Harun Untuk Khaliesah

Harun Untuk Khaliesah
calon mertua


__ADS_3

Sesampainya di depan rumah, Ica yang baru saja turun dari ojol berlari memasuki pekarangan rumah, dia begitu bersemangat untuk menyampaikan kebar kelulusannya kepada Herman dan Lidya.


***...... kalimat Ica terhenti melihat sosok pria asing yang tengah duduk dan berbincang bersama orang tuanya.


Ehhhh kamu sudah pulang sayang, gimana hasilnya?


"Assalamu'alaikum yah, bun." Ica menghampiri Herman dan Lidya mencium punggung tangan orang tuanya, seketika senyum di bibirnya menjadi datar saat melihat beberapa orang yang asing dimatanya.


"Bang Wirawan, mba Sinta kenalin ini Ica putri kami", ucap Herman menggenggam lengan Ica dengan senyum bahagia.


"Mas Herman apa sih, seperti kami tidak pernah bertemu Ica saja.


Sini sayang duduk dekat tante", ucap Sinta dengan senyum indahnya melihat sosok sang calon menantu.


Hah, aku pernah bertemu dengan mereka ?? kok aku gak ingat. Batin Ica.


Gimana sayang hasil kelulusanmu tadi, kata bunda hari ini kamu sudah ada pemungumuman yah ??


"Iya tante alhamdulillah aku lulus. " Jawab Ica lirih" Sumpah demi apa, saat ini jantung Ica berdebar begitu hebatnya, sekarang ia tahu siapa orang-orang yang berada di rumahnya saat ini karena Herman tadi menyebutkan nama Wirawan, Ica sama sekali tak berani melirik sosok pria yag tengah duduk di hadapannya. Ica yakin orang itu pasti adalah lelaki yang telah di jodohkan dengannya.


"Ica, ini Harun anggara putra om dan tante." Kata Wirawan menggenggam bahu anaknya.


Ica hanya tersenyum dan mengangguk, matanya hanya fokus menatap Wirawan dan tak sedikit pun ingin melirik Harun.


Harun mengulas senyum, namun ia sedikit kecewa karena gadis di depannya bahkan tak meliriknya. Ia terus menatap wajah Ica.


kenapa dia seperti tak mengharapkanku, ada apa dengan raut sedih itu ?? Harun.


"Maaf, aku pamit ke kamar dulu", ucap Ica berharap dapat segera kabur dari pertemuan antar kedua keluarga tersebut.


"Yaa sudah sayang kamu pasti lelah, istirahatlah", sahut Lidya"

__ADS_1


Maaf yah om tante, Ica ke kamar dulu.


Wirawan dan Sinta menganngguk.


__________


Di kamar..


Ica menghempaskan tubuh di atas kasur, memejamkan matanya, kini ada banyak hal yang mengisi kepalanya dannnn tanpa aba~aba air matanya pun kini sudah menetes ..


"Hhhhhhmmmmm haaaaaaaaa",Ica menarik nafas panjang.


Ada apa dengan hati ini


aku yang telah memutuskan segalanya


namun mengapa seakan aku masih tak sanggup menerimanya.


maafkan segela kebimbanganku


maafkan segala keraguan yang berkecamuk dihatiku


Tuhan...


berikanlah keikhlasan di hati ini


aku tak ingin melukai siapapun


mantapkanlah hatiku menerima perjodohan ini


karena ku tahu

__ADS_1


takkan ada pernikahan yang sia~sia


___________


"Sayang makan malam dulu yuk,, capek banget yah ?? belum ganti seragam udah bobo ajah."


Mmmm enggak kok bunda, Ica menggeliat dan semakin memeluk gulingnya erat.


"Heiii bangun, jangan malas gitu kan calon manten" Ledek Lidya.


Ica mendongak menatap lekat mata bunda Lidya. "Apaan sih bunda, Ica tuh gugup kalau bahas masalah beginiaan, bunda enggak tahu apa jantung aku rasanya udah kayak mau lompat keluar aja ini". Dessahh Ica dalam hati


"Ehh iya bunda, keluarga om Wirawan masih ada di bawah?" Tanya Ica ketika ingin turun dari tempat tidurnya.


Mmmm, habis makan siang tadi mereka sudah pulang. Tadi bunda ke kamar kamu mau manggil tapi liat kamu lagi tidur pulas gitu jadi bunda enggak tega banguninnya.


Mmmm, Ica mengangguk-anggukkan kepalanya. "Bunda duluan aja yah Ica mau mandi dulu". Katanya berlalu menuju kamar mandi.


___


"Ehhh sayang... sudah seger aja." Sambut ayah Herman ketika Ica menuruni tangga.


Gimana perasaannya sudah lulus sekolah ??


"Mmm hehe legga banget yahh, beban di kepala Ica sekarang rasanya sudah terhempas semua.


plongggg banget deh pokoknya". Ica tersenyum cekikikan.


..


..

__ADS_1


..


__ADS_2