
Herman menyodorkan selembar foto ke arah Ica.
Ica yang sedang asik makan, mengernyitkan keningnya menatap foto tersebut lalu menatap ayah meminta penjelasan.
"Kamu enggak kenal ?" Tanya Herman merasa heran.
Ica menggelengkan kepalanya.
"Kan baru ketemu tadi nak, kok sudah lupa saja sih", ucap bunda Lidya heran.
"Hmmm ayah sudah curiga tuh bun Ica pasti enggak ngehh sama sih Harun tadi. Atau sengaja enggak mau lihat ??" Tanya Herman Curiga.
Lidya hanya tersenyum
"Hehe maaf ayah, Ica gagal fokus", Ica kembali menyantap makanannya tanpa berniat melirik foto yang ada di hadapannya lebih jelas.
"Sayang,,, kamu benar-benar seriuskan dengan keputusanmu ini, kamu serius akan menikah dengan Harun?" Herman kembali memastikan, dia tak ingin jika kelak Ica akan menyesali keputusannya.
Ica tersenyum dan menganggukkan kepalanya. "Bagaimana dengan mas Harun apakah dia juga menyetujui perjodohan ini??" kini Ica balik bertanya.
Yahh Harun menyetujuinya.
Ica kembali menganggukkan kepalanya.
"Sayang, tadi kami semua sudah membahas waktu yang baik untuk melangsungkan pernikahanmu dan kami memutuskan untuk melaksanakannya dua bulan lagi." Jelas Lidya sambil mengelus pucuk kepala putrinya.
"Haaaa." Ica membelalakkan matanya menatap Herman dan Lidya bergantian. "Enggak salah bun, bukannya itu terlalu cepat ? Ica kan baru saja lulus, nikah kan nggak semudah itu bunda".
Tapi kamu akan segera memasuki bangku kuliah nak, kamu akan sangat sibuk kami hanya tidak ingin membebanimu dengan pernikahan saat kamu tengah sibuk. Kami tidak ingin kamu merasa lelah, maka dari itu kami memutuskan melangsungkannya di saat kamu masih senggang seperti saat ini.
__ADS_1
"Mas Harun setuju?" Tanya Ica menyelidik.
Bunda Lidya menganggukkan kepalanya.
Ica mendesah dadanya terasa sesak, Ica tidak menyangka semuanya akan terjadi secepat ini. "Ngapain sih tuh orang pakai acara setuju, nggak bisa apa nolak dikit", bathin Ica.
Ica tersenyum tipis. "Ya sudah terserah kalian saja, Ica ke kamar dulu."
Loh sayang makanannya ??
"Sudah kenyang bundaku sayang." Goda Ica mencubit kedua pipi bunda Lidya, Ica tidak ingin Herman dan Lidya melihat keresahan di matanya.
"Fotonya nak? " Herman menyodorka foto yang sejak tadi di abaikan putrinya. Ica mengambilnya dengan malas dan segera berjalan menuju kamar nya.
________
Di kamar Ica..
Sekarang aku benar-benar dilema dengan semua ini.
Kenapa sih mereka harus terburu-buru seperti ini.
Yah Allah nyessel enggak yah?
Salah enggak yah keputusanku ini?
Haaaaa nyebbellin banget sih tuh cowok, lempeng banget, enggak niat apa membela diri. Kenapa harus legowo gitu sih menerima keputusan orang tuanya.
Ica berjalan menuju meja di samping tempat tidurnya, menyelipkan foto yang sedari tadi dia pegang ke dalam buku jurnalnya. kemudian meraih ponsel yang tergelatak di atas meja itu.
__ADS_1
"Taaa'" Ucap Ica ketika panggilan tersambung.
Yahh??
"Heeeeee Dita" rengek Ica membuat Dita merasa kaget.
"Ehh ehh kamu kenapa Ica? kok nangis gitu? lagi ada masalah?" Panik Dita.
"Ta' masa' dua bulan lagi aku nikah, hikss."
"Haaa? apaaa? kamu enggak salah ? kok cepet banget. Tunggiin yah tungguin aku ke rumahmu sekarang" Tanpa menunggu jawaban dari Ica, Dita mematikan ponselnya. Dan segera bersiap menuju rumah Ica.
"Isshhhh apaan sih nih orang neror pertanyaan banyak gitu tapi malah main matiin aja". Ica melempar ponselnya ke kasur.
15 menit kemudian..
"Icaa" Dita berlari memeluk Ica yang sedang asyik bermain handphone.
"Apaan sih kamu? ehh ehh kok cepet banget sampenya kamu terbang apa teleportasi,"
Ica heran melihat Dita yang tiba-tiba sudah nongol di depannya.
Hehehe kan urgent Cha, dikit ngebbut nggak masalah lah.
"Yah masalah lah, ntar kalo ada apa-apa sama kamu kan aku juga yang repot. panggilan terakhir kamu kan noner aku, ntar aku harus jadi saksi lagi ke kantor polisi. Issshh malas banget dehh !!", Ica meledek dengan kedua tangan terlipat di perutnya.
"Apaan sih Ica jauh banget deh kamu mikirnya, yah nggak gitu amat kalee. Masa doain aku yang enggak-enggak gitu". Ketus Dita memanyunkan bibirnya.
..
__ADS_1
..
..