
Harun tertawa kecil, "polos banget sih," katanya mengusap kepala Ica yang tertutup jilbab.
Apaan sih, aku serius mas..
Tidak akan ada hati yang tidak terluka jika melihat orang yang di cintainya bersama dengan orang lain. Apalagi kalau ia tahu orang yang ia dekati itu sangat dicintai oleh pujaan hatinya.
Lantas mengapa ia begitu ikhlas membantu pujaan hatinya untuk dekat dengan orang lain ??
"Suatu saat nanti kamu akan mengerti." kata Harun tak lagi menjawab.
Tapi mas...
"Tidurlah !!" Harun menarik tangan Ica hingga tertidur di sampingnya lalu memeluknya erat.
"Mas..." Ica memberontak merasa sesak.
"Jangan banyak bergerak atau sesuatu yang kamu hindari akan terjadi malam ini." kata Harun menggoda dengan mata yang terpejam.
Seketika Ica terdiam tak lagi melakukan pergerakan apapun.
"Apa yang sedang dia fikirkan ?? Humpp dasar Mesum." Batin Ica, kini wajahnya sudah bersemu merah.
-------------
Di meja makan..
"Apa hanya perasaanku saja yah ?? Kenapa atmosfir ruangan ini terasa berbeda." Fikir Harun sambil melirik Herman, Lidya dan Ica bergantian.
"Ehemm, ap-a a-da se-suatu yang terjadi ??" Akhirnya Harun memulai pembicaraan, Ragu !! Yah namun Harun tidak bisa menahannya.
__ADS_1
Herman dan Lidya saling berpandangan. Meraka berdua lalu melirik Ica, yang merasa di lirik tertunduk malu. Herman dan Lidya lalu tersenyum melihat Ica yang tertunduk malu.
"Ada apa ??" Harun kembali bertanya setelah melihat mertuanya hanya saling senyum.
"Ahh. Tidak ada apapun nak, lanjutkan makanmu." Akhirnya Herman menjawab. Namun tetap saja tak memberikan jawaban pasti pada Harun.
----------
"Kopi mas !!" Lidya meletakkan secangkir kopi di depan Herman. Makasih sayang.
Lidya hanya tersenyum lalu kembali meletakkan secangkir kopi di depan Harun. "Makasih bunda." Lidya kembali tersenyum.
Seusai makan malam mereka bertiga duduk di ruang tamu sambil mengobrol ringan. Sedangkan Ica memutuskan untuk kembali ke kamar. Dengan alasan ingin melanjutkan menonton film koreanya.
Ohh yah nak, kapan kamu akan mengajak Ica kerumah barumu ??
Mmm, entahlah yah, Harun menunggu momen yang pas.
Harun menggeleng. "Aku ingin mengajaknya melihat rumah itu dulu, jika dia suka dan bersedia untuk tinggal disana, yah kami akan pindah. Jika tidak, maka akan tetap seperti ini. Hari kerja dirumah bunda dan akhir pekan di rumah mama." Kata Harun santai dengan senyum yang tetap mengambang.
Ohh yah bunda... ayah... sebenarnya apa yang terjadi ?? Kenapa Ica dan kalian diam seperti tadi.
Herman dan Lidya kembali saling tatap lalu tersenyum.
Tidak ada apa pun nak.
"Ayolah bunda... Jangan bikin Harun penasaran." Rengek Harun.
Herman malah terkekeh melihat tingkah menantunya.
__ADS_1
Bagaimana perasaanmu saat ini pada Ica ??
Maksud ayah ??
Apa kamu mencintai Ica ??
"Ayolah yah jangan membuatku malu. " Kini wajah Harun sudah memerah. "ayah dan bunda sudah tahu apa jawabannya." Lanjut nya.
"Sudah... sudah kalian istirahatlah. Besok kan kerja." Lidya menghentikan perbincangan setelah melihat Harun yang merasa malu akan pertanyaan suaminya.
"Yahh, tidurlah nak." Timpal Herman.
Harun lalu mengangguk dan segera menuju kamar. Demi apapun rasanya begitu malu di sodorkan pertanyaan seperti itu, apalagi sama mertua.
"Kamu kenapa mas ??" Ica merasa heran melihat Harun yang masuk ke kamar dengan begitu tergesa - gesa.
"Ahh, tidak." Katanya lalu duduk disamping Ica.
"Perasaan tuh film kagak tamat - tamat." Ceplos Harun setelah melihat laptop Ica yang sudah seminggu ini menampilkan pemain yang sama.
..
..
..
..
..
__ADS_1
..