Harun Untuk Khaliesah

Harun Untuk Khaliesah
menuju ending 2


__ADS_3

... Terkadang, meluapkan semua perasaan yang ada dihati adalah pilihan yang terbaik.


Tidak semua orang bisa mengerti apa yang kita rasakan,


Apa yang kita inginkan,


Dan sikap seperti apa yang kita harapkan untuk seseorang lakukan, agar kita bisa menjadi bahagia.


Manusia hanyalah manusia,


Mereka tak dapat membaca isi hati dan pikiran kita.


Menjadi realistis, adalah hal yang terbaik untuk menjalani suatu hubungan.


Karena pada hakikatnya, "DIAM" akan selalu mendatangkan penyesalan...


***


Sejak kepulangan Dita, sikap Ica perlahan mencair. Entah apa yang mereka berdua perbincangkan, namun hal itu sungguh memberi kebahagiaan tersendiri bagi Harun.


"Bik, hari ini saya akan pulang telat. Tolong bibi pastikan agar istri saya tidak meninggalkan makanannya lagi." Pesan Harun pada asisten rumah tangga yang sudah beberapa bulan ini ia pekerjakan.


"Baik Tuan."


Harun kembali ke kamar untuk berpamitan pada istrinya, "sayang maaf, ada hal yang harus ku kerjakan hari ini. Jadi mungkin aku akan pulang sedikit telat."


Ica menjawab dengan anggukan dan senyum yang mengambang. Yahh, ini lebih baik untuk Harun, setidaknya Ica tidak lagi mendiaminya, dan senyum itu... sudah mampu menjadi penyemangat untuknya.


***


Sepulangnya dari kantor, Harun melajukan mobilnya menuju ke rumah orang tuanya, ada banyak hal yang harus di persiapkannya. Kesempatan ini adalah hal terakhir yang bisa di lakukannya agar bisa mengembalikan Icanya seperti dulu lagi, yahh semoga apa yang dilakukannya ini bisa berhasil dengan baik. Agar Ica tak lagi jauh darinya.


"Assalamualakim mam."


"Wa'alaikum salam sayang," mama Sinta celingukan mencari sosok menantunya, "Ica nya mana, enggak ikut yah?" tanyanya dengan wajah masam.


"Iya, tadi habis dari kantor Harun langsung ke sini. Mam, Harun langsung ke kamar yah, mau ngambil sesuatu soalnya." Harun tak lagi mendengar jawaban Sinta, langkahnya bergerak cepat menuju kamar yang dulu di tempatinya.


Mengeluarkan sebuah kotak dari bawah tempat tidurnya, senyum Harun mengambang saat membuka kotak itu. "Semuanya masih tersimpan dengan baik." Ucapnya saat menatap selembar foto yang di ambilnya dari dalam kotak itu.


Harun lalu memindahkan semua isi kotak itu ke sebuah paper bag, dan segera pamit pulang pada mamanya.


"Kok buru - buru sayang, kamu enggak mau ikut makan malam dulu?" tanya Sinta penuh harap.


"Maaf ma, kasian Ica, nanti nungguin aku nya kelamaan."


"Kamu sih enggak ajakin istri kamu juga ke sini. Mama kan udah rindu banget sama Ica." Keluh mama Sinta dengan wajahnya yang di buat cemberut.


"Lain kali yah mamaku sayang." Menangkup wajah mama Sinta dengan lembut, "Harun pamit," lalu mengangkat tangan mamanya dan menciumi punggung tangan itu.


Sinta hanya menatap sendu, punggung putranya hingga hilang di balik pintu. Ada perasaan kecewa di hatinya, bukan hanya karena menantunya yang tidak ikut hadir namun juga karena anaknya yang tak bisa ikut menemaninya makan malam. Sinta sungguh merindukan kehangatan duduk berkumpul bersama suami, anak dan menantunya.


***

__ADS_1


Harun tiba di rumah sudah sangat larut, sepulang dari rumah mama Sinta, dirinya di sibukkan membeli beberapa barang di salah satu pusat perbelanjaan.


"Bik, istri saya ada di mana?" tanya Harun ketika bik Atik baru saja membuka pintu.


"Setelah makan malam, non Ica kembali ke kamar." Jawabnya, kemudian mengambil barang yang di tenteng oleh Harun.


"Langsung ke kamar sebelah yah bik."


"Baik tuan."


***


Harun membuka pelan pintu kamarnya, berjalan mendekat ke tempat tidurnya. Langkahnya terhenti, memandangi wajah polos istrinya yang sudah terlelap. Lama, Harun memandangi istrinya hingga akhirnya ia melangkah menuju kamar mandi untuk segera membersihkan tubuhnya.


Setelah selesai berganti pakaian, Harun kembali meninggalkan kamarnya unyuk menuju kamar sebelah.


Ica mengerjap, menatap samar ke arah pintu, "apa mas Harun sudah pulang?" pikirnya, setelah mendengar pintu itu seperti baru saja tertutup.


Dirinya memutuskan untuk keluar mencari keberadaan suaminya, namun tak ada siapa pun di ruang tamu ataupun di meja makan.


Ica mendesah, "mungkin hanya perasaanku saja," ucapnya sedikit kecewa, dengan langkah gontai ia lalu kembali ke kamarnya.


Lagi - lagi terdengar desahan berat, ketika baru saja ia mendaratkan tubuhnya untuk duduk di pinggir tempat tidur.


"Apa pekerjaannya sebanyak itu, hingga selarut ini dia belum juga kembali." pikirnya sambil menatap layar ponselnya, tak ada satu pesan pun yang masuk, bahkan sama sekali tak ada panggilan.


"Ya Tuhan Ica... Apa yang kau harapkan, dirimulah yang terlebih dulu memberi jarak. Pesan apa yang kau harapkan dikirimnya, selama ini dia selalu mengabari mu tapi tak sekalipun kamu meresponnya." Ica kembali mendesah, mengingat semua pesan dan panggilan suaminya yang beberapa bulan ini selalu ia abaikan.


Dengan perasaan cemas dan khawatir Ica kembali memaksa matanya agar bisa kembali terpejam.


***


Tak pernah lagi Harun mengajaknya berbicara kecuali di pagi hari, sebelum suaminya itu berangkat kerja. Ica merasa sangat kesepian ada kehampaan yang tiba - tiba saja menyeruak di benaknya.


Mungkin memang benar jika beberapa bulan terakhir hubungannya dan Harun tidaklah harmonis, tetapi tak sekalipun suaminya itu mendiaminya. Harun tetap selalu berusaha menghiburnya, mengajaknya bercerita, walau selalu saja ia abaikan.


Tapi kenapa seminggu ini terasa begitu berat?


Apa selama ini suaminya merasakan hal yang sama, seperti yang dirasakannya seminggu terakhir.


Ica merasa sangat kehilangan, ia benar - benar merindukan kehadiran Harun yang selalu meluangkan banyak waktu untuknya.


"Sudah pukul 00.10, kenapa mas Harun belum pulang." Desahnya menatap hampa ke ruang kosong di sebelahnya, tempat suaminya biasa tidur.


Tanpa sadar setitik cairan bening menetes dari sudut matanya, "mas, aku sungguh merindukanmu." keluhnya mengusap lembut tempat tidur suaminya.


Decitan suara pintu membuat Ica menoleh perlahan.


"Sayang... Kamu kok bangun? Kenapa, ada yang sakit?" Panik Harun mendapati istrinya yang terduduk lesu di atas tempat tidur.


Ica menggelengkan kepala dengan pelan.


"Kamu kenapa?" mengusap lembut wajah Ica yang masih menyisakan tetesan air mata.

__ADS_1


Ingin rasanya Ica menubruk tubuh tegap di hadapannya, meluapkan segala kerinduan dan kecemasan yang beberapa hari ini begitu mengganggu hati dan pikirannya.


"Kamu lapar?" tanya Harun kembali, setelah melihat istrinya yang hanya menatapnya saja tanpa sepatah kata pun.


Ica kembali menggelengkan kepalanya.


"Kamu mau enggak ikut mas Harun?"


Ica menatap dengan ragu,


"Aku mau nunjukin kamu sesuatu, ikut yah?" bujuknya dengan senyum yang mengambang.


Ica hanya mengangguk, dan mengikuti gerakan suaminya yang kini menuntunnya untuk turun dari tempat tidur.


Ica semakin terkejut, saat Harun mulai menutupi kedua matanya dengan telapak tangannya.


"Hati - hati sayang." Ucap Harun sambil menuntun istrinya perlahan.


Terdengar suara knop pintu yang baru saja di buka, "satu, dua, tiga." Ucapnya lalu menjauhakan tangannya yang menutupi mata istrinya.


Ica berdiri mematung dengan tangan yang menutupi bibirnya, begitu takjub akan apa yang di lihatnya, kamar bayi yang di hias dengan begitu indah kini terpampang di hadapannya.


"Happy birthday mama" kalimat itu tertempel di dinding kamar, ada sepasang gambar bayi yang terlihat memegangi tulisan itu.


Air mata mengucur bebas di wajahnya. Ica tak pedulikan itu, ia melangkah perlahan membaca setiap kalimat yang tertulis di setiap note yang tersimpan acak di beberapa tempat.


"Ini foto mama yah, wah lucu sekali. Mama terlihat cantik dengan gaun itu." terlihat beberapa potret diri Ica ketika masih duduk di bangku SD hingga SMP dan bahkan SMA.


"Dari mana mas Harun mendapatkan semua foto ini." Batin Ica, karena tak ada satu foto pun yang dirinya melihat ke arah kamera.


Ica kembali melangkah ke box bayi yang ada di dekatnya, sepucuk bunga. "ini hadiah dari papa untuk mama. Cantik yah bunganya, sama seperti mama." Senyum Ica mengambang membaca kalimat di dalam note yang tersimpan di sisi bunga.


"Itukan..." tunjuk Ica saat melihat peralatan makan bayi yang dulu sempat di belinya. Dirinya lalu mendekat untuk memastikan.


Benar saja, itu adalah peralatan makan yang dulu di belinya saat ingin memberi kejutan tentang kehamilannya pada Harun.


"Mama, aku tidak sabar ingin bertemu denganmu. Tunggu aku yah!" Kalimat yang sama, yang dulu sempat di tulisnya, namun Harun mengganti kata papa menjadi mama.


"Mama, aku dan papa sangat mencintaimu." Kali ini kalimat itu tertulis di balik foto Ica yang terlihat tertidur dengan lelap.


Ica tak mampu lagi membendung kebahagiaannya, ia berbalik menatap suaminya yang masih berdiri di ambang pintu dengan mata yang menatapnya dengan penuh cinta.


Ica berlari menghambur kepelukan Harun, menumpahkan tangis bahagia dan penyesalannya di balik tubuh yang begitu di rindukannya.


"Mas, maafkan aku, maafkan kebodohan ku ini." Lirihnya terisak.


Harun tak berkata apapun, ia hanya memeluk tubuh itu dengan begitu posesif, pelukan Ica yang selalu memberinya ketenangan begitu sangat dirindukannya. Sentuhan lembut di kepala dan punggung Ica terus ia berikan.


Cukup lama mereka saling memeluk, menuangkan segala kerinduan dan kehangatan yang rasanya terbuang begitu sia - sia selama ini.


"Selamat ulang tahun sayang." Ucap Harun lalu kembali mendaratkan ciuman di srluruh wajah istrinya. Entah kapan terakhir Harun melakukan itu.


Begitu banyak hal yang dirindukannya, Harun tak tahu lagi bagaimana menahan luapan kerinduan yang teramat dalam itu.

__ADS_1


Ica tertawa geli memasrahkan wajahnya yang terus saja dikecup oleh suaminya. Tak dapat di pungkira dirinya sangat merindukan kekonyolon Harun yang selalu memeberinya banyak kecupan seperti saat ini.


***


__ADS_2