Harun Untuk Khaliesah

Harun Untuk Khaliesah
melamun lagi


__ADS_3

"Maaf yah nak Ica. Harun kelakuannya memang kayak gitu," jelas Sinta melihat raut heran di wajah Ica.


Ica menganggukkan kepalanya. "iya ma enggak apa - apa," Ica pun mencium punggung tangan mama Sinta.


"Kok lama sayang sampainya. pak Joko kan berangkatnya dari tadi ??" tanya Sinta saat mereka sudah duduk di sofa.


Tadi ngajak Ica jalan - jalan dulu ma, sekalian makan siang di luar.


"Mmmm," Sinta mengangguk. "yah sudah kalau begitu sekarang kamu antar istrimu ke kamar gih, pasti dia sangat lelah."


"Hehh, enggak kok ma, Ica enggak capek," jawab Ica kikuk.


Harun menatap Sinta dan Ica bergantian, kemudian kembali menatap mata mamanya dan mengedipkan sebelah matanya. seketika ibu dan anak itu pun terbahak.


"Heh ?? kalian kenapa sih ??" Ica menyipitkan matanya menatap Harun.


"Enggak kok, yuk ke kamar, istirahat...


kita naik dulu yah man." pamit Harun lalu menarik tangan istrinya.


ceklek


Harun membuka pintu kamarnya.


"Kamu istirahat saja dulu, mas mau mandi sebentar," Harun berlalu ke kamar mandi meninggalkan Ica yang sudah duduk di pinggir kasur.

__ADS_1


15 menit kemudian


Harun keluar dari kamar mandi namun tak melihat Ica di tempatnya tadi duduk, Harun mengedarkan pandangannya dan melihat pintu balkon yang sedikit terbuka.


Harun mendorong pelan pintu itu, ia mendapati Ica sedang duduk melamun di pinggiran pagar kecil yang mengelilingi balkon.


Harun duduk di samping istrinya, meraih tubuhnya dan membenamkan kepala Ica di dadanya, Harun mengusap lembut pucuk kepala itu.


Ica mendongakkan kepalanya menatap wajah teduh suaminya, tak bersuara, ia menutup mata dan menikmati belaian lembut dari tangan suaminya.


"Kepikiran ayah bunda lagi ??" Ica menggeleng


"Terus kok melamun lagi ??"


"Lalu apa lagi.. ?? kamu dan lamunan mu itu ??" jawab Harun menaikkan tangannya


"Ayolah mas... aku tidak secengeng itu, aku hanya menikmati pemandangan ini." tunjuk Ica pada kebun kecil dan beberapa pohon yang dedaunanya bergoyang oleh hembusan angin.


Ok ok maaf, dari kemarin sampai tadi pagi aku melihatmu begitu muram, jadi ku fikir saat ini.....


"Enggak lah mas." ucap Ica memotong kalimat Harun, "Ica mandi dulu yah." katanya berlalu meninggalkan Harun.


Harun tersenyum meratapi kekonyolannya.


--------

__ADS_1


Melihat Harun yang sedang sibuk berkutat dengan laptopnya membuat Ica merasa bosan, ia memutuskan turun untuk menemui mama mertuanya, Ica berjalan menuju ruang tamu namun tak ada siapapun, ia pun berjalan mencari letak dapur.


"Ica kok turun sayang, kamu laper yah ?? maaf yah mama belum selesai masak." tanya Sinta melihat Ica yang mematung di dekat meja makan.


"Enggak kok ma, Ica bosan di kamar makanya kebawah mencari mama. lagi masak apa ? Ica bantuin yah ?"


"Lagi bikin sayur asem sama ikan gurame kesukaan Harun sayang. kamu duduk manis di sini saja mama sudah hampir selesai kok." jelas sinta kemudian mendudukkan tubuh menantunya itu di kursi.


Ica menatap punggung Sinta dan seorang ART yang sedang sibuk memasak. art tersebut beberapa kali mondar mandir untuk menata masakan yang sudah jadi ke atas meja.


"Mas Harun suka sayur asem ma ??" tanya Ica ketika Sinta meletakkan mangkuk berisi sayur.


"Iyaa sayang Harun suka, mmm tapi Harun enggak ribet kok kalau soal makanan. mama masak apapun dia enggak pernah protes." Ica hanya mengangguk menyimak perkataan mertuanya.


Kalau begitu sekarang Ica tolong panggilkan Harun yah, mama juga mau panggil papa soalnya makan malamnya sudah siap.


.


.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2