
Setelah selesai dengan semua perhiasan, Harun memutar tubuh Ica hingga memunggunginya, kini Harun menarik turun resleting yang melekat di baju Ica. "Sekarang bisa sendiri kan ?? Apa perlu mas bantuin buka bajunya juga,"ucap Harun menggoda Ica, bibirnya kini tersenyum jahil.
Sontak Ica bangun dari duduknya, "enggak usah mas, makasih!!" Ica berlari kecil menuju lemari mengambil sepasang baju tidur dan jilbab kemudian masuk ke kamar mandi.
Dari pada hanya sekedar ganti baju, Ica memutuskan untuk berendam sejenak melepaskan segala kepenatannya. "Huhhhh nyaman nya..." Seru Ica ketika menenggelamkan badannya ke dalam air hangat di bathtup.
Dua puluh menit kemudian..
Ica keluar dari kamar mandil sambil bersenandung ria dengan handuk kecil yang membungkus rambut panjangnya. Ica duduk bersandar di punggung tempat tidur sambil bermain handphone, ia tak sadar sejak tadi ada mata yang terus mengawasinya.
"Hemm, lucu banget sih nih anak, jangan bilang kalau dia lupa akan kehadiranku ini," gumam Harun, matanya tak sedetik pun berkedip memandang istrinya, sesekali ia tersenyum kecil melihat kelakuan istri kecilnya itu.
Harun berjalan menuju ke kamar mandi. "Mas Harun..." Ica tergaket, lupa akan kehadiran suaminya. Spontan Ica memegang kepalanya, "ehh yah ampun jilbab aku mana ??" panik Ica mencari jilbab yang lupa ia kenakan.
Lagi - lagi Harun tertawa kecil melihat kekonyolan istrinya itu.
"Mas ini mahrom kamu jadi kamu tidak akan berdosa jika mas melihat rambut mu itu," ucap Harun sinis, ia kembali berjalan ke kamar mandi. Saat pintu tertutup Harun kembali tertawa. "Hahah konyol banget sih tuh bocah, pasti kesal tuh aku sinisin kayak tadi."
"Yah ampun yah ampun malu banget sumpah, ngesselin banget sih tuh cowok es. Aku yang **** juga sih, ngapain pakai acara malu cuma gara - gara enggak pake jilbab dia kan suamiku. Ahhhh tapi tetap saja, enggak bisa apa tuh cowok nggak dingin kayak gitu," umpat Ica kesal.
******
__ADS_1
Dua jam kemudian.
"Cha... heii... bangun." Harun menepuk kecil lengan Ica.
"Hemm ..." Ica menggeliat dan kembali tidur setelah menarik selimut hingga menutupi wajahnya.
Melihat respon Ica, Harun memutuskan duduk di sampingnya lalu membelai lembut kepala gadis itu.
"Ica... Heii... Bangun dulu kamu udah di tungguin," ucap Harun lembut.
Hemm, Ica mengerjapkan matanya, meraih ponsel yang ada di sampingnya. "Heee, ini Baru jam lima mas, acaranya kan masih lama, Ica masih ngantuk, please !!" Rengek Ica.
Ica membangunkan tubuhnya malas, berjalan menuju kamar mandi untuk cuci muka.
Saat keluar dari kamar mandi Ica mengedarkan pandangannya namun tidak melihat keberadaan Harun. "Suami saya di mana mbak ??" Tanya Ica pada MUA dan fashion style yang sedang sibuk menata keperluannya.
"Sedang bersiap - siap bu di kamar sebelah." Ucap salah seorang wanita dengan sopan.
Ica menaikkan alisnya,, "ibu... ?? Memangnya saya setua itu yah, saya kan jauh lebih muda dari kalian," protes Ica memonyongkan bibirnya.
******
__ADS_1
Dua jam kemudian.
Lidya dan Sinta masuk ke kamar Ica.
"Wahh cantiknya anak bunda," seru Lidya yang terpesona melihat gadis kecilnya yang begitu anggun.
"Iya kamu cantik banget sayang," timpal Sinta.
"Apaan sih bunda,.. tante... " jawab Ica tertunduk malu.
Ehhh kok tante sih, mama dong sekarang kan kamu sudah jadi anak perempuannya mama.
"Hehe iyaa ma, maaf... Ica lupa." ucap Ica cengengesan.
.
.
.
.
__ADS_1