
Aku hanya takut anak kita hamil. "Lirih Herman"
Hahh?? jadi kamu diam seperti ini karena ucapanku tempo hari?? "kaget Lidya"
Herman menganngguk membenarkan.
Bukannya semua orang tua ingin anaknya hamil agar mereka bisa menimang cucu. Lalu??
Bun... kamu seorang ibu, kamu mengerti bagaimana tersiksanya hamil dan bagaimana sakitnya saat melahirkan. Anak kita masih terlalu kecil untuk harus merasakan itu semua, aku takut itu justru akan membahayakan dirinya. Kini perasaan cemas tergambar jelas di wajah Herman.
Mas... aku memahami ke khawatiranmu. Tapi harus bagaimana lagi, anak kita memang menikah terlalu cepat. Tidak mungkin kan kalau kita terang - terangan melarang Harun menghamili Ica.
Kan bisa ditunda dulu bun??
Yah sudah.. kalau begitu ayah bicarakan saja dengan Ica dan Harun, tapi ingat jangan memaksanya, dan jangan sampai ucapanmu justru membuat nak Harun jadi tersinggung.
Dan satu hal yang mesti kamu tahu, melahirkan mungkin saja sakit, tapi dengan melihat buah hati kita terlahir ke dunia, itu adalah satu hal yang paling membahagiakan, semua wanita menginginkan menjadi seorang ibu mas,
Herman menghembuskan nafas kasar, mencoba mencerna setiap ucapan istrinya.
Sebaiknya sekarang kamu ke kamar Ica, tenangkan dia karena mungkin saja saat ini dia sedang menangis.
__ADS_1
Makasih sayang. Herman mengecup singkat kening Lidya dan beranjak meninggalkannya.
--------
tok tok tok
Herman membuka pintu pelan setelah mengetuknya. Pandangannya mengedar ke seisi kamar Ica, perlahan kakinya mulai melangkah saat dilihatnya Ica sedang duduk memeluk kakinya di bawah tempat tidur.
Kamu kenapa sayang?? Herman membelai lembut Ica yang sudah di banjiri air mata.
Ica hanya menggelengkan kepalanya.
Maafkan ayah nak, ayah hanya sedang memikirkan masalah di kantor. Maaf jika ayah jadi tidak meluangkan waktu untukmu. Herman meraih tubuh gadis kecilnya menenggelamkan wajah Ica di dadanya.
Maaf yah maaf kalau Ica sudah membebani ayah.
*H*ussst, enggak boleh ngomong gitu. Kamu anak ayah satu - satunya, seluruh hidup ayah hanya untukmu jadi jangan pernah berfikir kamu membebani ayah.
Sudah jangan nagis lagi, kamu kan sudah jadi istri orang, masa iyah masih cengeng kayak gini.
Ayah..... Ica memumul - mukul dada Herman.
__ADS_1
Herman tertawa melihat aksi protes anaknya. Sudahh sekarang kamu cerita bagaimana bulan madumu dan Harun?? tanya Herman yang sudah membantu Ica bangkit untuk duduk di ranjang.
Menyenangkan !! mas Harun selalu mengajakku berkeliling pulau, dan pergi ke tempat - tempat yang indah. Mas Harun sangat baik padaku yah. Kata Ica antusias.
Kamu bahagia?? Ica mengangguk dengan cepat.
Syukurlah nak, ayah senang kamu sudah bisa menerima Harun, maafkan ayah membuatmu menikah secepat ini. Seharusnya saat ini kamu sedang bersenang - senang dengan teman - temanmu. Kata Herman membelai kepala Ica kini matanya sudah memerah menahan cairan bening yang menumpuk.
Kok ayah ngomong gitu?? Ica memonyongkan bibirnya (cemberut) ia sangat tak suka jika kedua orang tuanya selalu saja menyalahkan diri mereka atas pernikahan ini.
Sekarang Ica juga bersenang - senang kok walaupun hanya dengan mas Harun, tapi Ica sangat bahagia mas Harun bisa menjadi teman yang baik buat Ica. "jelasnya"
Herman tersenyum bahagia mendengar ucapan Ica, dia bersyukur Ica tidak lagi merasa terpuruk seperti waktu itu.
Iya sayang... Terima kasih karena anak ayah ini tidak merasa sedih. (Herman menggoyang - goyangkan dagu ica). Terima kasih karena kamu merasa bahagia, dan terima kasih karena akhirnya kamu bisa menerima Harun dan pernikahanmu.
Ayahhh...... mulai dehh!!
..
..
__ADS_1
..
..