
"Kenapa kamu hanya tersenyum seperti itu, jangan membuatku jadi jengkel." Ica memicingkan matanya menatap kesal pada Harun.
"Jangan selalu memasang wajah seperti itu, atau aku akan semakin tergila - gila padamu." Kata Harun mencubit gemas kedua pipi Ica.
"Awww, sakit tauk !! Mas Harun selalu saja mencubit pipiku." Ica mengusap - usap pipinya kesal.
"Iyah iyah, maaf. Sekarang ayo kita tidur." Harun mendorong paksa tubuh Ica hingga tertidur, lalu ia juga ikut membaringkan tubuhnya sambil memeluk erat tubuh kecil istrinya.
Mas, ceritakan dulu padaku, apa maksudnya saat kita mulai di jodohkan ??
Diamlah, ini sudah larut malam, aku akan menceritakan segalanya padamu nanti.
Ica tidak lagi merengek, memilih diam adalah hal yang sudah menjadi kebiasaannya. Membantah Harun masih menjadi sesuatu yang di takutinya.
Mereka berdua akhirnya terlelap dengan posisi yang masih saling berpelukan.
--------
Setelah sholat subuh, Harun kembali bergelut dengan pekerjaannya di depan laptop.
Meninggalkan Ica yang Kembali terlelap di balik selimutnya.
Derrtt derrt derrtt.
“Assalamu'alaikum ma, ada apa ??" Kata Harun setelah menempelkan ponsel di telinganya, mata dan tangannya masih saja terfokus pada laptop itu.
“Wa'alaikum salam sayang, kalian sudah ke supermarket membeli bahan untuk jamuan syukuran nanti, jika belum, mama akan mampir dulu untuk membelinya."
"Tidak usah ma, Harun sudah memesan cattering.“
“Ohh syukurlah, ohh iya sayang sebentar lagi mama akan sampai di rumah kamu, mama dan bunda Lidya sudah janjian untuk datang cepat."
__ADS_1
“ Mmm, iyah ma.“
“Yah sudah mama tutup telponnya yah, assalamu alaikum."
"Wa'alaikum salam". Harun meletakkan kembali ponsel itu, kini matanya menatap ke arah Ica yang sedang tertidur.
Tiba - tiba bibirnya terangkat dengan sempurna, tersenyum mengingat moment tadi malam. Rasa bahagia kembali menyelimutinya, "Ya Allah terimakasih atas segala kebahagiaan ini, terimakasih karena engkau telah tumbuhkan rasa cinta di hatinya."
------
Lidya dan Sinta sudah tiba di rumah Harun, keduanya memboyong bik Ipah dan bik Nah untuk ikut bersama.
Mereka kira hari ini akan di sibukkan dengan masak memasak, makanya mereka membawa serta bik Ipah dan bik Nah.
Harun, Sinta dan Lidya sedang mengobrol di ruang keluarga, mereka bercerita tentang masa kecil Harun dan Ica. Sesekali obrolan itu berisi candaan - candaan untuk menggoda Harun.
Harun hanya bisa tertunduk malu, ketika dua wanita cantik itu menggodanya. Namun sedikitpun Harun tidak merasa risih, ia justru sangat bahagia melihat mama dan bundanya bisa tertawa lepas.
"Sayang,.. bunda ke kamar kamu dulu yah, bunda ingin membangunkan anak nakal itu. Ini sudah sangat siang tapi di belum juga bangun."
"Yah sudah, kalau begitu kamu juga istirahat. Kamu juga pasti lelah membantu Ica kemarin kan ??
Biar bunda dan mama yang mengurus semuanya di sini. " Pinta Lidya pada Harun yang membuat Sinta menganggukkan kepala membenarkan.
Harun pun menuruti, ia segera kembali ke kamarnya.
--
Kriiiieettt..
Harun membuka pintu pelan, berharap Ica tidak akan terbangun akan suara pintu itu, ia lalu berjalan pelan menuju tempat tidur.
__ADS_1
"Kamu pasti sangat lelah, maaf jika aku sudah membuatmu bekerja keras membersihkan rumah ini. Aku tahu kamu tidak terbiasa melakukan itu semua, itu sebabnya tubuh kecilmu ini jadi begitu kelelahan." Gumam Harun mengusap lembut pucuk kepala Ica.
Cukup lama Harun duduk menatap wajah polos istrinya yang sedang tidur.
"Mas Harun !!" Ucap Ica pelan saat baru saja membuka mata. Harun Hanya tersenyum menatapnya.
"Cup.." Morning kiss. Harun mengucup singkat bibir Ica.
Ica termangu, merasa tak percaya dengan apa yang baru saja terjadi.
Baru saja iya mendudukkan tubuhnya, Harun sudah memberinya kejutan yang luar biasa.
"Kenapa kamu melongo seperti itu, kamu tidak suka dengan sambutanku. Heh ?? " Harun berkata dengan sinis, mencoba menggoda istrinya yang masih syok.
"Ehh ?? Tidak, tidak kok Mas, aku hanya merasa kaget saja.“ Jawab Ica terbata.
Harun lalu tersenyum dan merengkuh tubuh Ica, "iya mas Harun hanya bercanda kok."
"Apaan sih mas Harun," Ica memukul manja dada Harun.
Cepatlah mandi, mama dan bunda sudah menunggu kita di bawah.
"Apa ?? Mas Harun, kenapa kamu tidak membangunkan ku sejak tadi,
Isshhh kamu selalu saja seperti itu. " Tiba - tiba Ica mengomel tidak karuan, berjalan secepat kilat menuju kamar mandi.
Harun terkekeh melihat kelakuan Ica-nya.
"Ck ck ck Kenapa dia senang sekali mengomel seperti itu."
..
__ADS_1
..
..