
Perubahan sikap Ica sejak masuk rumah sakit kala itu, benar - benar membuat Harun merasa gelisah. Sedih dan sesak terasa mencabik hatinya, entah kesalahan apa yang telah dilakukannya, hingga istrinya itu kini benar - benar berubah.
Harun sangat sedih melihat istrinya yang tak hentinya merasakan mual, tak satu makanan pun yang masuk ke dalam mulut istrinya itu tanpa di muntahkannya kembali. Dan sungguh menyakitkan karena Icanya itu selalu saja menolaknya bahkan untuk sekedar membantu memijat tengkuknya disaat ia tengah muntah.
Harun merasa sangat tidak berguna, ia merasa telah gagal menjadi suami yang baik untuk istrinya. Janjinya pada bunda Lidya dan ayah Herman untuk selalu membahagiakan Ica telah gagal. Wanitanya itu bahkan seperti sangat muak untuk melihat wajahnya.
"Ya Allah, apa ini hukuman untukku, berulangkali telah ku sakiti hatinya, berulangkali ku membuatnya meneteskan air mata. Namun tetap saja ia selalu mengalah. Istriku begitu mencintaiku dan merelakan semua kebahagiaannya hanya untukku, namun apa yang telah kulakukan? Aku hanya memberinya penderitaan.
Ya Allah, jika cinta itu masih ada di hatinya, izinkanlah hamba untuk bisa meraihnya kembali. Biarkan cinta dan kebahagiaan tetap tumbuh dalam mahligai ini. Aku hanya ingin bahagiaku dan dia tetap abadi." keluh Harun dalam sujudnya.
***
Beberapa bulan telah berlalu, kini perut Ica sudah mulai terlihat membesar. Namun sikapnya masih tetap dingin. Rasanya Harun sudah kehabisan akal untuk menghadapi perubahan istrinya yang amat drastis itu.
Harun percaya, jika ini hanyalah perubahan hormon. Istrinya berubah hanya karena sedang berbadan dua. Dan itulah hal selalu diyakinya untuk tetap menyemangati dirinya sendiri.
Hari ini Dita dan Danu kembali menjenguk Ica, Harun tak lagi mempermasalahkan itu. Dirinya kini mulai berdamai dengan kehadiran Danu yang kini sudah menjadi kekasih dari sahabat istrinya itu.
"Sayang, Dita dan Danu ada di bawah." Ucap Harun menghampiri istrinya yang sedang membaca buku di atas tempat tidur.
"Makasih." singkat Ica, lalu segera ke bawah dan meninggalkan suaminya yang hanya menatap dengan sendu.
Harun berdiri menatap mereka dari lantai atas, sudut bibirnya sedit terangkat, mengukir senyum ketika melihat tawa Ica yang tak pernah lekat dari wajah manisnya.
Ada kebahagiaan dan kekecewaan yang seketika melintas dihatinya. Sudah beberapa bulan dirinya tak pernah melihat kebahagiaan di wajah istrinya itu, kecuali Ica sedang bersama orang tua ataupun sahabatnya.
Sungguh sakit saat Harun harus melihat senyum itu terukir bukan karenanya. Karena Ica tak lagi pernah bersikap hangat padanya.
__ADS_1
Namun Harun tak pernah ingin mempermasalahkan itu, yang kini bisa dilakukannya hanyalah membiarkan senyum itu tetap terpancar, walau bukan kepadanya.
Dita mengajak Ica duduk di taman belakang rumah, ia membiarkan Danu dan Harun mengobrol bersama.
"Apa sekarang kamu sudah baik - baik saja." Tanya Dita ketika mereka hanya duduk terdiam.
Ica mengambang senyum hampa, jelas terlihat kebimbangan dimatanya.
"Ayolah Cha, kamu harus belajar berdamai dengan diri kamu. Sampaikan semua kegundahanmu padanya, agar kalian bisa menyelesaikan masalah kalian ini." Saran Dita, sebenarnya ia juga tak tahu masalah apa yang sedang di hadapi sahabatnya itu, karena Ica memang tidak pernah terbuka dengan kehidupan pribadinya. Yang ia tahu, sahabatnya itu sering sekali menangis saat sedang bertukar suara via telepon dengannya.
"Enggak ada yang perlu diselesaikan Ta'."
"Lalu sampai kapan kalian akan seperti ini? Sebentar lagi kamu akan melahirkan. Apa kamu enggak kasihan dengannya," mengusap lembut perut Ica, "dia pasti sangat sedih melihat tidak ada kehangatan di antara orang tuanya."
Mata Ica mulai berkaca - kaca, yahh ia juga memikirkan hal yang sama. Lagi pula kesedihan hanya akan berdampak buruk bagi janinnya. Namun apa yang harus di lakukannya, Ica juga sungguh tak paham dengan hati dan pikirannya saat ini.
"Harusnya kamu juga lihat, seberapa keras mas Harun berjuang untuk mempertahankan ini. Dia begitu sabar menghadapimu, sekarang dia bahkan menerima Danu karena tak lagi ingin melukai perasaanmu."
"A-aku tahu Ta', tapi aku enggak tahu harus bersikap seperti apa. Dia udah terlalu menyakitiku." Suara Ica mulai bergetar, namun ia tetap berusaha agar tak menceritakan permasalahannya pada Dita.
"Menyakiti seperti apa? Luka sedalam apa yang sudah mas Harun torehkan, sampai kamu berubah seperti ini."
Ica terdiam.
"Ica, diammu ini hanya akan membuat kalian berdua terluka. Kamu harus ingat, penyesalan itu selalu datang belakangan. Kamu enggak akan bisa mengembalikkan waktu kamu yang terbuang sia - sia ini ketika kamu menyadari semua yang kamu pendam itu hanyalah kesalah pahaman."
"Please, jangan lagi terpuruk seorang diri, kamu perlu bahu seseorang untuk bersandar. Kamu butuh seorang pendengar untuk bisa mengurangi beban dihati kamu."
__ADS_1
"Aku berharap kamu bisa berbagi semua ini dengan mas Harun."
Dita berdiri dari duduknya dan meninggalkan Ica yang mulai sesenggukan.
"Mas, kita pulang dulu yah. Udah malam." Pamit Dita menarik tangan Danu.
Harun dan Danu hanya bisa saling bertukar pandang, mereka tidak mengerti dengan perubahan sikap Dita.
Harun menoleh ke arah belakang, namun tidak menemukan sosok Ica yang segera menyusul sahabatnya yang sudah masuk terlebih dulu. "Apa mereka bertengkar?" fikir Harun.
Harun mengantarkan Dita dan Danu sampai ke depan, lalu kembali mencari istrinya saat melihat motor Danu yang sudah melaju meninggalkan pekarangan rumahnya.
"Kamu kenapa?" panik Harun melihat istrinya yang sesenggukan.
Ica hanya menggeleng dan segera meninggalkan tempat duduknya, ia berjalan dengan cepat menuju kamarnya. Harun hanya bisa terus mengikutinya dari belakang, karena ia tak ingin sesuatu yang buruk terjadi pada istrinya.
"Kumohon berceritalah," bujuk Harun mengusap lembut lengan istrinya.
Ica tak menjawab, ia masih saja sesenggukan sambil memeluk gulingnya. Yah Dita memang benar, sampai kapan kesalah pahaman ini akan berlangsung, jika dirinya tidak mencoba terbuka dengan mas Harun.
"Sayang kamu kenapa, jangan membuatku khawatir." lirihnya, lalu ikut menidurkan tubuhnya di samping Ica, Harun memeluk erat tubuh Ica dari belakang, berharap pelukan itu bisa mengurangi sedikit kesedihan istrinya. Satu - satunya hal yang bisa di lakukannya karena Icanya tak pernah lagi ingin berbagi cerita dengannya.
Merasakan pelukan itu, Ica membalikkan tubuhnya, lalu semakin menenggelamkan wajahnya di dada bidang suaminya. Terasa hangat, entah kapan terakhir kali Ica merasakan kehangatan ini.
Benar kata Dita, sungguh bodoh dirinya telah membuang banyak waktu berharganya, menyia - nyiakan kehangatan yang dulu selalu dirasakannya saat berbagi segalanya dengan mas Harun.
Ica semakin sesenggukan di balik pelukan itu, rasanya ia sedang menyesali segala kebodohannya. Sementara Harun, ia tak tahu lagi bagaimana harus menggambarkan kebahagiaanynya, untuk pertama kalinya Icanya ingin membalas pelukannya itu. Rasanya Harun benar - benar merindukan memeluk istrinya dengan hangat seperti ini.
__ADS_1