Harun Untuk Khaliesah

Harun Untuk Khaliesah
Rencana kejutan


__ADS_3

Pagi ini Ica sudah merencanakan kejutan yang akan di berikan kepada suaminya. Dengan perasaan tidak sabar ia menunggu suaminya yang sedang sarapan.


"Kamu enggak makan?" pagi ini lagi - lagi Harun tidak melihat istrinya menyentuh makanan.


"Lagi enggak nafsu mas."


"Tidak baik jika kamu terus malas makan seperti ini, kamu bisa sakit." ujar Harun lalu beranjak dari duduknya dan pindah kesebelah Ica.


"Maaf, perutku mual. Kalau aku paksakan untuk makan percuma saja, aku pasti akan memuntahkannya."


Harun mengabaikan penjelasan Ica yang sungguh di ucapkannya dengan segela kebenaran. Tangan Harun sudah menyodorkan sesendok nasi di depan bibir Ica. "Buka mulut." katanya sambil menggoyangkan sendok itu


"Mas... aku serius, aku sedang tidak nafsu." wajah Ica mulai memelas, ia benar - benar merasa mual hanya dengan membayangkan nasi itu masuk ke dalam mulutnya.


"Makan!" suara Harun menegas, ia kembali menggoyangkan sendok itu agar Ica ingin membuka mulutnya.


Dengan kesal Ica meraup sendok itu ke dalam mulutnya, mengunyah makanan itu dengan sedikit kasar. Baru saja beberapa kali mengunyah, pipi Ica sudah terlihat menggembung. Dengan cepat ia berlari ke kamar mandi.


Hoek Hoek, terus saja perut itu memaksa untuk mengeluarkan isinya. Bahkan muntah itu keluar lebih banyak dari sesendok nasi yang tadi di makannya.


"Sebenarnya kamu kenapa? kita ke Rumah Sakit yah?" ujar Harun dengan nada terlembutnya, tangannya tetap sibuk memijat tengkuk istrinya.


Ica menggeleng. "Bagaimana aku bisa pergi bersamanya ke Rumah Sakit, rencanaku untuk memberi kejutan bisa batal."


"Aku tidak apa - apa mas, aku hanya sedang tidak nafsu makan. Jadi tolong jangan paksa aku lagi untuk makan." suara itu terdengar begitu lemah. Ica bahkan begitu sulit menopang tubuhnya. Keadaan seperti ini selalu saja membuatnya jadi lemas.


Harun menuntun istrinya untuk kembali duduk di kursi meja makan, ia lalu membantu Ica untuk meminum air putih. "Kamu benar tidak apa - apa? " suara lembut itu masih terdengar khawatir.


Ica mengangguk pelan. "Aku baik - baik saja kok, mas Harun lanjutkan makan saja."


Harun mengiyakan dan segera menyelesaikan sarapannya.

__ADS_1


**


"Kamu yakin hari ini tidak ke kampus lagi? " tanya Harun memastikan sebelum masuk ke dalam mobil. Harun benar - benar merasa bingung dengan sikap istrinya, tidak biasanya istri kecilnya itu ingin membolos. Ica bahkan akan selalu memaksa dan merayunya jika ia melarang Ica untuk ke kampus.


"Aku yakin kok. Ohh iya mas, aku boleh pergi jalan kan sebentar, tidak akan lama kok. Aku janji!" jurus andalan, membujuk dengan bergelayut manja di lengan suaminya.


"Boleh, tapi mas Harun yang antar. Siang nanti mas akan menjemputmu."


Ica mendengus kesal mendapat jawaban itu, "tidak usah mas, kamu kan sibuk. Aku hanya sebentar kok, yah yah!" Masih mencoba merayu. Mana mungkin ia membiarkan Harun menemaninya, kejutan apa yang akan terjadi jika Harun melihat sesuatu yang akan di belinya nanti.


"Justru karena kamu perginya sebentar, jadi kerjaan mas tidak akan terganggu. Sudahlah mas akan tetap mengantarmu." Keputusan final dari lelaki pencemburu itu.


Ica tetap kekkeuh pada pendiriannya. Rencananya ini tidak bisa gagal, Renacana ini harus berhasil, Ica benar - benar ingin suamianya itu mendengar kabar membahagiakan ini saat makan malam nanti.


"Mas ayolah izinkan aku pergi," masih bergelayut manja. "Ke minimarket depan saja deh kalau kamu keberatan aku pergi sendirinya jauh. Boleh yah, mini marketnya dekat kok." Sungguh dalam hati Khaliesah, ia tidak pernah berhenti membaca mantra agar suaminya bisa memberi izin.


"Kamu sebenarnya mau beli apa sih, kenapa kamu ngotot seperti ini tidak ingin di antar sama mas Harun."


"Ya sudah kalau mas Harun enggak ngijinin yah enggak apa - apa." berkata dengan pasrah.


Harun memandang sejenak wajah istrinya yang sudah tertekuk, menarik nafas dengan begitu berat, "ya sudah kamu boleh pergi sendiri." Ujarnya sambil membelai lembut kepala istrinya.


Tanpa menunggu lama Ica langsung menghempas tubuh suaminya, memeluk dengan begitu erat. "Makasih mas Harun, aku sayang kamu. " ucap Ica dengan begitu bahagianya. Akhirnya rencananya untuk memberi kejutan bisa segera ia laksanakan.


Harun tersenyum bahagia membalas pelukan itu. "Kamu selalu saja bersikap manis seperti ini jika mengingankan sesuatu," ucapnya lalu menciumi kepala sang istri berulang - ulang.


Ica hanya tersenyum penuh kemenangan di balik dada bidang suaminya.


***


Siang ini Ica begitu bersemangat, berulangkali ia menepiskan senyuman kebahagiaan itu dari balik pantulan cermin meja riasnya. "Kamu senang kan sayang, papa akan segera mengetahui kehadiranmu." Ica terus saja mengusap perutnya yang masih datar,

__ADS_1


Setelah berpamitan ulang pada Harun lewat telepon, Ica segera memesan taxi online.


Sesampainya di pusat perbelanjaan, Ica segera melangkahkan kakinya menuju stand peralatan bayi. Memilih peralatan makan bayi yang di rasanya lucu lalu ia segera ke kasir untuk membayarnya.


"Mbak ada kartu ucapan enggak?" tanya Ica pada wanita yang berdiri di balik meja kasir.


Wanita itu menunjuk etalase di dekatnya yang memajang aneka kartu ucapan lucu. Ica lalu memilih salah satunya. "Boleh pinjam bolpen enggak mbak?" kembali bertanya.


Waniita itu lalu menyodorkan bolpen dengan sopan. Dia memang sudah terbiasa dengan hal seperti ini. Ada banyak pelanggan yang selalu menyelipkan kartu ucapan pada barang yang mereka beli sebagai hadiah. "Mau sekalian di bungkus enggak mbak?" tanya wanita itu setelah Ica selesai menuliskan sesuatu di kertas ucapan yang di pilihnya.


"Enggak usah mbak, makasih." Ica berlalu meninggalkan tempat itu.


**


"Mas Harun... aku melihatnya di sana waktu itu. " gumam Ica saat melihat Restoran di balik eskalator. Ica memutuskan mempercepat langkahnya, Tempat itu seperti menyimpan kenangan buruk untuknya.


Entah perasaan bodoh apa yang menghantuinya, Ica sungguh sangat ingin menoleh ke tempat yang begitu di hindarinya. Dan lagi... perasaan yang sudah di kuburnya, hari ini kembali menggoyahkan hatinya. Setelah ia mengikuti keinginan bodoh hatinya, untuk mengintip ke dalam Restoran itu.


"Mas Harun! " ucapnya terbata menutup mulut dengan salah satu tangannya. "Tidak Ica, berpikir positiflah. " ucapnya menarik nafas panjang. "Iya... mas Harun tadi sudah bilang saat di telepon, siang ini dia ada urusan di luar kantor." katanya kembali untuk meyakinkan diri.


Ica berlalu meninggalkan tempat itu, ia sungguh sudah lelah dengan drama yang selama ini terjadi. Dia harus bisa menenangkan hati dan fikirannya agar pertengkaran bisa di hindarinya.


"Mas Harun... " gumamnya kembali,


Hati dan otaknya sungguh tidak bisa di ajak kompromi, "wanita yang sama" seandainya saja bukan wanita itu lagi yang di lihatnya pasti perasaannya tidak akan sekacau ini. Dengan fikiran yang melayang entah kemana Ica menyusuri jalan dengan perasaan yang tak menentu.


Brukkk...


..


..

__ADS_1


..


__ADS_2