Harun Untuk Khaliesah

Harun Untuk Khaliesah
beli cincin part 2


__ADS_3

"Mas cincinnya sudah di pesan ?" tanya Ica penuh selidik, Harun tersenyum dan menganggukkan kepalanya.


Apaan sih nih orang enggak jelas banget, cih, aku berasa akan menikah dengan manusia es !!


"Terus ngapain Ica di ajak ke sini, kenapa bukan mas saja yang pergi mengambilnya, toh mas Harun sudah memesan cincinnya", celetuk Ica kesal.


Harun mengerutkan dahinya menatap heran atas sikap Ica, "gemessin banget sih nih anak kalau cemberut begitu, Ya Allah jadi pengen banget nyium pipi lubang nya itušŸ˜†", gumam Harun dalam hati.


"Maaf yah,, ayah kamu yang minta supaya ngajak kamu". Harun mengusap kepala Ica.


"Untung saja pakai jilbab kalau enggak , auto berantakan nih rambut", gumam Ica, Tapi sepertinya dia sosok yang penyayang, sudut bibir Ica sedikit terangkat mendapatkan perlakuan seperti itu dari Harun.


Tidak berapa lama laki - laki yang ternyata adalah sang empunya toko datang membawa sebuah kotak dan menyodorkannya sopan ke arah Harun.


"Bagaimana pak apakah cincinnya sudah sesuai dengan yang bapak inginkan ??" tanya sang pemilik toko ketika Harun sudah membuka kotak tersebut.


Mmm, Harun mengangguk. "Yah ini sempurna, sangat indah, bagaimana menurutmu Ica ?" tanya Harun menyodorkan cincin itu pada Ica.


Seketika wajah Ica merona, matanya ber binar, masha Allah indah banget mas.


Hati Ica tersentuh melihat cincin berlian berukirkan klā¤hA, berlian kecil yang menengahi inisial nama mereka, terlihat sederhana namun begitu cute di mata Ica.


"Ini mas yang design ?? lucu banget", Ica masih terus mengusap cincin itu.

__ADS_1


"Andaikata ada jinnya, sudah nongol tuh jin dari tadi di usapin mulu tuh cincin sama Ica😁"


Harun tersenyum mendengar ucapan Ica, ada perasaan lega di hatinya melihat senyum Ica yang tak hentinya tersungging memperlihatkan kedalaman lesung pipinya itu. kamu suka ??


Ica menganggukkan keplanaya cepat.


----------------


Hari H pernikahan...


Ica berada di salah satu kamar hotel tempatnya melangsungkan pernikahan, terlihat beberapa orang yang tengah sibuk mengurus segala kebutuhan Ica, dan ada juga yang fokus memoles wajahnya.


ceklek,,


Ica menggeleng - gelengkan kepalanya, "kamu apaan sih Dit, bisa enggak kalau datang enggak usah teriak heboh begitu".


"Iya iya maaf", Dita memanyunkan bibirnya, merasa kesal karena di tegur Ica. "Cantik banget, ini kamu Cha ??" Dita terpukau melihat wajah sahabatnya itu dari pantulan cermin.


20 menit kemudian,,


Masha Allah anak bunda cantik banget,


Ica menoleh ke arah bunda Lidya, terlihat ayah dan bundanya yang sedang berdiri menatap ke arahnya, mata yang begitu sendu, terlihat guratan sedih di wajah Herman dan Lidya, bahkan butiran bening sudah nampak di pelupuk mata Lidya.

__ADS_1


Ica pun berdiri menghampiri orang tuanya, "kenapa kalian sedih melihat Ica ??" tanya Ica lirih menggenggam tangan ayah dan bundanyaa.


Seketika Herman meraih tubuh kecil putrinya , menenggelamkan wajah Ica ke dadanya dan mengusap lembut pucuk kepalanya yang di hiasi beragam perhiasan ala pengantin.


Ica mendongakkan kepalanya melihat wajah Herman yang kini sudah di banjiri air mata. "Ayah kenapa ??"


Ayah hanya terharu melihat putri kecil ayah sekarang sudah mengenakan baju pengantin. Ayah tidak menyangka akan melepaskanmu secepat ini nak, maafkan ayah.


Dada Ica terasa sesak mendengar penuturan Herman, ia bahkan belum siap untuk melepas statusnya, ia masih ingin menjadi putri kecil ayah dan bundanya.


Kini Lidya ikut terhanyut dalam tangisan suami dan putrinya.


Dita yang sedari tadi setia mendampingi Ica pun ikut terenyuh menyaksikan adegan haru di hadapannya.


----------


..


..


..


..

__ADS_1


__ADS_2