
Sepanjang malam Harun terus menggenggam tangan istrinya, berkali - kali ia menciumi telapak tangan itu, meluapkan segala rasa sesak yang kini mencabik hatinya. "Maafkan aku... Maafkan aku... " kalimat itu terus saja berucap dari bibirnya yang mulai bergetar menumpahkan air mata penyesalan.
Hari ini Dokter Leta menginjinkan Ica pulang,
"Anda harus banyak istirahat dan saya harap anda menghindari mengangkat atau melakukan sesuatu yang berat, jangan sampai anda kelelahan. " Ujar Dokter mengingatkan, "saya sudah meresepkan anda vitamin jangan lupa untuk meminumnya dengan rutin, " imbuh Dokter Leta.
Kepala Ica terus saja mengangguk mengiyakan apapun yang di sampaikan Dokter.
"Memangnya istri saya sakit apa Dok? " Harun begitu heran mendengarkan penjelasan Dokter seolah Ica mengalami sakit yang serius. Semenjak datang ke Rumah Sakit Harun memang belum sempat menemui Dokter yang menangani istrinya, dia terlalu sibuk memohon pengampunan pada istrinya kecilnya itu.
Ica menatap lekat mata Dokter Leta, memberi isyarat agar tidak menjelaskan apapun pada suaminya. Dokter Leta memahami itu, ia fikir munkin saja Ica ingin memberi kejutan pada suaminya. Dokter Leta akhirnya pamit meninggalkan Harun yang masih membisu menunggu penjelasan.
**
Sepanjang perjalanan Harun terus di bayangi penuturan Dokter wanita di RS itu, perkataan istrinya yang menyebutkan dirinya hanya sedikit kelelahan begitu di ragukannya..
Pergulatan pikiran itu terhenti saat mobilnya memasuki pekarangan rumah. Harun bergegas turun, membuka pintu mobil untuk Ica lalu menundukkan dirinya.
"Kamu mau apa mas? aku bisa jalan sendiri, " Ica memberontak menahan tangan Harun yang ingin menggendongnya.
Harun tidak menghiraukan penolakan istrinya, ia mengangkat tubuh kecil itu dan menggendongnya menuju kamar. "Istirahatlah ! aku akan membuatkan bubur untukmu, "ucap Harun setelah membaringkan tubuh Ica dan menyelimutinya.
Ica tidak menanggapinya, ia lebih memilih memejamkan matanya yang sudah terasa sangat berat.
Satu jam kemudian, Harun datang membawa semangkuk bubur dan segelas susu hangat, ia berjalan dengan pelan dan meletakkan yang di bawanya di atas nakas. Harun mendudukkan tubuhnya di sisi Ica, membelai lembut wajah polos yang nampak pucat itu, "maafkan aku sayang karena telah membuatmu jadi seperti ini. " Lirih Harun yang lagi - lagi menyesali perbuatannya.
__ADS_1
"Kamu sudah bangun? " tanya Harun saat melihat istrinya membuka mata perlahan, ia masih setia duduk di samping istrinya, dengan lembut tangannya membelai rambut Ica.
"Kenapa kamu masih di sini, bukannya ini sudah jam kantor? "
Bagaimana bisa aku pergi kerja jika istriku sedang sakit seperti ini.
"Aku bisa menjaga diriku sendiri, pergilah! " Ica memalingkan wajahnya, masih terselip kekecewaan dalam suara itu.
"Aku mohon jangan seperti ini, maafkan aku!! " Harun menggenggam erat tangan istrinya seolah takut Ica akan meninggalkannya.
"Berhentilah meminta maaf, " kata Ica dingin, "hehh, aku bahkan tidak punya hak untuk marah padamu, " lanjutnya tertawa hampa.
"Sayang... kenapa kamu berkata seperti itu. Kamu adalah istriku, kamu punya hak atas hidupku. Aku mohon berhentilah bersikap seperti ini. "
Ica menatap dalam, manik mata suaminya. "Apa kamu bisa percaya padaku? "
"Hehh... " Ica kembali tertawa remeh memalingkan wajahnya, "kalau begitu apa aku juga bisa meragukanmu? " imbuhnya lalu kembali menatap lekat mata suaminya.
"Apa maksud kamu? "Harun berubah dingin.
"Kamu saja meragukanku, lalu atas dasar apa aku harus percaya pada kesetiaanmu? " bibir Ica bergetar meluapkan isi hatinya, kepalanya di penuhi wajah Harun dan wanita di restoran kemarin. "Aku percaya padamu mas, aku akan menunggu kamu menceritakan segalanya. Aku tak pernah mendengarmu membahasnya, aku percaya pertemuan kalian kemarin hanyalah sebuah ketidak sengajaan. " Batin Ica, kini cairan bening mulai menetes di sudut matanya.
***
"Kamu mau kemana? tidak usah ke kampus, kamu harus banyak istirahat. Aku akan menemanimu di rumah hari ini." kata Harun dingin, sepertinya sisa - sisa kekesalannya terhadap perkataan Ica kemarin masih membekas di hatinya.
__ADS_1
"Maaf, ada tugas penting yang harus ku kumpulkan hari ini, " Ica tidak mengindahkan perintah suaminya, tuntutan tugas kampus membuatnya kembali membangkang dan tetap bersiap - siap di depan cermin.
"Kenapa kamu selalu membantah seperti ini padaku, heh? " emosi Harun mulai memuncak, beberapa hari ini istri kecilnya itu selalu saja membuatnya kesal.
"Astagfirullah... istighfar mas, aku tidak pernah berniat untuk membantahmu, " mata Ica memerah mendapat tuduhan dan bentakan seperti itu.
Ica menarik nafas panjang, ia lalu mengambil ponselnya dan berjalan ke arah balkon. Ica sedang menelpon seseorang sesekali ia menunduk sopan seolah seseorang di seberang telepon itu bisa melihatnya.
"Siapa yang ia hubungi? kenapa harus menjauh dariku, apa itu Danu? " Kecurigaan kembali menyeruak di pikiran Harun.
Sepertinya kepercayaan perlahan memudar di hati leleki yang dulunya begitu hangat . Apa pantas jika rasa cemburu ia sandingkan dengan keraguan??
..
..
..
Mohon maaf man teman sepertinya selama ramadhan ini diriku akan slow up.
Jangankan puasa nulis aku juga mungkin akan puasa baca novel dulu sebulan ini 😂😂
Selamat menjalankan ibadah puasa, semoga bulan ini kita diberikan keberkahan yang melimpah.
#staysave
__ADS_1
#dirumahaja
😘😘😘😘