
Kamar hotel..
Ica menjatuhkan tubuhnya di sofa, menggeliat kan badannya mencoba mencari posisi terenak,, "ahhh... leganya sumpah, Makasih yah mas." ucap Ica tanpa membuka matanya.
Harun mengiyakan dan memutuskan untuk membersihkan dirinya yang sudah terasa lengket.
Lima belas menit kemudian ..
Harun keluar dari kamar mandi, ia sudah nampak segar dengan handuk kecil yang masih melilit di lehernya sesekali iya mengeringkan rambutnya dengan handuk itu.
------
Harun berdiri di hadapan Ica menatapnya intens. "Kasian capek banget kayaknya sampe tidur kayak gini ," gumam Harun prihatan.
Harun berlutut dan mencoba melepas hells Ica pelan.
"Awww... " Ica Terbangun dan meringis.
Harun kaget lalu mendongakkan kepalanya menatap Ica.
"Perih banget mas." keluh Ica memegang sepatunya.
Harun kembali membuka hells Ica perlahan, ia kaget melihat kaki istrinya yang memerah dan lecet. Spontan Harun mengangkat tubuh Ica dan membaringkannya di ranjang, lalu segera menelpon layanan kamar agar segera di bawakan kotak p3k.
Harun kemudian berlari ke kamar mandi. "Tidak ada, shit..." umpat Harun kesal tidak dapat menemukan baskom kecil atau apapun yang bisa ia pakai.
Harun melihat handuk yang melingkar di lehernya, menariknya kasar dan membilasnya dengan air hangat. Lalu segera kembali ke Ica dan mengompres perlahan luka di kakinya.
__ADS_1
Ica yang melihat Harun begitu panik justru terheran.
"Kenapa sih nih orang, kakiku kan cuma kebaret dikit karena kelelahan berdiri tadi," gumam Ica.
"Masih sakit ??" Tanya Harun yang masih serius mengompres kaki Ica, sesekali Harun meniup luka itu.
"Enggak kok mas, sudah mendingan." Jawab Ica berusaha menarik kakinya menjauh dari Harun.
Merasakan kaki Ica yang perlahan mundur membuat Harun menarik kaki itu kembali dan menahannya. "Jangan di gerakkan dulu," ucap Harun sinis.
Tak lama kotak p3k yang di minta Harun sudah datang, ia pun mengambil obat merah.
Mas di kasih plaster obat saja langsung.
Harun mengabaikan perkataan Ica.
"Cih, ujung-ujungnya di pelasterin juga kan" gumam Ica, melihat Harun menempelkan plaster obat setelah menyelesaikan ritualnya.
"Mau kemana ??" tanya Harun menahan tangan Ica.
Mau mandi mas, gerrahh tauk. Lagian masa Ica tidur pakai gaun ini.
Kaki mu bisa perih jika terkena air.
Ini cuma ke baret dikit mas, Ica enggak apa - apa kok.
Harun menatap tajam ke arah Ica, yang di tatap langsung duduk dan mendengus kesal.
__ADS_1
"Lebbay banget sih nih cowok." gumam Ica.
"Maaf !!" ucap Harun, kemudian melepaskan kain yang menutup kepala Ica, di lanjut dengan melepas gaun yang dikenakannya.
"Enggak usah mas, Ica bisa sendiri kok." pinta Ica merasa risih.
Harun kembali menatapnya tajam.
"Apa - apaan sih nih manusia es, ya Tuhan malangnya nasibku," bathin Ica.
Kini hanya tinggal singlet dan sebuah hotpan yang menutup tubuh Ica,
"Awww... mau ngapain mas ??" teriak Ica saat Harun menggendong tubuhnya.
"Jangan sampai luka mu itu terkena air." Tegas Harun saat sudah mendudukkan Ica di closet, " kalau kamu sudah selesai panggil mas kembali," lanjutnya.
cih, mana ada mandi kaki nggak basah. dasar gila !!
Dua puluh menit kemudian.
Ica sudah selesai dengan ritual mandinya, iya pun berjalan keluar dengan baju mandi yang menutup tubuhnya.
Melihat Ica yang sudah berdiri di ambang pintu kamar mandi, sontak membuat Harun berdecak kesal dan menghampirinya.
"Mas kan sudah bilang kalau kamu sudah selesai, panggil...." belum selesai ucapannya mata Harun sudah tertuju pada plaster luka Ica yang sudah kuyup.
.
__ADS_1
.
.