Harun Untuk Khaliesah

Harun Untuk Khaliesah
merindukanmu


__ADS_3

Pertemanan seperti apa yang kamu rusak ?? Saat ini yang bunda tahu kamu mencintai suamimu, dan itu adalah sesuatu yang mulia. Bukannya seorang istri memang harus mencintai suaminya ??


Tapi bun ?? Apa mas Harun bisa mencintai Ica ??


Lidya kembali tersenyum. "Harun memang sangat mencintaimu nak." Kata Lidya dalam hati.


Kenapa tidak ?? Jika kamu saja bisa mencintainya lalu kenapa ia tidak bisa belajar mencintaimu ??


Tapi kami ini hanya di jodohkan bun, lagi pula aku dan mas Harun memulai pernikahan ini sebagai seorang teman ?? dia pasti akan sulit untuk bisa mencintaiku.


Jangan selalu menyimpulkan sesuatu sebelum kamu tahu kebenarannya.


Deg..


Kata yang sama yang selalu Harun lontarkan.


Ica terdiaam mencoba mencerna setiap ucapan bundanya.


"Bunda tinggal dulu sayang." Kata Lidya beranjak dari duduknya.


Ica terdiam, menatap ke arah bundanya yang sudah berjalan keluar kamar. "Apa mas Harun bisa belajar mencintaiku?? " Gumamnya


Derrrttt derrrrttt


Ica meraih ponselnya yang bergetar. "Mas Harun," ucapnya saat melihat nama My Hubby terpampang di layar ponselnya.


"Jangan terlalu memikirkanku, istirahatlah !! Aku tidak bisa fokus kerja jika kamu selalu saja memikirkanku." Harun


"Iishhhh apaan sih, kenapa coba dia selalu saja tahu." Gumam Ica kesal memanyunkan bibirnya.


"Siapa yang memikirkanmu ?? Jangan terlalu kepedean." Ica


"Hahaha, benarkah ?? Maaf jika aku salah. Jangan manyun gitu mukamu sangat lucu." Harun


"Mas Harun..... Ihhh ngesselin banget sih." Ica meremas ponselnya kesal. Ia tak lagi ingin membalas pesan Harun.

__ADS_1


Tak lama ponselnya kembali bergetar.


"Jangan marah maafkan aku. Aku hanya sedang merindukanmu 😅😘😘" Harun.


Wajah Ica langsung bersemu merah membaca pesan singkat suaminya.


--------


"Gimana bun, sudah tahu Ica kenapa ??" Tanya Herman panik di seberang telepon.


"Ica enggak apa - apa kok mas." Kata Lidya di selingi tawa.


"Loh kok kamu malah ketawa ??"


"Anakmu mas... Katanya dia sudah jatuh cinta sama suaminya."


"Apa ? Benarkah ?? Syukurlah.." kata Herman lalu ikut tertawa.


"Lalu kenapa dia muram ?? "


"Okok. Telponnya mas tutup yah, assalamualaikum."


Herman menatap layar ponselnya yang sudah terputus. Lalu kembali tertawa Mengingat ucapan istrinya. "Ahhh terima kasih ya Allah engkau telah menumbuhkan rasa cinta di hati putriku. "


---------


*Ica POV*


Seusai sholat isya Harun menyempatkan membaca al-Quran.


Ica memutuskan untuk kembali merebahkan tubuhnya di ranjang. Rasanya tubuhnya masih sangat lelah karena begitu lama ia menghabiskan waktu untuk berbelanja di mall.


Kamu kenapa ?? sejak tadi kamu hanya melamun saja, bukankah seharusnya kamu bahagia karena habis jalan ?? tanya Harun saat melipat sajadahnya.


Ica lalu duduk menyenderkan tubuhnya di punggung kasur saat melihat Harun duduk di sisi ranjang.

__ADS_1


"Mm,.. aku memang sangat bahagia kok." sangkal Ica.


Jangan berbohong, terlihat jelas kamu sedang memikirkan sesuatu.


Maaf, aku hanya sedang memikirkan Dita.


Memangnya ada apa dengan Dita ??


"Mas sebesar apa kekuatan cinta itu ??" Wajah Ica terlihat serius, kini ia sudah duduk menghadap Harun bertanya penuh antusias.


"Maksud kamu ??" Harun mengernyit heran.


Kenapa seseorang bisa mencintai dengan begitu tulus, bahkan rela membantu orang yang dicintainya untuk mendapatkan cintanya hanya untuk melihat orang yang di cintainya itu bahagia ??


Maksud kamu ?? kenapa pertanyaan mu berputar - putar seperti itu ??


Huhhh, Ica menarik napas panjang.


Aku pernah bilangkan jika Dita menyukai Danu ?? Harun mengangguk.


Kenapa Dita mau membantu Danu agar bisa dekat denganku ?? apa itu tidak akan menyakiti hatinya ??


Harun tertawa kecil, "polos banget sih." katanya mengusap kepala Ica yang tertutup jilbab.


Apaan sih, aku serius mas..


..


..


..


..


..

__ADS_1


__ADS_2