
"Bunda kok baru nongol sih, Ica kan nungguin dari tadi," protes Ica cemberut.
Iya sayang, maafkan bunda yah nak, tadi kan kamu lihat sendiri ada banyak kerabat kita yang hadir. Jadi bunda dan ayah harus menjamu mereka dulu sayang.
"Lagian kan ada Harun yang menemani Ica," sahut Sinta membujuk Ica.
Harun, Herman dan Wirawan masuk ke kamar Ica.
"Bagaimana sayang sudah siap ??" tanya Herman berjalan ke arah istri dan anaknya.
"Belum sayang dikit lagi kayaknya," balas Lidya melirik ke salah seorang wanita yang sibuk menata kerudung putrinya.
"Wah wah wah cantik banget anak gadisnya papa," celetuk Wirawan yang sudah berdiri disamping menantunya. .
Heheh makasih pa,
Harun hanya melongo terpesona akan kecantikan istrinya yang terlihat dari pantulan cermin itu. "Gila...!sih anak kecil itu elegan banget, cantik... !! hemm gemes berasa pengen nyubit," bathin Harun.
********
Harun dan Ica kini sudah berada di pelaminan menyambut para tamu yang sudah mengantri untuk memberinya ucapan selamat.
"Ica... Selamat yah beibss bahagia selalu," Dita memeluk erat sahabatnya.
"Thankyou mybesty, hmmm terharu deh liat kamu enggak pernah absen gini," Ica memasang expresi haru dengan bibir yang sedikit ia manyunkan.
__ADS_1
"Iya dong, enggak mungkin aku ngelewatin moment bahagia kamu ini. Ehh udah dulu yah pada ngantri tuh," tunjuk Dita pada deretan manusia yang mengantri di belakangnya. Lalu memberi selamat pada Harun.
"Haii cha selamat yah," ucap Danu lirih menyodorkan tangannya. Raut yang nampak begitu sedih dan kecewa terukir jelas di wajah Danu.
Harun menatap lekat expresi Danu yang sedang berjabat tangan dengan istrinya, cukup lama.
"Nu'..." Bisik Dita lirih menepuk bahu Danu untuk menenangkannya.
******
Dari kejauhan mata Danu tak lepas menatap ke arah Ica, kini matanya sudah berkaca -kaca.
"Ikhlasin Nu' mungkin Ica memang bukan jodoh kamu. Percaya, apapun takdir Tuhan, semua pasti yang terbaik untuk kamu," jelas Dita.
"Apaan sih Nu' sakit tauk." Dita menepis tangan Danu lalu memalingkan wajahnya.
"Huhhh... huhhh... tenang Dita... tenang.., hemm pipi aku nggak merah kan ?? Jantung aku... Iyah jantung aku nggak kedengeran kan ??" gumam Dita mencoba menenangkan dirinya yang salah tingkah.
Danu tersenyum lucu melihat ekspresi Dita. "Huffff jangan melamun." Danu menguspkan telapak tangannya ke wajah Dita.
"Danu..... Ikh nyebelin banget sih. Make up aku... Rusak pasti." Dita manyun menepuk pelan pipinya.
"Masih cantik kok, maaf yah. Habisan kamu di ajak ngomong malah diem gitu," ucap Danu mengusap pucuk kepala Dita.
"Tuhh kan sekarang rambut aku."Dita kembali menatap kesal Danu.
__ADS_1
Danu terkekeh melihat tingkah Dita
"Balik yuk ??" ajak Danu pada Dita dan di balas dengan anggukan.
******
Pukul 22:30
"Mas capek, pegel nih kaki aku, gigi aku juga sudah kering senyum mulu dari tadi." rengek Ica memamerkan giginya.
Harun berdiri berjalan menuju papa dan mamanya. "Mahh masih lama yah ?? kasian Ica dia Sudah sangat lelah." Sinta menoleh menatap wajah menantunya yang sudah murung..
Yah sudah kalian kembali saja ke kamar, nanti biar papa mama dan mertua kamu yang mengurus para tamu.
"Iyah nak kalian istirahat saja." timpal Wirawan.
Harun pun mengiyakan, dan kembali berjalan ke arah mertuanya untuk pamit. Kemudian mengajak Ica untuk beristirahat di kamar.
.
.
.
.
__ADS_1