
Danu saja yang **** tidak merasakan cinta yang begitu tulus dari Dita.
Kamu juga sama Ica, kamu juga tidak pernah mau melihat ketulusan cinta Danu. Atau mungkin sebenarnya kamu merasa, tapi lebih memilih untuk mengabaikannya karena kamu tau akan perasaan Dita ??
Ica diam mematung mendengar pernyataan Harun.
"Hehh, ternyata mas benar.." Lirin Harun saat melihat ekspresi Ica yang seakan membenarkan kalimatnya. "Sebegitu besarnya sayang mu pada Dita sehingga membuatmu menutup mata dan hatimu pada
Danu," batin Harun
"Hah,, apaain sih mas Harun, yah enggak lah, aku enngak pernah punya rasa sama dia kok." Jawab Ica terbata.
"Ganti topik, please..... " rengek Ica dengan manjanya.
Mmm,, apa yang membuat kamu menerima perjodohan kita ??
Ica kembali terdiam... "yahh karena aku tahu ayah dan bunda akan memilih colon imam yang baik untukku !!" Jawab Ica yang tak berani menatap mata suaminya.
"Hehh.. lagi ?? jangan bilang nih anak kecil enggak nolak karena enggak mau melukai perasaan orang tuanya. Ya Tuhan apa dia tidak pernah memutuskan sesuatu dengan memikirkan kebahagiaanya," pikir Harun.
Cukup lama mereka berdua mengobrol hingga Ica tidur dengan pulasnya di bahu Harun.
Harun mengangkat tubuh istrinya dan membaringkannya pelan di atas tempat tidur. lalu kembali membuka laptopnya.
Harun tak lagi bisa fokus pada pekerjaannya, kepalanya di penuhi tatapan hampa yang telihat jelas di manik mata Ica. "Apa semua keceriaan yang selama ini dia tunjukkan hanya sandiwara ?? bahkan aku bisa merasakan kehampaan senyuman itu."
__ADS_1
------------
"Heii mas..." Sapa Ica yang sedang merenggangkan tangannya, sesekali tangan itu menutup mulutnya yang masih menguap. "Ya Allah... Ica kesiangan lagi." mata Ica terbelalak saat melihat matahari yang tengah terbias di balik jendela.
Hehe,, maaf mas !!
"Enggak apa - apa kamu langsung mandi saja terus sarapan. " Tunjuk Harun pada segelas susu dan sandwich yang ada di atas meja.
"Ngapain mas ??" Tanya Ica melihat Harun yang terus saja mondar mandir.
"Packing !!" Tunjuk Harun pada koper yang tergeletak di lantai. habis kamu sarapan kita pulang.
Bukannya.....
"Hem.. jadi kita pulang kerumah mas Harun ??" ucap Ica lirih menundukkan kepalanya.
Harun berjalan mendekati istrinha, berdiri sesaat lalu duduk di sampingnya, Harun mengangkat dagu Ica menatap dalam mata itu. "kenapa ??" Tanya nya lembut.
Ica memalingkan pandangannya. "enggak mas, Ica hanya rindu ayah dan bunda..."
Maafkan mas Harun, tapi mama sudah terlanjur bahagia saat tau kita akan menginap di sana. Mas janji lusa kita akan menginap di rumah kamu. hem ?
Ica tersenyum tipis menganggukkan kepalanya.
Bahkan Harun tau senyuman itu begitu di paksakan.
__ADS_1
---------
ceklek
Harun membuka pintu, "Assalamu alaikum Ny.Wirawan." sapa Harun saat melihat mamanya sedang duduk manis membaca majalah.
"Ehh anak-anak mama sudah datang !!" Sinta menutup majalahnya dan berjalan menghampiri Ica dan Harun.
Harun menyambar tubuh Sinta, memeluknya erat. Mengecup kening Sinta dengan tangan yang masih melingkar di bahunya, "duhh cantiknya kesayangannya aku. Mau kemana ??"
Ica menatap heran melihat sikap Harun pada mamanya.
Harun memang memperlakukan mamanya seperti layaknya seorang adik kecil yang selalu dia manjakan. Bagi Harun, mama Sinta bukan hanya seorang ibu, karena mama Sinta selalu bisa menjadi saudara dan sahabat yang baik untuknya.
"Maaf yah nak Ica. Harun kelakuannya memang kayak gitu." Jelas Sinta melihat raut heran di wajah menantunya.
.
.
.
.
.
__ADS_1