
Mas...!! Kok enggak pakai baju..?? Teriak Ica menutup wajahnya saat Harun keluar hanya dengan handuk yang terlilit di pinggangnya.
Biasanya setelah mandi Harun akan keluar dengan menggunakan kaos dan celana pendeknya.
He he he maaf, mas tadi buru - buru jadi lupa bawa baju ganti.
Tapi mas harap kamu bisa terbiasa dengan semua ini, kita sudah menikah, kamu adalah istriku. Dan sejujurnya mas tidak terbiasa memakai baju di kamar mandi. hem ?? jelas Harun lembut.
Ica melepaskan tangan yang menutup wajahnya, mas Harun benar aku adalah istrinya, kenapa aku harus membebaninya dengan masalah sepeleh. Bahkan aku harusnya berterima kasih karena hingga detik ini ia tidak memaksaku melayaninya sebagai seorang istri.
Maaf...
Dada Harun tersentak mendengar suara itu. ****** !! Harun mengutuk dirinya.
Harun berjalan menghampiri Ica yang sudah tertunduk lemas.
Harun bersimpuh di hadapan Ica, mengangkat lembut dagu itu. Maaf, mas tidak bermaksud........
Ngapain minta maaf ?? Jawab Ica dengan senyuman memotong kalimat Harun. Aku saja yang lebay, tidak seharusnya aku berteriak hanya karna melihatmu bertelanjang dada.
Ica meletakkan tangannya di pipi Harun, menatap lembut manik mata itu. Terima kasih karena kamu selalu menjaga perasaan istrimu ini, maaf jika aku belum mampu membalas semua kebaikanmu dengan menjadi istri yang yang baik untukmu..
Siapa bilang ??? Bagiku kamu sudah menjadi istri yang sangat baik. Harun mencubit pipi Ica gemas.
Sudahlah lupakan ini, sekarang ceritakan kemana saja kamu hari ini. Tanya Harun antusias menyenderkan badannya di dinding tempat tidur.
__ADS_1
Hem, seperti yang ku katakan tadi pagi, aku mendatangi tempat - tempat yang ada di website hotel ini.
Lalu ?? Pemandangannya sesuai yang kamu harapkan ?? Ica mengangguk pasti.
Apa kamu memotretnya ?? Aku sangat ingin melihatnya.
Ica tersenyum dan menyodorkan ponselnya ke Harun.
Dengan antusias Harun menekan icon album di layar pipih itu. Harun tersenyum menggeser - geser layar, melihat semua hasil potretan Ica.
Syukurlah dia menikmati liburannya. "Fikir Harun"
Cantik. Harun tersenyum melihat foto Ica yang sedang menikmati pemandangan. Kasian, pasti dia minta tolong seseorang untuk memotret nya.
Siapa yang memotretmu ??
Deg,
tiba - tiba dada Harun sesak mendengar nama itu. Sialan tuh anak, ngapain dia disini apa dia masih mengharapkan Ica?? hingga mengikutinya sampai kemari.
Shitt, ucap Harun membanting ponsel di tangannya. Kini matanya menatap tajam ke arah Ica.
Ica menelan salivanya susah payah, melihat sorot mata yang seakan siap untuk menerkamnya.
Ada apa ?? Kenapa kamu menatapku seperti itu ?? Tanya Ica dengan penuh ketakutan.
__ADS_1
Enak ya,, berduaan dengan laki - laki lain saat suaminya tidak ada. Ucap Harun sinis.
Apa maksudmu ??
Jangan bilang dia sengaja mengikutimu sampai ke sini..
Istigfar mas, jangan berburuk sangka pada orang lain. Danu sedang berlibur bersama keluarganya bukan untuk mengikutiku.
cih, dia itu menyukaimu Ica sadarlah..
Dan dia juga tahu kalau aku sudah menikah denganmu.
Harun diam menahan kemarahan. Pikirannya di penuhi oleh pernyataan Ica yang mengatakan Danu menyukainya.
Harun tidak lagi bersuara, ia membaringkan tubuhnya memunggungi Ica.
Mas... ayolah... Tidak baik jika kita tidur dalam keadaan marah seperti ini, maafkan aku !! Mas please,, maafkan aku, kamu kan juga tahu aku tidak memiliki perasaan apapun terhadapnya. Mas... bujuk Ica menggoyang -goyangkan badan Harun, namun Harun tidak meresponnya, ia justru memejamkan matanya.
.
.
.
.
__ADS_1
.