Harun Untuk Khaliesah

Harun Untuk Khaliesah
perjodohan


__ADS_3

Di kamar Danu..


Danu menghempaskan tubuhnya di atas kasur menatap langit-langit kamarnya nanar.


"Ica kamu kenapa sih gini banget sama aku, sekali pun kamu enggak mau noleh lihat aku. Please Ica sekali saja, tatap mata aku lihat ke dalam hati aku seberapa besarnya perasaan ini untukmu", gumam Danu, Hatinya terasa begitu hancur, hingga detik terakhir Ica tetap saja menolaknya, bahkan sebelum Ica ingin mencoba mengenal dirinya lebih jauh.


Danu bangkit dari tidurnya berjalan menuju meja belajar nya. Danu menghela nafas dan membuangnya kasar, mencoba menuangkan isi hatinya di secarik kertas.


*K**u memuja dirimu, memberimu tanda cinta,,,


tapi selalu kau hiraukan dan kau abaikan rasaku*,,


Mungkin aku tak mempesona, hingga kau pun tak tertarik padaku


Tapi..


Pernahkah kau melihat isi di hatiku ?


Sungguh tulus cinta ini padamu


Dan sungguh besar pengorbanan ini untukmu.


Apa tak sedikit pun kau kan tergugah olehku ?


Dan memberiku satu pertanda cinta,


Agar tak sedikit pun pengorbanan ku menjadi sia-sia.


------------------


Selepas sholat subuh Ica keluar dari kamarnya menghampiri bunda Lidya yang sedari tadi sibuk membuat sarapan bersama bik Ipah.


"Lagi masak apa bunda ?" Tanya Ica sembari merangkul manja pinggang bunda Lidya.

__ADS_1


"Nih lagi buat nasi goreng nak." Jawab bunda Lidya dengan senyuman.


Ayah mana bun ??


"Ada di kamar sayang, mungkin sedang mandi." Jawab Lidya sembari mengarahkan matanya ke arah kamar.


"Bundaaa". Rengek Ica seketika. Lidya hanya menjawabnya dengan deheman, tanpa menoleh pada anaknya itu. .


"Bun..... Jalan yuk,


Ica bosen banget sudah seminggu Ica libur, tapi kita hanya dirumah saja." Rengek Ica mengguncang pinggang sang bunda.


"Iya sayang, nanti bunda tanya ayah.


kamu duduk sana dulu gih,


Ica gangguin bunda masak nih", lirik bunda Lidya ke arah wajan.


Herman berjalan menuruni tangga dengan ponsel yang menempel di telinganya.


"Ohh iya bang, okok nanti kita bahas ini lebih lanjut, enggak enak ngomonginnya di telpon." Ucap Herman lalu mengakhiri panggilan telepon nya.


Ica menoleh menatap ayah Herman yang begitu serius berbincang melalui pesawat telepon itu.


"Ehhh, pagi sayang-sayangnya ayah." Sapa ayah Herman menghampiri bunda Lidya dan Ica sambil mengecup kening mereka.


"Siapa yang telepon yahh ? kayaknya serius banget".


Tanya Lidya penasaran.


Ohh, itu bun. bang Wirawan.


"Hmmmm." Jawab Lidya dengan anggukan, ia sudah mengerti apa yang menjadi topik pembicaraan sang suami dan bang Wirawan.

__ADS_1


"Siapa yahh ??" tanya Ica yang tak pernah mendengar nama tersebut.


Seketika Herman dan Lidya saling menatap satu sama lain.


Lidya lalu mengangguk mengisyaratkan sang suami untuk menjelaskannya.


"Hmmm, kamu habiskan sarapan kamu dulu saja sayang, setelah sarapan ayah akan ceritakan." Herman mengelus lembut kepala sang anak. Lalu di balas anggukan oleh Ica.


-------------------


"Ica..." Panggil ayah Herman saat Ica baru saja akan menaiki tangga menuju kamarnya.


Ica berbalik dan Herman hanya menepuk ruang kosong sofa yang ia duduki, mengisyaratkan Ica agar segera duduk di sampingnya.


"Ada apa ayah ??"


"Mmm,, ayah ingin bicarakan hal yang penting sama kamu nak". Ucap Herman setelah menghela nafas panjang, guratan ragu dan cemas begitu tergambar jelas di wajahnya.


Ica hanya menatap ayahnya dengan heran dan menganggukkan kepalanya.


"Hal apa yang membuat ayah begitu sangat tertekan. ada apa ini ??" fikir Ica.


"Sayang yang tadi nelpon itu namanya om Wirawan, sahabat ayah dan bunda sejak lama, bahkan oma dan opa sangat dekat dengan om Wirawan dan keluarganya." Jelas Herman kemudian.


Ica hanya diam dan menganggukkan kepalanya sesekali, dan terus menatap ayahnya yang berbicara.


"Dulu saat tante Sinta istrinya om Wirawan melahirkan seorang anak laki-laki, oma dan opa pun sangat bahagia menyambut anak itu dan opa ingin agar kelak saat mamamu melahirkan seorang anak perempuan, anak itu di jodohkan dengan anaknya om Wirawan".


Deg, hati Ica tersentak mendengar perkataan ayahnya.


"Om Wirawan dan keluarganya pun sangat bahagia dengan keinginan opa, mereka lalu menyetujui perjodohan itu." Herman menjeda kalimatnya.


Ica terus menyimak apa yang di sampaikan sang ayah, dan seketika ekspresinya berubah mendengar kata perjodohan.

__ADS_1


__ADS_2