
Ica merasa tidak nyaman di tatap seperti itu oleh lelaki di hadapannya, ia kembali memalingkan wajahnya menatap Dita yang kini terlihat muram, "ya Tuhan, ku harap Dita tidak akan salah paham dengan tatapan Danu.," gumam Ica, ia sungguh tidak ingin sahabatnya kembali terluka dengan kebodohan yang di lakukan Danu sekarang.
Dita membalas tatapan Ica dengan senyuman, jelas terlihat kegetiran dalam senyuman itu.
"Danu... apa sampai saat ini kamu tidak bisa melupakannya, senyummu begitu hangat saat menatapnya,"
"Heii... kamu kenapa?? " Danu mengacak rambut Dita. Membuat Dita tersadar dari lamunannya.
"Heh.. Danu... apaan sih, kamu selalu saja seperti ini, " Dita memutar bola mata malas, lalu merapikan rambutnya dengan jari tangannya.
Danu menumpu wajahnya dengan satu tangan, tersenyum menatap Dita yang sedang menggerutu merapikan rambutnya.
Dita menunduk, merasa malu akan tatapan itu, "ngapain sih Nu' ngelihatin kayak gitu, heh?? " Dita melirik kesal Danu lalu kembali menatap ke sembarang arah. Jantungnya berdegup dengan kencang saat tatapan Danu terus saja mengarah kepadanya.
"Kangen deh, melihatmu mengomel dengan wajah tertekuk sepert itu, " lirih Danu tanpa memalingkan tatapannya.
Jantung Dita semakin kencang menabuh dram, mendengar kalimat itu terucap dari mulut lelaki yang selama ini di cintainya.
__ADS_1
"Ehhemm, Dit.. aku ke perpus dulu yah," kata Ica lalu berdiri dari duduknya, ia tahu kehadirannya hanya akan mengganggu nostalgia dua manusia di hadapannya.
"Cha.. mau kemana?? kita ada kuis loh, " Dita menahan tangan sahabatnya, memberi kode dengan tatapan memelasnya, berharap Ica tidak akan meninggalkannya dalam situasi canggung seperti ini.
Ica melirik jam yang melingkar di tangannya, "masih setengah jam lagi, " katanya dengan tersenyum, ia berhenti sejenak di samping Danu, menepuk kecil bahu pemuda itu untuk menyemangatinya sebelum akhirnya ia berlalu meninggalkan ruangan itu.
Sekarang hanya ada Danu dan Dita, keheningan yang tercipta membuat hati Dita begitu gusar, ia sungguh bingung harus bersikap seperti apa saat ini.
"Kamu apa kabar, " tanya Danu basa - basi mencoba mengusir kecanggungan.
Dita mengangguk kecil, "baik kok, kamu?? "
Dita lalu ikut tertawa geli, "hehh, iya apaan sih kita ini, " Dita mengusap - usap tengkuknya, masih merasa kikuk dengan suasana yang tercipta.
Lagi... Dita kembali terdiam, ia terlihat begitu gelisah, ingin rasanya ia menanyakan banyak hal pada lelaki yang kini duduk di hadapannya, namun semua pertanyaan itu begitu sungkan keluar dari mulutnya.
"Maaf... jika selama ini aku tiba - tiba menghilang dan tidak ada kabar," tutur Danu menjawab keresahan teman lamanya itu. "Lebih tepatnya sih, maaf karena aku menghindarimu, hehe, " lanjut Danu tertawa kecil menggaruk tengkuknya.
__ADS_1
Dita menautkan kedua alisnya, berusaha memahami kalimat terakhir yang di ucapakan Danu.
"Hemm, " Danu menganggukkan kepala, "selama ini aku menghindari kamu gadis MANJAKU, " katanya tersenyum hangat mencubit hidung Dita.
"Gadis manjaKu?? " gumam Dita menekankan akhiran dari kata itu. "ya Tuhan, perasaan apa ini?? kenapa tatapan itu..... " kalimat Dita menggantung, ia berusah membuang fikiran - fikiran konyol yang saat ini sedang menari - nari di kepalanya. Dita sungguh tidak ingin terluka dengan harapan palsu yang di ciptakannya sendiri
"Apa aku membuatmu marah?? kenapa kamu ingin menghindariku?? " akhirnya kalimat itu yang di lontarkannya.
Danu tersenyum hangat, "tidak!! aku hanya sedang menyesali kebodohanku, " katanya mengacak lembut rambut Dita, lalu beranjak meninggalkan ruangan itu.
Dita terus memandangi punggung itu hingga hilang dari jangkauan matanya. Dita masih tidak bergeming, tatapannya masih menatap ke arah kosong yang baru saja di lewati Danu, berusaha mencerna tentang apa yang di dengarnya barusan.
..
..
..
__ADS_1
..