
Ini salahku tidak seharusnya aku jalan berduaan dengan seorang lelaki. Suami mana yang tidak akan marah jika melihat istrinya dengan laki - laki lain.
Ica mengambil ponsel yang di lempar Harun ke ujung kasur. Mengeceknya sesaat lalu merebahkan tubuhnya.
Lama Ica menatap punggung itu hingga ia terlelap dalam tidurnya dengan tangan yang menggenggam erat ujung baju Harun.
Merasakan Ica yang tidak lagi bersuara, Harun membalik badannya perlahan. Sudut bibirnya terangkat saat melihat tangan Ica yang menggenggam erat bajunya.
Apa aku terlalu kasar padamu ?? Ucap Harun lirih membelai kepala Ica.
Maaf jika aku tidak bisa mengontrol emosiku, rasanya begitu sesak membayangkan kamu bersamanya menikmati pemandangan yang indah.. Cih, Laki-laki itu pasti bangga, ini seperti kencan romantis baginya. "Gumam Harun".
Pandangan Harun teralihkan saat melihat ponsel di samping Ica, cukup lama ia menatapnya pikirannya pun sudah di penuhi hal - hal buruk.
Harun kemudian memutuskan memeriksa ponsel Ica,
Saat tak menemukan pesan maupun kontak bernamakan Danu, Harun menarik nafas lega. Ia justru tersenyum bangga saat melihat daftar panggilan masuk "My Hubby😘". Ahh sweet baget sih kamu Ica.. "Gumamnya"
Harun melongo saat tidak mendapati satu pun foto yang ia lihat tadi. Ia pun beralih melirik ke arah Ica yang tidur dengan pulasnya. Sebegitunya dia tidak ingin melukai perasaanku ??
Apa dia mulai mencintaiku ?? Atau mungkin ini hanya rasa tanggung jawab dalam menjalankan kewajibannya sebagai istriku ???
Ahh, mengapa begitu sulit untuk bisa memahami apa yang ada di fikiranmu.
------------------
__ADS_1
Sudah seminggu sejak kejadian malam itu. Dan sejak itu juga Ica menjadi berbeda.
Yahh, dia memang selalu terlihat tersenyum dan bahagia di depanku, tapi aku tahu mata itu tidak menunjukkan hal yang sama. Tidak ada lagi kehangatan dalam tatapan itu, yang ku lihat hanyalah sebuah kepedihan.
Dia selalu melakukan apapun yang ku katakan, tak ada bantahan, aku bahkan tidak pernah lagi mendengar rengekan manjanya. Bahkan mungkin jika ku tiduri
dia saat ini, dia takkan menolaknya.
Yahh ini bukan cinta tapi hanya sebuah kewajiban. Dia menjalani harinya hanya sebagai seorang istri bukan sebagai khaliesah.
----------
Gili Meno..
Harun terus menatap Ica, mencerna semua kebisuaan yang ada.
Apa yang harus ku lakukan agar bisa melihat kebahagiaan di mata itu lagi ?? Batin Harun.
harun meraih tangan Ica dan menggenggamnya erat. Merasakan hangatnya tangan Harun membuat Ica tersadar dari lamunannya.
Kenapa ?? tanya Harun lembut.
Ahhh enggak mas, ini pemandangannya bagus banget hehe. Jawab Ica kikuk menunjuk ke arah hutan bakau di sekelilingnya.
Hemm, iya pemandangannya memang sangat indah, kenapa aku tiak menyadarinya tadi, "gumam Ica"
__ADS_1
********
Sesampainya di villa..
Ica merapikan barang bawaananya dan Harun ke dalam lemari. Setelah melihat Harun keluar dari kamar mandi, Ica menyusul untuk segera mandi.
Kok gak siap - siap ?? Kita kan mau keluar makan malam. Tanya Harun heran saat melihat Ica hanya memakai baju tidur.
Maaf mas, aku sangat lelah.
Baiklah aku akan minta pelayan membawakan makanan.
Harun menahan tangan Ica yang ingin naik ke tempat tidur. Kamu marah pada ku ??
Maksud mas ?? Ica mengangkat kedua alisnya menatap Harun.
Tidak ada jawaban mereka berdua hanya beradu pandang..
.
.
.
.
__ADS_1