Harun Untuk Khaliesah

Harun Untuk Khaliesah
bulan madu


__ADS_3

tok tok tok


"Sayang kalian sudah siap ??" tanya lidya yang baru saja masuk ke kamar Ica.


Ica meletakkan liptint yang baru saja ia pakai. "sudah kok bunda !!"


Lidya menghampiri Harun yang masih sibuk dengan laptopnya. "nak Harun makan dulu."


"Iya bunda makasih." Harun menutup leptopnya dan segera memasukkannya ke dalam tas.


"Maaf yah bunda, Harun janji enggak bakalan sibuk kok di sana." jelas Harun berusaha menghilangkan kekhawatiran bunda Lidya.


"Iya nak, bunda tidak melarang mu untuk bekerja, yang penting kamu bisa membagi waktu mu dengan baik."


Iya bunda makasih, Harun memeluk mama mertuanya dengan sayang


Kita turun yah, ayah sudah menunggu kalian.


------


"Ayah dan bunda tidak usah mengantar, please... !!" bujuk Ica


Bunda tidak akan bertemu kamu selama tiga minggu, ijinkan bunda ikut mengantarmu ke bandara.


"Tapi Ica pasti bakalan nangis bunda." batin Ica


"Ica..." Harun menatap istrinya menggenggam tangannya erat, memberi isyarat agar Ica mengijinkan bundanya untuk ikut


"Baiklah..." jawab Ica lirih.


--------


Di bandara.


"Kalian hati-hati yah di sana, jaga kesehatan, " pesan Wirawan.

__ADS_1


"Jaga gadis kecil ayah ini baik-baik yah nak. " timpal Herman.


Sinta memeluk Harun. "kalian jangan bertengkar, jangan bikin Ica nangis. " bisik Sinta kemudian bergantian memeluk menantunya. "jaga kesehatan yah sayang." katanya mengusap lembut wajah menantunya.


Lidya tak bersuara hanya menatap sendu pada anak dan menantunya.


Melihat raut sedih mertuanya. Harun meraih tubuh itu dan memeluknya erat. "bunda jangan khawatirkan Ica, Harun janji akan menjaganya dengan baik." Lidya mengangguk, cairan bening yang tertumpuk jatuh membasah tanpa jeda.


Harun mengusap lembut punggung bunda Lidya yang kini bergetar, "sudah bun, Ica akan berat untuk pergi jika melihat bunda seperti ini," ucap Harun lembut menenangkan mama mertuanya.


Ica dan bunda Lidya saling berpelukan. meluapkan emosi yang membuncah lewat deraian air mata.


"*"*"*"


Bandara internasional Lombok.


"Wiii sob.... gila apa kabar loe? " Dito menepuk punggung Harun dalam rangkulannya.


"Baik, sorry sob malah ngerepotin loe begini !!"


"It's ok my bray, ini Ica istri loe??" tunjuk Dito pada Ica. Harun mengangguk.


"Tega yah loe sob , nikahan malah ngirim gua kesini," keluh Dito


Yahh kalau loe nggak ke sini gua nggak jadi nikah dong..


"Heh, iyah juga sih," Dito menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


-------


Di mobil..


"Kita kemana ??" tanya Dito yang sedang mengemudi.


langsung tinjau lokasi.

__ADS_1


"Gila loe yeh, ada istri loe noh, dari bandara ke hotel aja sudah lumayan jauh. pake mau ke resort lagi loe. "


"Nah loe tau, ngapain masih nanya. dablek loe." Harun menepuk kepala Dito.


"Sakit a*****g." Dito memegang kepalanya.


"Mulut loe jaga, ada istri gua." tegur Harun melirik istrinya. .


Iva tersenyum kecil melihat perdebatan kedua pemuda itu.


"Maaf yah Ica, suami loe tuh ngeselin banget tau nggak. " ucap Dito melirik dari spion.


Enggak apa-apa kok. lanjutkan !!


----------


Hotel vila ombak..


Ica menghempaskan tubuhnya di atas kasur. mengayunkan kaki dan tangannya menikmati kelembutan ranjang king size itu, "huhhh nyamannya. capek banget seharian cuma duduk."


Harun terkekeh melihat kelakuan Ica.


"Mandi dulu Khaliesah..." perintah Harun yang sibuk menyusun pakaian yang ia bawa ke dalam lemari.


"He he he maaf mas capek banget soalnya. ehh mas... biar Ica saja yang mengaturnya, mas Harun mandi saja dulu." teriak Ica melihat kesibukan suaminya.


"Tidak apa-apa biar mas yang melakukannya." katanya melanjutkan kegiatannya merapikan pakaian - pakaian yang di bawanya.


------------


.


.


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2