
Setelah mengantarkan suaminya. Ica kembali ke dapur dan membersihkan piring bekas sarapannya tadi, lalu lanjut membersihkan seisi rumahnya. Setelah semuanya selesai ia memutuskan untuk kembali beristirahat di kamarnya.
Ica menghempaskan tubuhnya ke atas kasur, menggoyang - goyangkan tangannya berusaha merasai nyamannya kasur itu. "Hehh, kenapa rasanya aku selalu mudah lelah yah akhir - akhir ini." gumam Ica. Tanpa sadar tangannya refleks mengelus perutnya yang masih datar. "sabar yah nak, beberapa hari lagi papa juga akan menyapamu seperti ini. Mama ingin memberinya kejutan, papa pasti sangat bahagia jika ia tahu kamu sudah hadir di dalam rahim mama." Ica tersenyum membayangkan ekspresi suaminya saat ia tahu akan kabar menggembirakan ini.
Ica berjalan menuju meja riasnya, berdiri mematung melihat pantulan dirinya di balik cermin itu. Seketika ia berjinjit, menggembungkan pipinya sambil berkacak pinggang mencondongkan perutnya ke depan. "Pasti akan sangat lucu jika perutku semakin membesar nanti." ucapnya sambil memutar tubuhnya ke kiri dan ke kanan. Ica sungguh tertawa geli membayangkan bentuk tubuhnya yang akan membengkak nanti.
Tanpa Milka pernah sadari. Ada sepasang mata yang terus saja tesenyum bahagia melihat tingkahnya yang polos.
Dertt... dertt... dertt...
Ica berjalan menuju nakas untuk mengambil ponselnya yang bergetar. "Kantor" gumamnya melihat nama kontak yang tertera.
"Assalamu alaikum"
"Walaikum salam sayang, lagi ngapain?" Harun.
Ica menjauhkan ponsel itu agar bisa di tatapnya, lalu beralih menatap jam di dinding. Ica mengernyit heran. "Lagi di kamar saja mas, ada apa? " jawabnya kemudian.
"Enggak, mas hanya sedang merindukanmu."
Ica kembali menatap ponsel itu.
"Kenapa ekspresimu seperti itu, kamu tidak suka mas Harun menelpon mu?"
"Heh, bukan seperti itu mas, kita kan baru berpisah sejam yang lalu. Yah Ica heran saja. " jawabnya terbata dengan kepala yang celingak celinguk seolah sedang mencari sosok suaminya.
"Cari siapa?"
Ica tersentak, "kok bisa tahu terus sih apa yang ku lakukan." gumanya. "Enggak cari siapa - siapa, udah ah mas, kamu kan harus kerja jangan nelpon terus."
Harun terkekeh, "jangan memasang wajah seperti itu, atau aku akan langsung pulang dan memakanmu."
"Kamu udah gila yah? memasang wajah seperti apa. Kita lagi teleponan mas bukan video callan. Memangnya kamu bisa lihat raut wajahku seperti apa. " kessal Ica.
"Iya iya maaf, yahh sudah kamu istirahat. Mas mau lanjut bekerja." Harun mengakhiri panggilan itu.
"Apaan sih dasar aneh," Ica terus saja menggerutu memaki ponsel yang di pegangnya.
__ADS_1
***
Di kampus...
Dita menempelkan pipinya di atas meja, menatap sendu ke bangku Ica yang sampai sekarang masih saja kosong. "Kamu kemana Cha'? aku sangat merindukanmu." lirih Dita, perasaan bersalah sungguh mencabik hatinya.
Danu berdiri di ambang pintu, menatap prihatin pada temannya itu. Danu perlahan mendekat mengusap lembut rambut Dita yang kini menjuntai ke bawah. "Heii"
Dita mendongakkan kepalanya saat mendengar suara itu. "Danu" lirihnya lalu membetulkan posisi duduknya.
Danu berjalan kesamping, mendudukkan tubuhnya di bangku yang biasanya di tempati oleh Ica. "Kenapa? " tanyanya lembut.
Dita menggeleng. "Maaf Nu' waktu itu.... "
"Sudah jangan membahasnya lagi," Danu memotong kalimat Dita, Kini tangannya bergerak mengusap kristal bening yang sudah jatuh berjejak di pipi gadis cantik itu.
"Nu', aku kangen banget sama Ica..."
"Kamu udah coba buat telepon dia? " Dita menganggukkan kepalanya. "Nomernya udah enggak aktif." Suara Dita mulai bergetar. Dirinya sungguh tidak terbiasa dengan situasi seperti ini. Sejak dulu Ica tak pernah marah padanya, bahkan sahabatnya itu hanya akan menggelengkan kepala lalu memeluknya hangat jika ia melakukan kesalahan. Dan sekarang, mungkin Ica muak melihat dirinya. Bahkan sahabatnya itu tak pernah lagi memberinya kabar.
Hening....
"Dit... apa Ica bahagia menikah dengan suaminya? " pertanyaan itu tanpa sadar di lontarkan Danu.
Dita mendongakkan kepalanya menatap wajah Danu, ia sungguh terkejut dengan pertanyaan itu. "Maksud kamu? "
"Apa suaminya memperlakukan Ica dengan baik." tak menjawab Danu malah mengeluarkan pertanyaan yang semakin membuat kening Dita mengkerut.
Dita sekilas menatap mata Danu yang menatap hampa lurus kedepan. Jari tangannya terus saja mengetuk - ngetuk meja yang tersambung dengan bangku itu.
"Kamu benar sudah tidak memiliki rasa padanya?" Dita ikut - ikutan tidak menjawab, ia malah balik bertanya. Seolah kata - kata Danu tadi membuat dadanya begitu sesak.
"Kemarin Ica ke kampus... " Belum sempat Danu menyelesaikan kalimatnya Dita langsung meremas lengannya dengan kuat.
"Serius?? " mata Dita membulat sempurna. Danu menganggukkan kepalanya, lalu ia menceritakan semua yang terjadi dengan dirinya dan Harun kemarin...
"Mas Harun mungkin terlihat dingin, tapi sebenarnya dia baik kok. Dia begitu lembut memperlakukan Ica. Mereka berdua saling mencintai, aku bisa melihat itu dari mata mereka." jelas Dita, ia sungguh tidak percaya jika mas Harun sampai memukul Danu kemarin.
__ADS_1
"Seandainya kamu lihat drama konyol yang selalu di lakukan dua manusia itu. Pasti kamu akan muak Nu'." Dita tertawa mengingat kelakuan Ica dan mas Harun setiap harinya.
Danu mengernyitkan keningnya, menatap penuh tanya pada gadis cantik yang kini mengukir senyum di bibirnya.
"Meraka berdua itu bucin banget tau enggak, aku aja yang lihat kadang merasa geli. " Dita kembali tertawa.
Danu sungguh tak bisa percaya dengan apa yang di katakan Dita. "Tatapan yang penuh amarah kemarin... apa itu bentuk dari kecemburuannya? " batin Danu.
***
Harun membuka pintu kamarnya perlahan, berjalan mendekat ke arah ranjang. Menatap sendu pada istrinya yang tertidur dengan pulas. Harun menyibakkan rambut Ica yang menutupi sebagian wajahnya. Senyumnya kembali mengembang menatap wajah polos itu. "Mas, sangat merindukanmu" lirihnya, lalu segera berlalu membersihkan tubuhnya.
Mendengar suara gemericik air membuat Ica terbangun, tangannya menutup mulutnya yang masih saja menguap. Ica lalu menatap jam di dinding. "Sudah jam sembilan, itu pasti mas Harun." gumamnya, lalu segera ke dapur membuat teh hangat.
Ica kembali ke kamar bersamaan dengan suaminya yang baru saja keluar dari kamar mandi dengan menggunakan kaos polos dan celana pendek, terlihat handuk kecil masih menggantung di lehernya. "Kok bangun sayang?" Harun berjalan menghampiri istrinya.
"Maaf, mas pulang sangat larut. " ucapnya lalu mengecup kening Ica.
Ica menganggukkan kepalanya lalu menyodorkan cangkir yang di bawanya. "Minumlah, setelah itu istirahat. Kamu pasti sangat lelah."
Harun mengangguk lalu menyeruput teh buatan istrinya. "Kamu sudah makan? " tanya Harun setelah meletakkan cangkir di nakas.
Ica mengangguk lalu kembali membaringkan tubuhnya. Harun pun ikut merebahkan tubuhnya, mengangkat kepala Ica lalu ia baringkan di lengannya.
"wajahmu terlihat pucat sayang, kamu sakit? " Harun mengusap lembut wajah istrinya yang sedikit memucat.
Ica menggeleng lalu meneggelamkan wajahnya dalam dekapan suaminya.
Harun pun semakin mengeratkan pelukannya, tangannya dengan lembut mengusap punggung Ica.
"Mas... aku sangat rindu pada ayah dan bunda. "
..
..
..
__ADS_1