
Pikiran Ica benar - benar kacau, siapa yang harus di hubunginya? sangat tidak mungkin jika harus menghubungi orang tua ataupun mertuanya, karena mereka pasti akan menanyakan keberadaan suaminya.
Ica tidak sanggup jika harus melihat orang tuanya sedih dan kecewa melihatnya terabaikan seperti ini padahal ia sedang hamil.
Wajah Harun yang sedang tertawa lepas bersama seorang wanita kembali menari - nari di kepalanya, "kamu bahkan membiarkanku menunggu begitu lama di depan kampus mas, " lirihnya, air mata kembali terurai menggambarkan betapa sedih dan terluka hatinya.
***
Harun begitu panik saat baru saja pulang dan tidak mendapati istrinya di rumah. Berulang kali ia mencoba menghubungi Ica namun selalu saja panggilannya di tolak, ia juga sudah menghubungi orang tua dan mertuanya namun sayangnya mereka malah menanyakan kabar istrinya, berarti istri kecilnya itu tidak ada di rumah mereka. Akhirnya Harun berinisiatif menelepon sahabat Ica satu - satunya (Dita).
"Halo Dita, ini mas Harun, apa Ica sedang bersama kamu. "
"Tidak mas," jawab Dita terbata ada perasaan bersalah di hatinya mengetahui sahabatnya yang hingga larut belum juga pulang. "Tadi Ica pamit pulang lebih dulu, saat kami ada di mall XX," lanjutnya.
"Kalian ke Mall XX tadi? " jawab Harun kaget.
"Iya mas Harun, tadi Ica menunggu lama di gerbang kampus, dan Ica bilang mas Harun sedang ada meeting. Makanya dia mengajakku jalan. " Dita
Harun terdiam mendengar penjelasan Dita. "Ica menungguku tadi? " tanyanya kemudian.
"Iya mas, hampir sejam Ica menunggu. Padahal Ica sedang sakit, tapi dia malah menunggu di bawah terik matahari. "
Hati Harun terasa sesak mendengar itu. "Ica sakit? " tanyanya terbata, Dita lalu menjelaskan semua yang terjadi hari ini.
Harun diam mematung menggenggam erat ponsel di tangannya. Rasa bersalah kini hadir seperti anak panah yang menusuknya dari segala arah, "maafkan aku sayang, " lirihnya, tubuhnya kini jatuh bersimpuh, berulang kali ia mengutuki kebodohannya.
"Sayang kamu di mana? "
__ADS_1
"Kenapa tidak mengangkat teleponku? "
"Sayang... "
"Sayang maafkan aku tolong jawablah, kamu ada di mana? "
.Puluhan pesan di kirim Harun pada istrinya, dengan satu kata yang terus di ulangnya, "Maaf! " namun lagi - lagi tidak satu pun pesan itu yang di balas oleh Ica
"Arrghhh... " teriak Harun frustasi, kata - kata Dita terus saja terulang di pikirannya. "Kamu sakit apa sayang, maafkan aku membiarkanmu sakit sendirian, maafkan kebodohan suamimu ini."
Dengan perasaan kalut Harun mengemudikan mobilnya, menyusuri gelapnya malam yang mulai terlihat lengang, ia tiba - tiba menginjak rem mobilnya dan dengan cepat meraih ponsel di sakunya, "bodoh! harusnya aku mengingatnya dari tadi, " lagi - lagi ia merutuki kebodohannya karena baru mengingat GPS ponsel Ica yang sudah di connect ke ponselnya dulu, untuk sekedar mengetahui lokasi istrinya.
Mata Harun membulat saat melihat titik lokasi itu, jantungnya kini berdetak tidak karuan. "Sayang kamu kenapa, apa yang terjadi? "gumamnya memacu laju mobil dengan cepat.
**
"Maaf pak waktu berkunjung sudah habis. "
"Pihak Rumah Sakit baru saja menghubungi saya pak, istri saya sedang di rawat di sini, " ucap Harun dengan berat, ingin rasanya ia menonjok satpam yang menghalangi jalannya Itu. Namun ia mencoba bersikap tenang agar pihak Rumah Sakit tidak mendepaknya karena telah membuat keributan.
***
Pelan Harun mendorong pintu ruangan itu, dan betapa terkejutnya ia melihat istrinya yang tengah terlelap dengan selang infus yang menempel di tangannya. Harun mendekat membelai lembut wajah polos istrinya, "maaf, maafkan aku membuatmu jadi seperti ini, " lirihnya.
Ica membuka matanya pelan, saat merasakan sentuhan lembut di wajahnya dan betapa terkejutnya ia saat melihat suaminya sedang duduk menatapnya sendu, " darimana kamu tahu aku ada di sini, " katanya sinis lalu memalingkan wajah, ia sungguh heran kenapa Harun bisa menemukannya padahal ia tidak memberitahu siapapun tentang keberadaannya.
"Maaf!!" Lirihnya, Harun menggenggam lembut tangan Ica, ia mengecup tangan itu berulang kali meluapkan segala penyesalan yang kini membalut hatinya.
__ADS_1
"Untuk apa? " Ica berkata dengan dingin, sungguh rasa kecewa masih menumpuk di hatinya
"Semuanya! "
"Pulanglah mas, aku benar - benar ingin sendiri saat ini, " suara Ica bergetar, ia berusaha menahan cairan bening sudah menumpuk di pelupuknya.
"Maafkan aku sayang, maafkan semua kebodohanku ini, " sesal Harun, ia lalu beranjak dari duduknya mencoba memeluk istrinya, namun dengan cepat Ica menahan tubuhnya.
"Aku mohon pulanglah!!" tegas Ica namun tak menggoyahkan pendirian laki - laki itu.
"Bagaimana aku bisa meninggalkanmu dalam kondisi seperti ini? "
"Kamu bahkan bisa mengabaikanku sepanjang hari. " gumam Ica membuat Harun semakin merasa bersalah mendapat sindiran seperti itu dari istrinya.
"Aku mohon maafkan kebodohanku hari ini, kamu boleh memakiku sesukamu, tapi ku mohon jangan mengusirku dari sini. " Harun menggenggam tangan kecil itu dengan erat, ia sungguh takut Ica akan meninggalkannya karena sifat kekanak - kanakannya hari ini.
Ica memejamkan mata mencoba mengabaikan suaminya yang sedang memelas, "ya Allah, aku sungguh tidak sanggup melihatnya seperti ini. Seandainya saja kamu bisa memberiku sedikit kepercayaan mas, mungkin saat ini aku akan memelukmu karena rasa bahagiaku atas kehamilanku ini, " batin Ica
..
..
..
Maaf atas keterlambatan update yang cukup lama.
jangan lupa untuk selalu VOTE, like and coment.
__ADS_1
biarkanlah diriku sedikit berbahagia karena dapat VOTE yang gratis itu dari kalian 😂😂🤗
Dan terimakasih untuk kalian yang sudah menungguku up 😘😘