" tertulis di namtag yang menempel di jasnya.


Dokter Leta tersenyum hangat, "Anemia pada seseorang yang sedang hamil muda memang sering terjadi, " jelasnya namun langsung di potong oleh Ica.


"Apa Dok, saya hamil? " Ica begitu terkejut mendengarkan ucapan Dokter Leta, entah bagaimana ia harus menggambarkan perasaannya saat ini. Rasa bahagia dan kecewa benar - benar membungkamnya.


Dokter Leta mengangguk membenarkan, "saat ini kehamilan anda sudah memasuki minggu ke lima. Oh iya sebaiknya suami anda segara di kabari, karena hari ini anda harus rawat inap. "


Maaf Dok, suami saya sedang keluar kota. Apa saya benar - benar harus opname?


Dokter Leta mengangguk mengiyakan dan segera pamit meninggalkan ruangan itu.


..


..

__ADS_1


..


..


__ADS_2