Harun Untuk Khaliesah

Harun Untuk Khaliesah
cemburu


__ADS_3

"Apa kabar gadis kecil." Ucap pemuda itu membalas pelukan Ica.


"Sejak kapan kakak kembali ?? Kenapa tidak mengabariku, dasar jahat !!" Ica mencubit lengan pemuda itu.


Riutama handoko, anak dari kakak Lidya, Tama adalah satu - satunya sepupu laki - laki yang sangat akrab dengan Ica, karena dari kecil mereka berdua tumbuh bersama.


"Aww, kakak baru seminggu di kota ini anak nakal." Tama mencubit gemas hidung Ica.


Harun semakin kesal melihat drama konyol seperti itu di depan matanya, ia lalu berjalan menghampiri Ica.


Harun memeluk pinggang Ica dengan begitu posesif, seolah ingin menunjukkan kepada Tama bahwa Ica adalah miliknya.


"Suamimu dek ??" Tanya Tama saat Harun tiba - tiba datang dan memeluk Ica.


Iya kak, ini suami aku.


"Harun !!" Ucap Harun mengulurkan tangannya, matanya menatap dengan tidak ramah.


"Tama !!" Tama membalas tatapan itu dengan senyuman yang begitu tulus, ia paham rasa tak suka Harun terhadap Keakrabannya dengan Ica.


"Selamat yah dek, maaf kakak tidak sempat hadir di acara bahagia mu." Sesal Tama.


"kakak ?? ade ?? sungguh menyebalkan !! aku begitu muak mendengarnya." Harun.


"Iya, tidak apa - apa kok kak." Ica lalu menghampiri orang tua Tama, dan memeluk om dan tantenya bergantian, lalu mengajak mereka untuk ikut bergabung di dalam.


Tama terlihat mencoba mengakakrabkan diri dengan Harun, ia ingin mencoba untuk menjelaskan hubungannya dengan Ica.


Namun tak sedikitpun Harun memberinya celah, ia terus saja menghindari Tama.

__ADS_1


"De' sepertinya suamimu tidak menyukai kakak, " jelas Tama saat Ica menghampirinya.


Kenapa kak Tama bisa menyimpulkan seperti itu ??


Dari tadi kakak mencoba berbicara padanya, tapi sepertinya dia sengaja menghindar, tatapannya juga sangat dingin pada kakak.


"Hahaha," Ica terbahak mendengar jawaban Tama, ternyata bukan hanya dirinya yang merasakan sikap dingin Harun.


Tama mengernyitkan kening, menatap penuh tanya ke arah Ica.


Maaf, maaf !! Kamu hanya salah paham kak, mas Harun terkadang memang terlihat dingin, tapi sebenarnya dia sangat - sangat baik kok.


Obrolan Ica dan Tama yang di penuhi gelak tawa, membuat hati Harun begitu dongkol.


Wirawan dan Herman yang sedang berbicara padanya pun, tak ia hiraukan.


Menjelang sore, satu per satu tamu sudah pulang, Sinta dan Lidya pun sudah kembali bersama suami mereka. Hanya tinggal Bik Ipah dan bik Nah yang sedang membereskan rumah.


"Mas, mau ku buatkan kopi ??" Tanya Ica setelah keluar dari kamar mandi.


Harun tak menjawab, ia hanya menggeleng dan berlalu ke kamar mandi.


Ada apa dengannya ?? Apa aku melakukan kesalahan lagi ??


Cih, dia selalu saja bersikap dingin.


Ica tidak menghiraukan diamnya Harun, ia lebih memilih menarik selimut dan segera memejamkan matanya.


Harun keluar dari kamar mandi, masih dengan wajahnya yang tertekuk.

__ADS_1


"Heh, dia sudah tidur ?? Dasar anak kecil, membuatku semakin kesal Saja, " gumam Harun saat mendapati Ica yang sudah terlelap di balik selimutnya.


*****


Ica membangunkan Harun untuk sholat subuh, setelah menyiapkan sajadah dan sarung untuk suaminya sholat, ia segera ke dapur untuk membuat sarapan.


Bik Ipah dan bik Nah berlari kecil keluar kamar setelah mendengar suara bising di dapur.


"Non, biar bibi saja yang buat sarapannya, " pinta Bik Ipah mengambil pisau di tangan Ica.


"Tidak usah bik, sebaiknya kalian kembali istirahat. Pasti kalian lelah membersihkan rumah semalam," jelas Ica mengambil pisau itu kembali.


"Tapi non..." Bik Ipah tidak melanjutkan kalimatnya setelah di lirik oleh Ica.


Tidak apa - apa bik, ini hari pertama Ica membuat sarapan untuk mas Harun, jadi please jangan di ganggu.


Bik Ipa dan bik Nah tidak lagi membantah, dengan berat hati mereka kembali ke kamar.


Sudah satu jam Ica berperang dengan masakannya, hingga akhirnya nasi goreng seafoodnya pun sudah jadi.


..


..


..


..


..

__ADS_1


__ADS_2