Harun Untuk Khaliesah

Harun Untuk Khaliesah
wedding


__ADS_3

Harun dan Ica kini sudah duduk berhadapan dengan pak penghulu dan ayah Ica sebagai wali nikah. Ballroom hotel yang terlihat begitu mewah nampak di penuhi keluarga besar dari kedua mempelai.


*******


saya nikahkan engkau muhammad Harun anggara assegaf bin Wirawan assegaf dengan saudari khaliesah latifah binti Herman sanjaya dengan maskawin tersebut tunai.


Saya terima nikah dan kawinnya khaliesah latifah binti Herman sanjaya dengan mas kawin seperangkat alat sholat di bayar tunai. "Dengan lantang Harun berucap."


"Bagaimana para saksi", tanya sang penghulu.


sah, sah, sah


SAH


Seketika riuh terdengar suara para kerabat, yang menyambut kebahagiaan Ica dan Harun.


Alhamdulillah. Ucap Harun melepas segala kegugupannya.


Yahh sejak tadi Harun memanglah sangat gugup, raut wajah yang tak pernah ia tampakkan, sekarang terlihat begitu jelas, bahkan Wirawan dan Sinta sedari tadi sudah menenangkan sang anak.


Setelah bertukar cincin, Ica mencium punggung tangan Harun di susul Harun yang mencium kening Ica. Dan setelah rentetan kegiatan selesai, Ica dan Harun di bawa ke kamar untuk istirahat sejenak, karena malam nanti resepsi pernikahan akan di gelar di tempat yang sama.

__ADS_1


*****


Sesampainya di kamar, Ica menjatuhkan dirinya di atas sofa, lama Ica memejamkan mata. Badannya terasa begitu lelah setelah menyambut keluarga besarnya dan Harun yang begitu banyak.


Mata Harun begitu lekat memandangi Ica tak sedetikpun ia berpaling, Harun merasa kasihan melihat Ica istrinya itu nampak begitu lelah, perlahan Harun mendudukkan tubuhnya di samping Ica.


Merasa sofanya bergerak, Ica lalu membuka mata, ia melihat Harun yang kini duduk di sampingnya. "Ehhh mas, maaf yah Ica capek banget soalnya", ucap Ica merasa tidak enak, dirinya bahkan lupa kalau Harun juga berada di kamar yang sama.


Harun membalas dengan anggukan.


"Maaf yah !", ucap Harun yang kini melepaskan hiasan di kerudung Ica.


Ica tidak menjawab, ia mematung membiarkan Harun dengan kegiatannya.


"Enggak apa - apa mas, Ica di sini saja, kalau mas merasa lelah mas boleh pergi tidur". Jawab Ica canggung, ia masih belum bisa beradaptasi dengan suasana seperti ini, berada di dalam kamar dengan seorang lelaki yang bukan ayahnya membuat Ica sedikit kaku.


"Aku akan tidur di sofa, pergilah!!", ucap Harun kembali.


Ica memandang ke tubuhnya yang masih terbalut baju pengantin. "Yahh kali aku tidur kayak gini, kalo ada bunda mah enak bisa bantuin aku melepaskan kebaya ini," fikir ica.


"Hehe biar aku saja mas yang istirahat di sofa", ucap Ica cengengesan.

__ADS_1


"Yah kali aku minta tolong dia buat bantu buka nih baju", gumam Ica.


Harun yang sedari tadi memperhatikan Ica, mengerti kalau Ica merasa tidak nyaman dengan busananya.


"Mau mas bantuin??"


Ica kaget mendengar tawaran Harun. "Hehh?? maksudnya.. mas... " tunjuk Ica ke arah bajunya. "Heheh enggak mas, enggak usah makasih", ucap Ica membuang pandangannya ke arah lain, pipinya sudah mulai menghangat. " Apaan sih nih orang," gumam Ica.


Harun terkekeuh melihat wajah Ica yang mulai merona, Harun paham betul sekarang istrinya itu merasa malu akan tawaran yang ia berikan.


"Jangan berfikiran aneh, aku hanya ingin menolongmu", ucapnya sinis, aku mampir namun bibir Harun tersenyum jahil.


Harun pun membalikkan paksa tubuh Ica dan melepaskan perhiasan yang melekat pada tubuh istrinya.


Ica hanya bisa tertunduk pasrah.


..


..


..

__ADS_1


..


__ADS_2