
~ cinta kan hadir karena terbiasa ~
Ayah, bunda, Harun duluan. Kata Harun setelah menyelesaikan makannya, ia pun beranjak dan menciumi punggung tangan mertuanya sebelum berangkat.
Mas berangkat dulu sayang. Katanya saat sudah berdiri di samping mobilnya. Ica lalu menciumi punggung tangan suaminya di susul Harun yang menciumi pucuk kepalanya.
Mas akan usahakan pulang cepat !! Kata Harun melihat wajah Ica yang muram, ia pun membelai lembut pipi Ica untuk menenangkannya.
Huuffttt ... Ica membuang nafas kasar memandangi mobil Harun yang semakin jauh dari jangkauan pandangnya.
Tuhan.. Rasa apa ini ?? Aku sungguh tidak ingin jauh darinya walau hanya untuk sesaat.
Apa aku mulai mencintainya ??
Ahhh,,, bukan kah dia hanya menganggapku teman, mungkin dia takkan pernah bisa mencintai istrinya. Ica
Ica berjalan lesu dengan wajah yang tertekuk seolah sedang memikirkan banyak hal.
Kamu kenapa nak ?? Tanya Lidya bingung melihat raut sedih putrinya.
Heh ?? Tidak apa - apa kok bun, Ica hanya merasa kurang enak badan.
Kamu sakit ?? Mau ayah antar ke dokter ?? Panik Herman mengecek suhu tubuh Ica dengan punggung tangannya.
Tidak usah yah, Ica hanya perlu istirahat. Ayah berangkat saja nanti telat. Ica menciumi punggung tangan Herman lalu berlalu menuju kamarnya.
Herman dan Lidya saling bertatapan. Lidya mengangkat bahunya melihat tatapan Herman yang seolah mencari kebenaran.
Nanti bunda akan bicara dengannya, sekarang mas berangkat saja. Kata Lidya menarik lengan Herman menuju mobil.
__ADS_1
Kabari aku secepatnya jika kamu sudah berbicara dengannya..
Lidya tersenyum mengangguk.
*****
tok tok tok
Bunda boleh masuk sayang?? Tanya Lidya setelah mengetuk pintu.
Masuk aja bun enggak di kunci kok. Lidya lalu masuk, berjalan menghampiri Ica yang sedak duduk bersandar di atas tempat tidurnya, lalu segera mendudukkan tubuhnya di samping putrinya itu.
Kamu kenapa ?? Ada masalah ?? Lidya mulai membelai lembut rambut Ica yang masih tertutup kerudung.
Tidak bun.
Ica tertunduk mulai berfikir, bukannya ia tidak ingin cerita hanya saja Ia akan merasa malu jika bundanya tahu tentang perasaannya.
Nak... Lidya kembali mengusap kepala Ica.
Ica menarik napas panjang.. Ica bingung bun !! Katanya lirih.
Bingung kenapa sayang ??
Sejauh ini Jca dan mas Harun mulai menjalin sebuah pertamanan.
Lidya mengernyit heran namun tak bertanya , ia kembali fokus menyimak penuturan putrinya.
Mas Harun bilang jika Ica merasa terbebani dengan pernikahan ini, Ica bisa memulainya dengan menerima pertemanan yang di tawarkan mas Harun.
__ADS_1
Tapi akhir - akhir ini entah kenapa rasanya Ica tidak suka jika mas Harun pulang larut, Ica tidak suka jika harus melihatnya berangkat kerja. Kamar ini terasa begitu sepi jika tidak ada mas Harun bun. Ica menerawang setiap sudut kamarnya dengan tatapan hampa.
Senyum Lidya merekah sempurna mendengar penuturan anaknya. Apa kamu mulai mencintai suamimu ??
Ica mengangkat kedua bahunya, ia pun masih bingung tentang perasaannya.
Apa kebimbangan ini yang membuatmu cemas ??
Lagi - lagi Ica tidak menjawab. Ia hanya mengangguk membenarkan Lidya.
Percayalah pada hatimu, jika masih ragu bertanyalah pada-Nya (Allah SWT) agar tidak ada keraguan di hatimu.
Ica, dia adalah suamimu jadi jangan pernah merasa malu jika kamu mencintainya. Lanjut Lidya.
Ica mendongakkan kepalanya. terdiam menatap sendu manik mata Lidya.
Bunda..
Apa dimata bunda aku tidak terlihat seperti seseorang yang merusak pertemanan dengan mengatas namakan cinta ?? tanya Ica lirih, ia sungguh tidak ingin merusak pertemanan nya dengan suaminya sendiri, ia tak ingin lagi merasa canggung seperti saat awal pernikahan.
..
..
..
..
..
__ADS_1