
"Tutup mulut loe, gua enggak butuh penjelasan dari laki - laki perusak rumah tangga seperti loe. " menunjuk wajah Danu dengan tegas.
" Heh... " Danu tertawa meremehkan, " Ica... apa kamu benar - benar bahagia hidup dengan pria seperti ini! " Danu menunjuk balik wajah Harun.
" Apa maksul loe, hah? " Harun sudah ingin melayangkan tinjunya kembali, namun dengan cepat Ica memeluk tubuhnya dengan erat.
" Danu... maaf atas sikap suamiku terhadapmu, tapi apa yang kamu ucapkan itu... tidak seharusnya kamu menanyakan kebahagiaan seorang istri di hadapan suaminya. " tegas Ica, ia sungguh kesal mendengar kalimat yang keluar dari mulut pemuda di depannya.
Tapi Cha...
Danu, please! pergi dari sini sekarang.
Danu mendengus kesal, ia menatap Harun dengan tajam lalu berlalu meninggalkan sepasang suami istri itu.
" Mas, ayo kita pulang, aku akan menjelaskan semuanya di rumah. " Ica menuntun suaminya berjalan menuju mobil.
Tak ada pembahasan apapun di dalam mobil yang melaju dengan kecepatan tinggi itu. Ica hanya menutup mata sambil menggenggam seat belt dengan begitu kuat, mulutnya terus saja komat kamit menyebut asma Allah SWT.
***
Sesampainya di rumah...
Harun melemparkan kunci mobil dan ponsel Ica ke sembarang arah, " Ohh... jadi ini yang membuat mu begitu ngotot ingin pergi ke kampus? " Harun mulai meluapkan emosinya.
" Shitt..." umpatnya menendang hampa ke udara, " apa kelakuanmu yang seperti ini yang harus kuberikan kepercayaan, heh? " lanjutnya dengan kedua tangan yang di letakkannya ke pinggang.
" Aku sedang bertanya, kenapa diam! " bentaknya kembali
" Percuma mas... saat ini, tidak akan ada satu katapun yang keluar dari mulutku yang akan kamu percaya." Ica berjalan mendekat, tangannya menyentuh lembut dada bidang suaminya. " Tenangkan hatimu dulu, dan aku akan menceritakan segalanya. " imbuhnya.
Harun menepis tangan itu, " Heh, bagaimana bisa aku mempercayaimu setelah aku melihat semuanya dengan mata kepalaku sendiri. "
" Tidak selamanya apa yang kita lihat itu adalah kebenaran mas. " lirih Ica. Membuat Harun mendesah kesal memalingkan wajah.
Jika kemarahan begitu menumpuk di hatimu, maka keluarkanlah. Luapkan semua kekesalanmu itu.
__ADS_1
" Kamu menentangku, heh? " telapak tangan Harun menggantung di udara, urat - urat kekesalan jelas nampak menonjol di lehernya.
" Heh... " Ica tertawa hambar. " Jika itu bisa membuat hatimu tenang, lakukanlah!"
Kalimat Ica semakin menambah kesal hati Harun. Lagi - lagi ia hanya melayangkan tinjunya dengan keras di udara.
" Aku akan terima apapun yang ingin kamu lakukan, keluarkan semuanya. Luapkan semua kemarahan yang menumpuk di hatimu itu saat ini juga. Tapi setelah itu... kembalikan Harunku. " suara Ica bergetar, ia sungguh merindukan kelembutan dan kehangatan suaminya. Suami yang tidak pernah sanggup melihatnya meneteskan air mata.
Harun mengabaikan perkataan istrinya, ia membanting pintu dengan keras lalu pergi meninggalkan Ica nya yang mulai terisak.
Ica begitu tersentak, tubuhnya tiba - tiba bergoyang merasakan sakit yang menjalar di kepalanya. Perlahan penglihatannya mulai menghitam dan seketika tubuhnya jatuh terkulai di atas lantai.
****
Berulangkali Harun ingin membuka pintu mobilnya, namun sialnya pintu itu terkunci. Dia meraba saku celanya namun kunci itu tak dia temukan. "Arrghh... " teriaknya memukul mobilnya dengan keras.
" Drama apa lagi ini Tuhan... aku baru saja memupuk kehangatan rumah tanggaku ini. Tapi kenapa kekonyolan seperti ini kembali terjadi. " desah Harun frustasi.
Dengan malas ia berjalan menuju pintu, berdiri mematung dengan tangan yang memegang knop pintu. Rasanya ia begitu enggan kembali ke dalam, tapi kunci sialan itu sekarang ada di dalam sana.
Harun membuka pintu pelan, berharap istrinya sudah tak ada lagi di ruang tamu. Dan betapa terkejutnya ia melihat tubuh istrinya yang tergeletak di lantai.
" Sayang bangunlah. Maafkan aku. " katanya panik, masih mencoba membangunkan istrinya.
Tidak ada respon. Harun langsung membopong tubuh kecil istrinya ke kamar.
Harun menggerakkan botol minyak angin di depan hidung istrinya, berharap aroma itu dapat membangunkannya. " Sayang... bangunlah, ku mohon. " ucapnya cemas, mengusap lembut wajah Ica.
Terdengar suara desahan, dan perlahan mata wanita kesayangannya itu mulai mengerjap. " Sayang kamu kenapa? " tanya Harun saat kesadaran Ica mulai sempurna.
" Mas... kamu... " Heran Ica melihat suaminya yang tiba - tiba menatapnya sendu. Kepala Ica kembali terasa sakit, dan tangannya refkeks memegang kepala, " Awww " meringis kesakitan.
" Kenapa? apanya yang sakit sayang? " panik Harun. "kamu kenapa bisa tiba - tiba pingsan seperti itu. Apa kamu sakit lagi? " tanyanya khawatir.
Ica tersenyum hangat, " ya Allah apa aku harus sakit dulu, jika ingin melihatnya seperti ini. Dia selalu saja kembali hangat setelah mendapatiku sakit seperti ini. " batin Ica.
__ADS_1
" Kamu tidak marah lagi kan? " lirih Ica.
Wajah Harun kembali dingin, " jangan membahasnya, fokus saja pada kesehatan mu ini. Sebaiknya kita ke Dokter sekarang, setiap pagi kamu selalu saja mual dan sekarang aku malah menemukanmu pingsan di bawah. " tegas Harun.
Ica menggenggam tangan Harun, " aku tidak apa - apa, aku hanya butuh kamu mas. " jawab Ica. Melow drama kembali terjadi, entah kenapa akhir - akhir ini kemarahannya pada Harun selalu saja berubah menjadi kemanjaan yang memuakkan.
Harun kembali menatapnya Hangat.
" Mas... please jangan marah lagi. Kamu tahu seperti apa perasaanku ini, di hatiku hanya ada kamu. " jelas Ica. " dan berhentilah memaksa nama orang lain masuk ke dalamnya. " lanjutnya dengan nada menyindir.
" Bukan aku yang menciptakan nama orang lain di hatimu, tapi kamu sendiri. " kesal Harun.
" Ayolah mas... untuk apa aku menyimpan namanya, kamu tahu aku tidak pernah memiliki perasaan apapun padanya. "
Cinta bisa di pupuk Cha', apa lagi dia begitu mencintaimu. Akan sangat mudah baginya membuatmu jadi merasa nyaman.
Mas... jika aku menginginkannya, maka sejak awal aku akan membalas cintanya. Tapi lihatlah aku memilihmu, aku menikah denganmu.
" Kita di jodohkan Cha', kamu menerimanya karena rasa sayang dan hormatmu pada ayah dan bunda. " sindir Harun.
Kamu salah mas, aku menerima perjodohan itu setelah istikharahku, aku memilihmu atas izin Allah SWT mas. Jadi jika aku mengkhianatimu sama saja aku mengkhianati Tuhanku.
..
..
..
Spesial for you huyz..
Maaf yah man teman kalau beberapa eps. belakangan ini banyak bertengkarnya. Tapi tenang aja diriku tidak pandai membuat drama yang sangat menyakitkan kok. diriku pun masih menyayangi Khaliesah tenang saja 😂😅
Terimakasih atas cinta kalian pada Khaliesah yahh.😍😘😘
***
__ADS_1
aku ketawa - ketawa sendiri loh liat komen kalian, bahagia deh rasanya di respon seperti ini. Tangan ku jadi gatal buat up. 😁😁😁
#StayFavHarunUntukKhaliesah yah man teman. Love you 😘😘