
"Ica hanya sebentar doang kok bunda, lagi pula Ica merasa bosan dirumah terus." Rengek Ica mengayunkan tangan Lidya.
Kalau begitu minta nak Harun saja yang antar.
Tapi bunnnn.....
"Nak, tolong dengarkan bunda kali ini," tegas Lidya.
"Ya sudah." Jawab Ica pasrah lalu mengambil ponsel di dalam tas kecil yang ia selempang.
Chatting..
"Assalamualaikum mas, boleh minta tolong enggak ?"
Ica.
"Wa'alaikum salam, Tolong apaan ??" Harun,
"Baik juga nih cowok, cepet banget balasnya, " sudut bibir Ica terangkat mendapati respon Harun yang begitu cepat.
"Aku ingin ke sekolah, sekalian mencari referensi kampus sama Dita." Ica
"Terus ??" Harun
"Bunda hanya mengijinkan ku pergi jika mas Harun yang menemani. " Ica
"Oh, yah sudah, kapan ??" Harun
"Sekarang, maaf yah mas aku sudah terlanjur janjian sama Dita soalnya." Ica
"Mmm, ok aku jemput sekarang." Harun
-----------
Assalamu alaikum..
__ADS_1
Ehh nak Harun sudah datang, masuk dulu nak, maaf yah tante sudah merepotkan kamu.
Tidak apa - apa kok tante.
"Ica.... Harun sudah datang nih," teriak bunda Lidya.
Ica pun berlari menuruni anak tangga dan segera menemui Harun. "Jalan sekarang yuk mas, keburu siang." Ajak Ica yang sudah mencium punggung tangan bundanya.
"Aku jalan dulu tan." Harun pun mencium punggung tangan Lidya dan segera mengikuti Ica yang sudah berlari menuju mobil.
"Jangan ngebut yah nak, tante titip Ica. Jewer saja kupingnya jika dia keluyuran tidak jelas," kata Lidya sedikit tertawa.
"Apaan sih bunda." Ica tersipu malu mendengarkan ucapan bundanya itu.
Saat Harun sudah mengemudikan mobilnya, Ica menunjukkan arah ke rumah Dita.
"Ehh tuh dia, tolong ke pinggir mas " ucap Ica menunjuk ke arah Dita.
Ica lalu segera turun dari mobil dan berlari menghampiri Dita. "Dita... Maaf yah lama." Ica memeluk sahabatnya berharap ia takkan marah karena ia datang sangat terlambat.
"Panas tauuu!" Protes Dita sambil memonyongkan bibirnya.
Harun tersenyum dan menyodorkan tangannya. "Harun!"
"Hehe Dita, mas. " Balas Dita sedikit canggung.
"Jalan sekarang yuk," Ica menarik lengan Dita masuk ke dalam mobil. Belum sempat Ica memasukkan tubuhnya Dita sudah menahan tangannya.
"Apaan sih ta'??" Kesal Ica melirik tangan Dita yang menempel di lengannya.
"Yahhh kali kamu duduk di belakang sama aku, kamu duduk di depan saja gih." bisik Dita.
Ica pun tersenyum malu dan melirik ke arah Harun, yang di lirik malah tersenyum manis.
"Tidak apa - apa kok, kamu di belakang saja, hari ini mas Harun jadi supir kalian berdua saja, biar kalian bisa leluasa mengobrol nya." Jawab Harun dengan senyuman ia tahu Dita akan merasa sungkan terhadapnya.
__ADS_1
"Makasih mas," Ica tersenyum lebar saat Harun mengizinkannya duduk di belakang bersama Dita.
"Oh iya mas, memangnya kamu tidak kerja??" Tanya Ica pada Harun yang tengah fokus mengemudi.
"Ini dari tempat kerja kok." jawab Harun yang melirik dari spion.
Kok malah setuju untuk mengantarku, kerjaan kamu bagaimana ??
Ada asisten Aku yang handle.
"Ciee so sweet banget." celetuk Dita.
"Apaan sih Ta'." Ica memukul lengan Dita kesal.
Harun hanya tersenyum melihat tingkah kedua gadis yang sedang duduk di kursi belakang.
"Kita mau kemana ?" tanya Harun menyudahi perdebatan Ica dan Dita
Ehhh iyah Cha'' kita mau kemana dulu ?
"Ke sekolah saja, pasti di sana ada banyak brosur-brosur universitas. Kita baca-baca saja dulu. Kalau ada yang kecantol yah alhamdulillah, kalau enggak ada yah kita cari yang lain lagi." Jelas Ica lalu menunjukkan arah ke sekolahnya pada Harun.
___
Sesampainya di sekolah..
"Mas Harun kok enggak ikut ??" Tanya Ica heran melihat Harun yang tak kunjung turun dari mobilnya.
Mas tunggu di sini saja yah, takut mengganggu kalian.
"Apaan sih mas, masa iyah Ica meninggalkan mas Harun di sini dan bersenang - senang di dalam. Jahat banget! Kalau mas Harun tidak ikut Ica ngambek nih, " Ica menggembungkan pipi dan melipat kedua tangannya ke perut.
Harun tersenyum melihat wajah cemberut gadis berlesung pipit itu, dia pun memilih untuk turun agar gadis kecil di hadapannya itu tidak merasa kesal.
Di kantin sekolah..
__ADS_1
Harun sedang menikmati jus yang telah Ica pesankan untuknya. Harun menatap Ica, Dita dan teman-temannya yang sedang asyik berbincang. Harun memilih untuk duduk agak jauh, agar Ica tidak merasa risih dengan kehadirannya.
-------------------------