
Harun lalu membereskan berkas yang berserakan di meja dan ingin segera menyusul istrinya.
Ceklek, Harun membuka knop pintu .
"Happy birthday to you, happy birthday to you, happy birthday, happy birthday, happy birthday mas Harun." Ica bernyanyi dengan girangnya saat Harun membuka pintu, tangan nya memegang kue tart yang bertuliskan "happy birthday suamiku".
Harun mematung, ia begitu terharu melihat istrinya, matanya sudah terlihat berkaca - kaca.
"Dasar anak kecil, tahu dari mana ulang tahunku ??" Harun tersenyum mengacak rambut Ica.
"Apaan sih mas, bisa tidak sih mas Harun tidak merusak suasana." kesal Ica memanyunkan bibirnya. "lagian pakai tanya segala, aku kan istri kamu, masa iyah seorang istri enggak tahu ulang tahun suami sendiri. "
Harun terkekeh dan langsung mendaratkan ciuman ke bibir Ica yang sudah keriting karena kesal.
"Terimakasih sayang, ini ulang tahun yang paling indah untukku." Harun memeluk dan mencium kening Ica dengan lembut.
"Mas, sudah lepaskan, kuenya berat."
Harun segera mengambil kue di tangan Ica dan meletakkannya di atas meja. Lalu ia kembali memeluk tubuh istrinya.
"Untuk mu mas !!" Ica menyodorkan sebuah kotak kecil pada Harun.
Dengan bahagia Harun menerima kotak itu dan segera membukanya.
"Maaf, aku tidak tahu harus memberimu apa," lanjut Ica saat melihat Harun membuka pelan pita pengikat kotak tersebut.
Harun memegang dompet Dari kotak itu dengan senyum bahagia.
"Hanya benda itu yang ku fikir akan selalu kamu bawa," tambah Ica.
"Sudah selesai ?? Apa aku sekarang sudah boleh memelukmu lagi ??" sindir Harun melihat Ica yang terus saja memberi penjelasan.
__ADS_1
Kamu tidak perlu repot memikirkan hal - hal seperti ini, melihatmu tersenyum sudah sangat membuatku bahagia.
"Kehadiranmu dalam hidupku adalah kado terindah yang ku dapatkan. Terimakasih untuk hari ini." Harun semakin mengeratkan pelukannya, berkali - kali ia mengecup pucuk kepala Khaliesah-nya.
Ica sungguh sangat bersyukur bisa di cintai laki - laki seperti Harun. Lelaki yang begitu hangat.
Harun berjalan ke meja kerja, lalu mengambil dompetnya yang tergeletak, kemudian ia kembali duduk di samping Ica.
"Ok, mulai sekarang aku akan memakai ini," katanya dengan semangat memindahkan isi di dompetnya.
Ica melihat sebuah foto yang buru - buru di sematkan Harun ke dompet itu, sekilas ia melihat seorang remaja yang mengenakan seragam SMP yang sedang duduk di bawah pohon.
Ica memiringkan kepalanya, mencoba menebak siapa gadis itu.
"Sudahlah, mungkin itu hanya foto saudaranya saja." gumam Ica berusaha menghilangkan fikiran buruknya.
"Yakin hadiahnya hanya ini saja ??" Harun menatap dengan tersenyum jahil.
Harun mendekatkan tubuhnya perlahan, menyibakkan anak rambut Ica lembut, lalu menatap matanya intens. "Yakin tidak ingin memberikan hadiah yang lain," lirih Harun semakin mendekatkan wajahnya.
Ica menelan salivanya kasar, "maaf mas aku tidak membeli hadiah lainnya lagi." Kata Ica pelan dengan wajah tertunduk.
Ia sangat merasa tak nyaman dengan tatapan suaminya.
Harun mengangkat pelan dagu Ica, "aku tidak menginginkan barang apapun lagi." katanya lembut kembali menatap mata Ica.
Hati Ica semakin gusar, ia paham kado apa yang di maksudkan suaminya dan ia juga tahu akan kemana arah adegan itu berakhir.
Apa aku sangat jahat jika menolaknya lagi, sudah lima bulan, dia sangat sabar menungguku, pasti berat baginya menahan hasratnya begitu lama.
Harun mendaratkan bibirnya di atas bibir Ica, ******* lembut bibir tipis itu. Ica masih Mematung, mencoba berdamai dengan pikiran dan hatinya.
__ADS_1
Dan tanpa sadar ia sudah membalas kecupan hangat suaminya, nafas Harun semakin memburu mendapat respon dari Ica, semakin dalam ia ******* bibir itu, ia kalungkan kedua tangan Ica di lehernya lalu mengangkat pelan tubuh kecil istrinya ke atas ranjang.
"Apa aku boleh melakukannya sekarang ??" tanya Harun dengan nafas beratnya. Ica tidak menjawab, ia hanya terus menatap Harun dengan lembut.
Tatapan hangat itu bagaikan angin segar untuk Harun, penantian nya selama lima bulan ini. Akhhhhh, rasanya Harun sudah tidak bisa berfikir lagi, hasratnya yang begitu besar merobohkan pikiran - pikiran di kepalanya.
Perlahan ia melepas pakaian yang menutupi tubuh istrinya dan kembali mencumbu lembut tubuh polos itu.
Harun begitu berhati - hati ia tahu ini yang pertama bagi Ica, jadi ia tidak ingin menyakiti istri kecilnya itu.
Malam pertama yang begitu panjang dan melelahkan, Harun benar - benar melampiaskan hasratnya yang sudah tertunda cukup lama.
"Terimakasih sayang, aku sangat mencintaimu".
..
..
..
..
Haii Haii, maaf yah up kali ini agak lama, diriku sedang kurang sehat.
Terimakasih juga untuk kalian yang masih support novel ini.
Terimakasih teruntuk kalian yang meluangkan waktu memberi masukan pada author yang awam ini.
Kritik dan saran dari kalian adalah motivasi untukku.
selamat membaca,
__ADS_1
peluk dan cium untuk kalian semua 😘😘😘