
Ica tersenyum menatap bunda Lidya. "Harun baik kok bun, kenapa bertanya tentang Harun ? bunda masih mengkhawatirkan Ica ? ", tanya Ica lembut menggenggam tangan Lidya.
"Tidak kok sayang, bunda percaya nak Harun akan menjaga dan menyayangi kamu dengan setulus hati, jadi untuk apa bunda khawatir ?", jawab Lidya mengusap lembut pipi Ica.
Ica memeluk erat tubuh Lidya, "mulai sekarang bunda harus selalu berfikir positif seperti itu, jangan pernah khawatirkan apapun tentang Ica, jangan pernah merasa sedih karena Ica. Karena kesedihan bunda akan membuat hati Ica menjadi hancur, Ica tidak mau melihat setetes pun air mata itu mengalir dari wajah bunda".
Lidya melepaskan pelukan Ica, menatap lembut wajah gadis mungilnya itu.
"Terimakasih sayang bunda bersyukur,
Allah telah mengirimkan malaikat kecil seperti kamu. Bunda sangat menyayangi Ica, bunda janji mulai sekarang air mata ini hanya akan menetes karena perasaan bahagia bukan karena sebuah kesedihan". Lidya pun kembali memeluk anaknya dengan erat.
--------
H-3 pernikahan.
Bunn... teriak Ica yang baru saja keluar dari kamar, Ica mengedarkan pandangannya tak menemukan siapapun, kemudian Ica berlari kecil menuruni anak tangga berjalan menuju dapur. "Bunda kemana bi ??" Tanya Ica pada bi Ipah yang tengah sibuk mencuci piring.
__ADS_1
Bi Ipah pun membersihkan tangannya, menyediakan roti dan susu di meja ketika melihat Ica sudah duduk, "tadi pagi bu Lidya dan bu Sinta pergi untuk mengecek ulang semua persiapan pernikahan non yang sudah rampung". Jawab bi Ipah.
Ica hanya menganggukkan kepalanya sambil mengunyah roti yang di siapkan bi Ipah. Setelah selesai dengan makanannya Ica memutuskan untuk kembali ke kamarnya.
chatting....
"Dit lagi ngapain ? kerumah yah bosen nih !!!" Ica
"Enggak bisa bebs lagi sibuk banget nih." Dita
"Idih sok sibuk banget sih anda, jangan bilang lagi kencan.??" Ica
"Masa ? bunda enggak bilang .... Ya sudahlah terimakasih yahh mybesty. Maaf sudah merepotkanmu" Ica
"Apapun untukmu bebs😘😘" Dita
"Nonn, den Harun ada di bawah", teriak bi Ipah di iringi ketukan. "Iya bii makasih", Bi Ipah pun kembali ke dapur setelah mendapat jawaban dari Ica.
__ADS_1
Ica berjalan menuju lemari untuk mengambil sebuah jilbab, lalu iya balutkan ke kepalanya. "Mas Harun ngapain ke sini ?" Fikir Ica menerka.
Haiii mass,,
Harun melirik ke arah Ica dan membalas sapaannya dengan senyum. Harun kemudian meletakkan ponsel yang sedari tadi bertengger di tangannya ke atas meja.
"Ada perlu apa mas ??" Tanya Ica yang sudah duduk di hadapan Harun. "Anteng beud nih cowok, sok cool gila" Bathin Ica, melihat sikap Harun yang sangat tenang.
"Om Herman tadi nelpon katanya mas harus ngajak kamu untuk membeli cincin pernikahan", ucap Harun datar
Mmmm Ica menganggukkan kepalanya, "mau berangkat sekarang ?" tanya Ica kembali. Harun menganggukkan kepalanya.
"Mmm ok, tunggu bentar yah mas, Ica ganti baju dulu". Ucap Ica berlalu meninggalkan Harun.
15 menit kemudian Ica pun sudah siap dan mereka segera berangkat.
Sesampainya di salah satu toko perhiasan. "Ehh pak Harun silahkan duduk pak, saya ambilkan pesanan bapak dulu", sapa salah seorang pria saat Harun dan Ica masuk ke toko tersebut. Ica mengerutkan dahinya merasa heran karena orang tersebut mengenal Harun.
__ADS_1
--------------