
Astagfirullah datang bulan benar - benar membuatnya menjadi Ica yang berbeda, Harun mendengus kesal lalu berlari meraih tangan Ica dan kembali menggenggamnya.
Ica hanya meliriknya sesaat lalu kembali mengarahkan pandangannya ke depan.
***
Ica sedang berkutat di dapur, tangannya terlihat sibuk mengupas kentang dan wortel.
"Masak apa sayang??" Harun menghampirinya dan langsung memeluknya dari belakang.
"Masak sayur sop, dan ayam goreng, " tunjuk Ica ke arah wajan di atas kompor. " Kamu suka kan??" Tanya Ica sedikit menoleh pada suaminya. Harun menganggukkan kepalanya yang sedang bertumpu di bahu istrinya.
Ica sangat menikmati momen ini, "hehh, aku berasa sedang syooting drama korea, dia memang lelaki luar biasaku. Terimakasih ya Allah."
"Sejak kapan kamu bisa masak??" tanya Harun menghempaskan lamunan Ica.
Sejak nikah sama mas Harun.
"Jangan menggodaku," bisik Harun lalu menggigit kecil telinga istrinya.
"Awww, sakit mas!!" Ica melototkan mata kesal sambil memegang kupingnya. "Siapa yang menggodamu, heh?? Aku memang baru masak sejak menikah denganmu, selama ini aku hanya membantu bunda dan bik Ipah tanpa pernah mencoba untuk memasak sendiri." Lanjut Ica dengan kesal.
Harun mendekap wajah yang nampak tertekuk itu, memeluknya erat. "Maaf, jika aku sudah meragukanmu," katanya lirih lalu mendaratkan ciuman bertubi - tubi di pucuk kepala itu. "Terimakasih, aku sungguh terharu, kamu selalu melakukan sesuatu yang tidak pernah kamu lakukan dan itu hanya untukku, " imbuhnya.
Hati Ica benar - benar luluh lantah mendengar ucapan suaminya, ia tak pernah berfikir akan mendapatkan ketulusan seperti ini. "Ku fikir perjodahan ini akan membuat hari - hariku di penuhi kekelaman, ternyata tidak!! karena Tuhan mengirimkanku suami yang begitu sempurna sepertimu."
__ADS_1
"Lepaskan mas, kapan masakannya akan selesai jika kamu terus saja menggangguku." Protes Ica memalingkan wajah merahnya dan kembali menyelesaikan masaknya.
Harun memutuskan untuk duduk di kursi, menatap punggung istrinya yang sedang sibuk dari meja makan.
"Sudah siap!!" dengan penuh semangat ia menata masakannya di atas meja, berharap sang suami akan menyukainya.
Dengan lahap Harun menyantap masakan yang di suguhkan oleh istrinya, ia benar - benar tidak menyangka, moment indah seperti ini akan selalu mengisi hari - harinya.
****
Sudah sebulan sejak kepindahan mereka di rumah baru itu, dan sejak minggu lalu Ica sudah menjadi mahasiswi baru di universitas swasta yang berada tak jauh dari rumahnya.
Dan hal yang paling membuatnya bahagia adalah, Dita memutuskan kuliah di tempat yang sama dengannya, dengan alasan kampus itu dekat dengan kantor papanya.
Ica tidak peduli dengan alasan apapun yang di katakan Dita, rasa bahagianya bisa kuliah bersama sahabatnya mengalahkan rasa keingintahuannya.
Derttt derttt, Ica meraih ponsel yang bergetar itu.
"Siapa Cha'??" tanya Dita penasaran.
"Mas Harun, " jawabnya dengan bahagia.
"Cieee,,, enaknya ada yang merhatiin, " ledek Dita. Namun tidak di gubris oleh Ica.
chating...
__ADS_1
" Kamu sudah makan siang belum, sayang??" Harun.
"Ini lagi makan siang di kantin mas, sama Dita. " Ica.
"Mmm, enaknya jadi Dita, bisa selalu makan siang sama kamu. Mas jadi cemburu 😒" Harun
"Apaan sih mas, kan makan siang doang. Sarapan sama makan malamnya kan sama kamu. " Ica
"Ya sudah, kamu lanjutkan makanmu. Mas ada meeting. 🤗😘😘" Harun
" Ok, jangan sampai lupa makan sayangku, 🤗😘😘" Ica
"Ehemm, asyik banget, sampai lupa kayaknya masih ada orang di sini, " sindir Dita.
"Apaan sih, makanya cari pacar, biar ada teman chating, " kesal Ica kembali menyindir Dita.
"Huhh, kamu selalu saja memakai senjata itu untuk membalasku. " Dita memutar bola matanya malas dengan bibir yang ia manyunkan.
Ica terkekeh melihat kekesalan sahabatnya itu.
..
..
..
__ADS_1
..