
Harun melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang, sesekali ia melirik Ica yang sedari tadi hanya termenung menatap keluar jendela.
"Apa aku ajak Ica ke sana sekarang yah ??" Fikir Harun.
"Loh Mas, ini kan bukan ke arah rumah Mama ??" Tunjuk Ica ke arah jalan.
"Kita mau ke mana Mas ??" Tanyanya lagi.
Diamlah !! Nanti juga kamu akan tahu.
Tak lama kemudian Harun memasuki kawasan perumahan dan berhenti di depan salah satu rumah.
" Ayok !!" Kata Harun saat membukakan pintu mobil, sambil mengulurkan satu tangannya.
Ica menuruti dan terus mengekori Harun hingga masuk ke rumah tersebut.
Ica mengedarkan pandangannya ke seisi rumah tersebut.
"Cantik !!" gumamnya.
"Kamu suka ??" Tanya Harun menatap Ica.
"Suka !!" Ica menganggukkan kepalanya.
Kalau kita tinggal di sini mau enggak ??
Ica menautkan keningnya menatap lekat manik mata Harun. Berusaha membenarkan apa yang baru saja di dengarnya.
"Kamu mau enggak, hem ??" Tanya Harun lagi saat melihat istrinya yang hanya menatapnya bingung.
Heh ?? Tinggal di sini ?? Aku sama Mas Harun ??
__ADS_1
Ehemm, Harun mengangguk pasti.
Kenapa Mas ?? Mas enggak suka yah tinggal sama orang tua Ica ?? kita boleh kok tinggal di rumah orang tuanya mas Harun.
"Bukan seperti itu sayang, Mas hanya ingin kita hidup mandiri dan tidak lagi menyusahkan orang tua kita." Harun menangkup wajah Ica berusaha memberi penjelasan se lembut mungkin.
Ica diam berusaha mencerna dengan baik apa yang Harun sampaikan.
"Mungkin benar apa kata mas Harun, aku sudah menikah tidak sepantasnya aku terus bergantung pada ayah dan bunda." Fikir Ica.
"Tapi mas.., bagaimana dengan kuliah Ica ??" Tanya Ica ragu.
Mas sudah mendaftarkanmu di Universitas dekat sini, agar nantinya kamu lebih dekat pergi ke kampus.
"Yah bakalan jauh dari Dita dong ??" Ica
"Mas tidak memaksamu, jika kamu tidak ingin, kita bisa tetap tinggal di rumah ayah Herman." Kata Harun lembut saat melihat perubahan raut wajah Ica.
Jangan bohong, wajah mu tidak terlihat seperti kamu menerima semua ini.
"Ica serius !!" Katanya memasang raut yang serius.
Harun tergelak melihat ekspresi polos istrinya. "Apaan sih kamu, berhenti memasang wajah sepreti itu."
"Apaan sih, orang lagi serius dia malah ketawa." kesal Ica.
"Yah Maaf, Mas tidak tahan melihat wajahmu itu." Kata Harun yang masih saja tidak berhenti tertawa.
Ica melongos kesal lalu meninggalkan Harun untuk kembali melihat isi rumah itu.
Melihat Ica yang pergi Harun lalu mengikutinya.
__ADS_1
"Perabotnya sudah lengkap yah Mas, designnya juga bagus." Kata Ica mengamati sudut demi sudut rumah itu. Ia lalu berjalan menaiki anak tangga menuju kamar.
Senyumnya mengambang sempurna saat membuka pintu kamar tersebut.
"Mas ini kan ??" Tunjuknya ke dalam kamar tersebut dengan mulut yang masih menganga.
Harun mengangguk tersenyum. "Kamar kita !! Suka ??"
Kamar yang benar-benar seperti duplikat dari kamar Ica di rumah ayah Herman. Namun sedikit lebih besar dengan ranjang yang juga lumayan besar. Tak ada lagi meja belajar yang ada meja Rias dengan cermin yang begitu besar.
" Woow ini kamar Ica versi dewasa." Kata Ica polos.
Harun tertawa kecil mendengarnya. "Iya, mungkin saja dengan kamar seperti ini sifat anak kecil mu akan berkurang." Kata Harun menggoda.
"Ihhh Apaan coba, enggak lucu !!" Ica memicingkin mata nya dengan kedua tangan yang terlipat di perutnya.
ha ha ha
Lagi-lagi Harun tertawa, namun kini ia meraih tubuh kecil itu dan memeluknya.
"Terima kasih, karena kamu sudah setuju untuk tinggal di sini bersamaku." Ucap Harun lirih lalu mengecup pucuk kepala Ica.
..
..
..
..
..
__ADS_1
..