
Ica kembali terisak di balik pintu kamarnya.
Sejujurnya sudah seminggu ini Ica mencurahkan segala kegundahan hatinya dalam sholatnya.
Dia hanya bisa menangis dalam doanya berharap sang pencipta dapat memberi jawaban atas kegundahannya.
*Y**a Allah*...
Jika perjodohan ini adalah takdir untukku
Jika pria itu memang jodoh yang engkau siapkan untukku..
Jika ia adalah Imam yang mampu menuntunku ke jalan_Mu..
Maka lapangkanlah dadaku, ikhlaskan lah hatiku untuk menerimanya..
Aku tak ingin salah dalam mengambil keputusan,,
Maka tuntunlah aku dalam kebimbanganku..
Ica kembali terisak dalam simpuhnya..
maafkan Ica ayah, maafkan Ica jika sudah melukai hati ayah dengan sikap Ica ini,
Ica tahu ayah tidak akan marah jika Ica menolak perjodohan ini..
Namun Ica juga tidak bisa mengabaikan permintaan terakhir dari opa.
Ica menenggelamkan wajahnya di balik kedua lengan yang kini memeluk lututnya.
Ica mencoba menyudahi kesedihannya, dan mengambil sebuah buku, dia berharap dengan membaca, fikirannya akan sedikit tenang..
__ADS_1
----------
tok tok tok
"Ica... Dita ada di bawah sayang." panggil Lidya setelah mengetuk pintu.
"Suruh kesini saja bun." Sahut Ica tanpa membuka pintu.
"Icaaaa... kangen banget dehh." Teriak Dita saat membuka kamar Ica, ia lalu berlari kecil menghampiri Ica yang sedang membaca buku di atas kasurnya.
"Lohh Ica .. kamu kenapa beib ? kok mata kamu sembab, kamu lagi ada masalah ?? cerita sama aku". Heboh Dita yang khawatir melihat wajah sahabatnya yang begitu kacau.
Ica hanya tersenyum dan menggelengkan kepalanya.
"Ica please aku tahu kamu bohong, cerita sama aku kamu ada masalah apa." Dita sangat berharap Ica akan meluapkan segala kegundahannya.
Ica diam tertunduk, matanya mulai memerah.
"Aku di jodohin." Ucap Ica lirih, suaranya mulai bergetar.
Apa ?? serius ??
Kamu nggak salah kan ??
Setahu aku om Herman nggak pernah memaksakan kehendaknya padamu.
"Aku tahu om Herman enggak bakalan mungkin biarin kamu jadi nampak hancur seperti ini hanya karena dia ingin menjodohkanmu", ujar Dita tak percaya.
Ica mengangguk membenarkan apa yang di katakan sahabatnya.
Ayah enggak maksa aku untuk menerima perjodohan ini.
__ADS_1
Terus apa lagi ?
Kenapa kamu justru terpuruk seperti ini.
kamu tahu om Herman tak akan marah jika kamu menolaknya, lalu kenapa kamu seperti ini.
Aku tahu sikap aku ini salah Dita, tapi aku juga tidak bisa mengambil keputusan tanpa memikirkannya dengan matang,
aku tahu ayah saat ini sangat sedih melihat aku seperti ini, tapi aku juga tidak bisa semata-mata hanya menolak dan kembali melupakan perjodohan ini.
Ini amanat terakhir dari opa ku, aku tahu ayah sangat ingin memenuhinya. Aku tidak ingin ayah berpura-pura bahagia menerima aku menolak perjodahan ini, sementara hatinya terluka karena harus mengabaikan harapan terakhir opa.
Ica kembali terisak, dadanya tak lagi sesak menahan perasaan ini sendirian. Ica bersyukur ada Dita di sampingnya.
Dita memeluk erat tubuh Ica, "Kenapa hati mu begitu mulia Ica, kamu selalu saja mementingkan perasaan orang lain. Jika aku yang ada di posisimu, pasti saat itu juga aku akan menolak dan menganggap pembicaraan itu tidak pernah ada".
Ica pun larut dalam pelukan Dita, mereka berdua terisak dalam keheningan.
Yang sabar yah Cha, aku tahu apapun keputusanmu nanti itu adalah yang terbaik, dengan senang hati ayah dan bunda mu pun pasti akan menerimanya.
Ica hanya tersenyum dan kembali memeluk Dita.
Ada perasaan lega di hatinya..
..
..
..
..
__ADS_1