Harun Untuk Khaliesah

Harun Untuk Khaliesah
dua kepribadian


__ADS_3

Harun meletakkan kaki Ica pelan ke atas pangkuannya.. "Sakit ??" tanya nya saat melepaskan plaster itu pelan.


Enggak kok mas, itukan cuma luka kecil.


"Aneh banget sih nih orang, sebentar -sebentar tatapannya sedingin es, ehh beberapa saat kemudian jadi hangat, Punya dua kepribadian kali nih cowok", fikir Ica heran.


Mendengar jawaban menyepelehkan Ica, justru membuat Harun merasa kesal,


saat sudah menempelkan plaster luka yang baru di kaki Ica, Harun lalu beranjak dari duduknya berjalan ke arah meja dan mengambil makanan yang sudah ia pesan melalui layanan kamar.


"Kamu makan dulu sebelum tidur," ucap Harun yang kini sudah duduk di samping Ica untuk menyuapinya.


"Nanti saja mas, Ica mau pakai baju dulu," Balas Ica yang sudah ingin bangun dari duduknya.


Namun lagi - lagi gerakannya terhenti saat Harun menatapnya tajam dan kembali menyodorkan sendok di bibirnya.


Dengan pasrah, Ica pun melahap suapan itu. "Bunda.... ayah.... tolongin Ica,, hikss ." bathin Ica.


Tanpa sadar air bening yang sedari dari tadi ia tahan kini sudah membasahi pipinya. Refleks Ica mengusapnya cepat berharap Harun tidak melihatnya.


Harun yang ingin menyuapi Ica kembali, kaget melihat cairan bening itu, ia mengurungkan niatnya dan meletakkan piring itu di meja kecil yang ada di depannya.


"Kamu kenapa ??" tanyanya lembut mengusap sisa air mata Ica.


"Hehh, aku enggak kenapa - kenapa kok mas, maaf !!" ucap Ica memalingkan wajahnya.

__ADS_1


"Mas Harun bikin kamu takut yah ?? maaf, mas hanya mengkhawatirkanmu." Harun meraih tubuh Ica dan memeluknya erat, ia merasa bersalah karena sudah membuat istrinya menangis.


Ica kembali terisak, "maaf mas, Ica hanya belum terbiasa dengan sikap dinginnya mas Harun, Ica belum terbiasa dengan pernikahan dadakan ini."


"Maaf, maafkan mas Harun, tolong jangan menangis lagi, mas janji tidak akan bersikap dingin padamu." bujuk Harun mengusap lembut kepala Ica yang masih terisak dalam pelukannya.


"Sudah jangan menangis lagi, sekarang kamu makan lagi yah ??" Harun melepaskan pelukannya lalu kembali menghapus air mata Ica.


Dengan berhati - hati ia kembali menyuapkan makanan ke mulut istrinya.


Ica mengunyah makanan yang di berikan Harun dengan masih sesenggukan.


Setelah memberi minum pada Ica, Harun berjalan ke lemari mengambil sebuah hotpan dan kaos oblong longgar milik Ica,


Ica segera mengenakan pakaiannya setelah melihat Harun yang sudah merebahkan tubuhnya di sofa, setelah mengenakan baju ia langsung menarik selimut dan menutup matanya, tak butuh waktu lama Ica sudah tenggelam dalam mimpinya.


Harun melirik ke arah ranjang, berusaha mengintip apa yang sedang di lakukan istrinya. Melihat Ica yang sudah menutup mata, membuat Harun berjalan mendekat ke arah tempat tidur..


Harun menatap intens wajah Ica yang telah tertidur pulas dengan selimut yang menutup hingga lehernya.


"Maafkan aku Ica." Ucap Harun mencium pucuk kepala istrinya.


-----------------------


7:30

__ADS_1


tok tok tok


Harun berjalan untuk membuka pintu, mama papa dan mertuanya sudah berdiri di depan pintu dengan senyum yang mengambang.


"Pagi sayang, maaf kalau kami mengganggumu pagi - pagi begini", sapa Sinta.


"Apaan sih mamaku ini, siapa yang ngajarin kata ganggu itu," gemas Harun mencubit kedua pipi mamanya.


"Liat tuh mbak kelakuan anak semata wayang aku, selalu saja menganggap mamanya ini anak kecil." aduh Sinta pada Lidya.


Ke empatnya pun tertawa melihat kelakuan Harun. Yang di tertawakan malah cengengesan garuk tengkuk karena malu๐Ÿ˜‚๐Ÿ˜‚.


Lidya menghampiri Ica yang masih tertidur pulas,, "sayanggg heii bangun nak".


Mmmm bunda ... Ica masih ngantuk bun !!


"Sudah siang sayang, nak Harun saja sudah bangun sejak tadi, masa suaminya sudah bangun istrinya masih ngebo' gini kan malu sayang," omel Lidya memaksa anaknya bangun.


..


.


.


..

__ADS_1


__ADS_2