Harun Untuk Khaliesah

Harun Untuk Khaliesah
Mendapati Kebenaran


__ADS_3

Harun berlari menyusuri lorong rumah sakit dengan begitu cepat, tak ada lagi yang di hiraukannya kecuali bisa tiba dengan cepat di UGD. Langkah itu semakin cepat tatkala dirinya melihat Tama yang sedang mondar - mandir di depan ruangan itu.


"Apa yang terjadi dengan istriku?" tanyanya dengan suara meninggi mencengkram lengan Tama. Harun seolah mengabaikan rasa lelah, yang kini membuat nafasnya naik turun.


"Tenangkan dirimu dulu." Tama menepis tangan Harun dengan kasar.


"Bagaimana kau bisa menyuruhku tenang di saat seperti ini, shitt!" berteriak, menendang keras ke udara. Berkali - kali tangan itu bergerak memijat pangkal hidungnya lalu beralih meremas rambutnya dengan kuat. Seolah menggambarkan betapa kacau perasaannya ssat ini.


"Kenapa loe diam, ngomong istri gua kenapa." Ingin sekali rasanya Harun melayangkan tinjunya pada lelaki itu.


"Ica pingsan karena hampir tertabrak mobilku."


Sungguh jawaban itu semakin menambah murka kekesalan Harun, "brengsek!" satu tinju Harun mendarat di wajah Tama.


Dita dan Danu yang baru saja datang, segera menenangkan dan menjauhkan Harun dan Tama.


Tama tidak berkata apapun, ia sama sekali tidak berniat meladeni lelaki yang sedang penuh amarah itu. Sungguh dirinyapun merasa bersalah atas kondisi adiknya saat ini.


"Loe... ngapain loe ada di sini." menunjuk tegas ke arah Danu yang sedang membantu Tama berdiri.


Danu tidak menggubris, ia hanya melirik Harun sesaat lalu kembali mengalihkan tatapannya pada lelaki yang di bantunya.


"Danu mengantarku mas." Jawab Dita berharap Harun bisa mengerti.


Tak lama seorang Dokter keluar dari ruangan itu. "Dok, bagaimana keadaan istri saya Dok?" tanya Harun dengan panik menghampiri Dokter itu.


"Istri dan anak anda baik - baik saja, dia hanya sedikit syok. Saya permisi." Dokter itu berlalu meninggalkan Harun yang mematung karena syok, "anak? " gumamnya. Dirinya lalu segera berlari masuk ke ruangan itu.


Harun menatap wajah istrinya yang terlelap di atas pembaringan itu, menyibak rambutnya lembut. Mata lelaki itu langsung terfokus ke arah perut istrinya, menatapnya lamat - lamat lalu kemudian mengusapnya dengan lembut. "Apa benar kamu sedang hamil, sejak kapan? kenapa aku sebodoh itu hingga tidak menyadarinya." gumam Harun. "Maaf! " mengecup kening istrinya.


Harun kembali keluar untuk menemui Dita dan yang lainnya.


"Bagaimana keadaan Ica, mas?" Dita.


Tama yang baru saja ingin bertanya mengurungkan niatnya saat mendengar Dita menyakan hal yang sama yang ingin di ketahuinya.

__ADS_1


"Dia baik - baik saja, sekarang dia sedang tidur." berbicara dengan lembut dan sopan pada sahabat istrinya. Lalu kembali menatap tajam pada dua lelaki yang berdiri tak jauh dari Dita. Sungguh perbedaan yang ruarrr biasa, pantas saja jika Ica selalu mengatakan suaminya memiliki dua kepribadian.


Terlihat dari kejauhan dua orang paruh baya tengah berlari kecil dengan wajah yang panik. "Bagaimana keadaan Ica, nak?" tanya bunda Lidya dengan mata yang berkaca - kaca saat sudah berdiri di hadapan menantunya.


"Ica baik - baik saja bunda, sekarang dia sedang tidur." Tanpa memikirkan apapun lagi Herman dan Lidya masuk ke ruangan itu.


Tiba - tiba Harun mengingat sesuatu, "Dita... ada apa kamu ingin menemuiku tadi?" tanya Harun penasaran, Dita belum sempat mengatakan apapun saat di Restoran karena Harun tiba - tiba saja mendapat telepon dari Dito.


Dita menunduk sejenak, masih berfikir. Haruskah dia mengatakan semuanya?


"Mas... apa kita bisa bicara di tempat lain?"


Harun melirik sejenak ke arah ruangan yang tertutup dengan rapat itu, lalu berbalik dan menganggukkan kepalanya. Harun lalu segera berlalu keluar dari rumah sakit.


"Ada apa?" tanyanya saat mereka sudah duduk di bangku taman yang masih dalam area rumah sakit.


"Mas, apa Ica masih marah padaku. Kenapa tidak sekalipun ia pernah pergi ke kampus, ia bahkan tidak pernah menjawab panggilanku." Dita menanyakan segala keresahan yang selalu mengusik hatinya.


Harun diam sejenak, "jangan khawatir, kamu kan sangat mengenalnya, dia tidak akan bisa berlama - lama marah padamu." mencoba menenangkan gadis di sampingnya.


"Lalu kenapa tak sekalipun dia menghubungiku? "


Dita bernafas lega setidaknya kini ia tahu alasan dari tidak aktifnya nomer sahabatnya itu. "Mas... " menjeda kalimatnya, ragu. Yah itulah yang kini dirasanya.


Harun menatapnya, menunggu Dita melanjutkan kalimatnya.


"Jika Ica sudah tidak marah padaku, lalu mengapa dia memutuskan untuk berhenti kuliah?" menunduk pilu, rasanya Dita takut mendengar jawaban Harun.


"Apa???" Harun begitu terkesiap mendengar apa yang di sampaikan gadis di sampingnya. "Jangan konyol, untuk apa Ica berhenti kuliah." tertawa garing seolah gadis itu hanya bergurau saja.


"Aku serius mas, Dosen pembimbing kami sendiri yang mengatakan itu saat aku menyerahkan tugas. Dia sungguh menyayangkan keputusan Ica yang berhenti di tengah jalan seperti ini." jelas Dita.


Namun lagi - lagi Harun tidak bisa mempercayai itu. "Tidak mungkin, jika dia benar berhenti lalu kenapa dia sama sekali tidak memberitahuku."


Sekarang justru Dita yang kaget mendengar jawaban suami sahabatnya.

__ADS_1


Hening sejenak, mereka sama - sama berperang dalam pikiran masing - masing.


"Apa ini alasan dari beberapa hari ini dia tidak ke kampus? Ica... kenapa kamu harus selalu mengambil keputusan seenaknya seperti ini." gumam Harun. Rasanya ia mengerti alasan dari semua ini. Karena Ica selalu saja menjauhkan diri dari sesuatu yang tidak di sukai oleh Harun. Perasaan bersalah kembali mencabik Hati lelaki pemarah itu.


***


Saat Harun berjalan kembali ke ruangan Ica, ia melihat Herman dan Tama yang mengobrol dengan begitu hangat. "Ayah... apa Ica sudah bangun?" tanyanya saat sudah berdiri di hadapan ayah Herman.


"Belum nak, bunda masih menjaganya di dalam."


Harun kemudian mengangguk lalu ikut mendudukkan dirinya di samping ayah Herman sementara Dita duduk di dekat Danu.


"Ohh iya Harun, kamu sudah kenalkan dengan nak Tama. Rasanya ayah tidak pernah memperkenalkan kalian dengan baik." menepuk lembut lengan keponaknnya. Tama hanya tersenyum hangat.


"Sudah yah." jawab Harun singkat, ia sungguh malas mendengar nama si Tama Tama itu.


"Tama dan Ica tumbuh besar bersama, dulu mereka berdua sangat lengket. Sampai suatu saat Ica menangis menjerit - jerit karena Tama harus melanjutkan sekolahnya di negara orang. " Tanpa di suruh Herman sudah bernostalgia mengingat masa kecil anaknya.


"Cih.. " mendesah kesal. "Bakalan meledak tuh kepalanya mendengar ayah yang nostalgia. " gumamnya.


"Mungkin karena hanya Tama satu - satunya sepupu yang tinggal dekat dengannya." imbuh Herman tersenyum membayangkan.


Deg... lagi - lagi Harun harus mengutuki kebodohannya. "Tuhan... cobaan apa ini, hari ini begitu banyak hal yang membuat diriku syok. Kenyataan to*ol apa yang harus setelat ini ku sadari. Harun... terkutuklah dirimu." batin Harun tertunduk lemas.


Harun, Tama, Dita dan Danu. Mereka berempat terdiam seolah memikirkan peliknya masalah yang membuat hubungan mereka menjadi seburuk ini. Hubungan yang bahkan tak pernah mereka bangun. ke egoisan Harun benar - benar membuat semuanya jadi berantakan.


Sementara ayah Herman, dirinya masih sibuk bercerita tentang keindahan dan keharmonisan Tama dan Ica. Membuat Harun semakin di hantui penyelsalan yang luar biasa.


..


..


Ohh iyah... Kehamilan Ica... Kabar bahagia itu, haruskah kembali terlupakan karena kenyataan pahit yang di dengar Harun secara bertubi - tubi.


Rasanya benar - benar akan terlupakan.

__ADS_1


Apa reaksi ayah Herman yah saat tahu putri kecilnya hamil, bukannya dulu ia sudah membuat kesepakatan dengan menantunya?


Apa Harun lupa dengan janjinya yang tidak akan membuat Ica hamil terlalu cepat?


__ADS_2