
Harun menuruni tangga dengan lunglai, masih terlihat kantuk di matanya. Bahkan ia berulangkali menutup mulutnya yang sedang menguap.
Ehh sudah bangun sayang ??
Harun tidak menjawab, ia mendekat dan merebahkan tubuhnya di pangkuan Sinta.
Kok malah tidur di sini sih sayang ?? Kalau masih ngantuk kamu tidur lagi saja di kamar.
Lagi - lagi Harun tak menjawab, ia hanya menggelengkan kepalanya dengan mata yang masih tertutup.
Sudut bibir Ica terangkat melihat tingkah Harun yang seperti anak kecil.
"Enggak malu apa, di lihatin tuh sama istri ?" tegur Sinta melirik menantunya.
Ngapain malu ?? Dia istri aku jadi harus menerima aku apa adanya.
"Husssst, enggak baik ngomong kayak gitu." Sinta membungkam mulut Harun. "Maaf yah nak !! Anaknya mama memang manja dan suka asal ceplos gini."
"Enggak apa - apa mah, mas Harun memang benar kok, sebagai suami istri kan kita memang harus saling menerima kekurangan masing - masing, bukan mau enaknya saja." jawab Ica sopan.
"Ma bikinin kopi dong ??" Pinta Harun dengan manja, tangannya menggenggam erat tangan Sinta dan menciumnya berulang lalu meletakkan genggaman itu di pipinya.
"Biar saya saja mas." Seru Ica yang langsung berdiri.
"Enggak usah, makasih." Jawab Harun lirih tersenyum kearah Ica.
"Ma ??" Rengek Harun,
"Ya sudah mama yang buatkan, kamu bangun dulu." Harun kemudian mendudukkan tubuhnya.
__ADS_1
"Biar mama saja sayang," kata Sinta melihat tatapan Ica yang merasa sungkan, lalu menepuk kecil pundak menantunya dan segera menuju dapur.
Ica kembali mendudukkan tubuhnya di sofa.
puk puk,
Harun menepuk sofa.
Ica hanya menatap heran.
"Duduk sini ..." Harun kembali menepuk ruang kosong di sampingnya.
Baru saja Ica mendudukkan tubuhnya Harun langsung tidur di pangkuannya.
"Apaan sih mas !!" Ica menutup wajah Harun dengan kedua tangannya. Ia merasa sangat malu karena Harun terus saja menatapnya.
Harun tersenyum jahil lalu menggenggam tangan Ica. "Aku kenapa ??" Tanya Harun pura - pura **** menatap Ica.
Yah masa mas Harun natap istri orang, kan enggak lucu !!
Ica memonyongkan bibirnya kesal dengan jawaban Harun.
Ha ha ha. Harun terbahak membuat Kca semakin kesal.
Ica menarik paksa tangannya yang di genggam Harun. "Enggak lucu !!" Katanya yang sudah ingin berdiri.
"Maaf, mas hanya gemas melihatmu cemberut seperti itu." Harun kembali meraih tangan Ica menggenggamnya erat dan menciumnya berulang. Ia begitu takut Ica akan merasa sedih lagi.
"Ha ha ha." Sekarang malah Ica yang terbahak.
__ADS_1
Harun menautkan alisnya heran, "Kok malah balik ketawa ??"
Muka mas Harun lucu banget kayak gitu.. Biasa ajah mas, (Ica mengusap wajah Harun) Ica juga cuma bohongan kok kesselnya 😅
Kok di lihatin gitu lagi ??
Mas suka lihat kamu ketawa lepas gitu.
"Ehem..." Sinta berdehem saat kembali dan mendapati anaknya sedang bermesraan.
Ica tertunduk wajahnya memerah, merasa malu karena terciduk.
"Nih sayang kopi kamu." Sinta meletakkan secangkir kopi di atas meja dengan wajah yang tak hentinya mengukir senyum.
"Mama kenapa ??" Harun terheran melihat mamanya nyengngir.
Ahh tidak, mama hanya bahagia melihat kedekatan kalian seperti ini.
Harun menganggukkan kepala, sembari menyeruput kopi yang di buatkan Sinta. "Makasih mah kopinya, enak !!" Katanya dengan tersenyum manis.
Mereka bertiga pun larut dalam perbincangan yang hangat. Rasa rindu yang Sinta rasakan diluapkannya dalam obrolan yang penuh dengan tawa bahagia bersama anak dan menantunya.
..
..
..
..
__ADS_1
..